Inilah sebab mengapa berita bohong cepat menyebar (meski tidak dipercayai)

Banyak orang yang merasa tidak bersalah meski berkali-kali menyebarkan berita bohong - meski sebenarnya mereka pun tidak percaya dengan berita itu.

Penemuan para peneliti dari London Business School mungkin dapat menjelaskan penyebabnya.

Peneliti utama Daniel A. Effron mengatakan bahwa temuan itu, berdasarkan penelitian dengan 2.500 orang, dapat memberikan implikasi penting bagi politisi dan perusahaan media sosial yang mencoba menghentikan penyebaran berita palsu.

Penelitian Effron menemukan bahwa sekali orang telah melihat berita utama, mereka 'tidak merasa bersalah' karena telah menyebarkannya.

"Kami menyarankan bahwa upaya untuk melawan informasi yang salah harus mempertimbangkan bagaimana orang menilai moralitas penyebarannya, bukan hanya apakah mereka mempercayainya," katanya.

Relawan diminta untuk menilai seberapa tidak etis atau dapat diterima mereka pikir untuk menyebarkan berita palsu, dan seberapa besar kemungkinan mereka mendapat "suka," berbagi, dan memblokir atau berhenti mengikuti orang yang mempostingnya.

Para peneliti menemukan bahwa partisipan menilai berita utama yang mereka lihat lebih dari satu kali kurang etis untuk dipublikasikan daripada berita utama yang mereka tunjukkan untuk pertama kalinya.

Peserta juga mengatakan mereka lebih cenderung "suka" dan berbagi tajuk yang sebelumnya terlihat dan cenderung memblokir atau berhenti mengikuti orang yang mempostingnya.

Para peneliti mengatakan bahwa upaya untuk mengurangi informasi yang salah biasanya berfokus pada membantu orang membedakan antara fakta dari fiksi.

Facebook, misalnya, telah mencoba memberi tahu para pengguna ketika mereka mencoba berbagi berita yang oleh para pemeriksa fakta dianggap palsu.

Tetapi strategi seperti itu bisa gagal jika pengguna merasa lebih nyaman berbagi informasi yang salah yang mereka tahu palsu ketika mereka melihatnya sebelumnya.

"Hasilnya harus menarik bagi warga di negara demokrasi kontemporer," tambah Effron. "Informasi yang salah dapat memicu polarisasi politik dan melemahkan demokrasi, jadi penting bagi orang untuk memahami kapan dan mengapa berita itu menyebar."