Inilah Sumber Konflik di Ogan Ilir

TEMPO.CO, Jakarta:  Banyak orang baru mengetahui ada konflik antara petani dan PTPN VII Cinta Manis di Ogan Ilir, Sumatera Selatan, setelah peristiwa penembakan bocah 12 tahun, Angga Prima bin Darmawan, pada 27 Juli 2012 lalu.

Padahal, konflik di sana sudah mendidih lama. Pemicunya adalah koflik agraria alias sengketa hak atas tanah.  Di lapangan, masyarakat Ogan Ilir yang tergabung dalam Gerakan Petani Penesak Bersatu (GPPB) sudah lama berhadap-hadapan dengan  PTPN VII Cinta Manis. Keterlibatan polisi, makin menambah ruwet persoalan.

Menurut Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria, Idham Arsyad, pemicu konflik Ogan Ilir adalah tindakan PTPN VII Cinta Manis  yang menguasai lahan hingga 20.000 hektar. Padahal,  izin hak guna usaha (HGU) PTPN VII Cinta Manis hanya 6.500 ha.  »Ini jelas-jelas menyalahi aturan dan melebihi izin yang dimilikinya,” kata Idham.

Masyarakat setempat yang hidup di 17 desa terpisah, jelas keberatan. Mereka merasa tanah yang dipakai PTPN adalah milik mereka. Untuk itu, mereka sudah melakukan sejumlah langkah. Pada 2 – 4 Juli 2012, sekitar 600 orang perwakilan petani Ogan Ilir dari 17 desa telah datang ke Jakarta, untuk menyampaikan aspirasi dan melakukan aksi bersama ke beberapa kantor lembaga negara, mulai dari Kantor Badan Pertanahan Nasional, Kementrian BUMN, DPR dan Mabes Polri.

»Tapi setelah aksi massa itu, situasi di lapangan bukannya semakin aman, akan tetapi semakin memanas oleh tindakan intimidasi dan ancaman penangkapan apara kepolisian,” kata Idham.  

Pada 16 Juli 2012, di Kementrian BUMN, 60 pimpinan desa dan pendamping bertemu dengan pejabat Kementrian BUMN. Hasilnya mengecewakan. Kementrian BUMN, sebagai induk dari PTPN VII, malah menyarankan masyarakat untuk menempuh jalur hukum saja.

Situasi di lapangan di 17 desa semakin memanas. Para pimpinan petani dan pendamping mulai dicari dan ditangkapi. Situasi mencekam ini ditandai dengan terjadinya penangkapan 12 orang petani Ogan Ilir pada 19 Juli 2012. Operasi pengamanan dan pencarian aparat Brimob pun terus gencar dilakukan untuk menyisir desa-desa. Operasi macam inilah yang akhirnya berakhir dengan aksi kekerasan aparat yang memakan korban nyawa seorang bocah 12 tahun pada 27 Juli 2012.

WAHYU DHYATMIKA

Berita Terpopuler:

Macaulay Culkin Hidupnya Tinggal 6 Bulan?

Pintu KPK Digembok, Pengamanan Siaga

KPK: Langkah Polisi Persulit Kami

Djoko Susilo Dinonaktifkan Sebagai Gubernur Akpol

Rhoma Akan Dikawal Soneta Fans Club ke Panwas

Perenang Keturunan Jawa, Idola Baru Belanda

SBY Sampaikan Hal Penting di Cikeas Sore Ini

SBY Salahkan Pemberitaan Media Soal Rohingya

Polisi Bersenjata Serbu Rumah Miley Cyrus

Begini Jaringan Pornografi Anak Itu Terendus

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.