Inilah Target Harga Saham Tambang 2012

  • Singapura jadi raja pemberi utang ke Indonesia Rp 582,4 triliun

    Singapura jadi raja pemberi utang ke Indonesia Rp 582,4 triliun

    Merdeka.com
    Singapura jadi raja pemberi utang ke Indonesia Rp 582,4 triliun

    MERDEKA.COM. Bank Indonesia (BI) mengeluarkan data terbaru mengenai utang luar negeri Indonesia. Per Februari 2014, utang luar negeri Indonesia tembus USD 272,1 miliar atau setara dengan Rp 3107,4 triliun. utang ini terdiri dari utang luar negeri pemerintah dan bank sentral sebesar USD 129 miliar serta utang luar negeri swasta sebesar USD 143 miliar. ... …

  • Utang luar negeri Indonesia konsisten naik, tembus Rp 3107 T

    Utang luar negeri Indonesia konsisten naik, tembus Rp 3107 T

    Merdeka.com
    Utang luar negeri Indonesia konsisten naik, tembus Rp 3107 T

    MERDEKA.COM. Bank Indonesia (BI) melansir data terbaru mengenai utang luar negeri Indonesia. Per Februari 2014, utang luar negeri Indonesia tembus USD 272,1 miliar atau setara dengan Rp 3107,4 triliun. Angka utang ini konsisten naik dari bulan sebelumnya yang hanya USD 269,7 miliar. …

  • KAU anggap wajar utang asing Indonesia terus meningkat

    KAU anggap wajar utang asing Indonesia terus meningkat

    Merdeka.com
    KAU anggap wajar utang asing Indonesia terus meningkat

    MERDEKA.COM. Data terbaru mengenai utang luar negeri Indonesia yang dilansir Bank Indonesia (BI) per Februari 2014, menunjukkan angka yang konsisten naik. Utang asing Indonesia menembus USD 272,1 miliar atau setara dengan Rp 3.107,4 triliun dibanding dari bulan sebelumnya yang hanya USD 269,7 miliar.Jika dibandingkan bulan Februari tahun lalu, angka utang ini juga naik. Di mana Februari tahun lalu utang luar negeri Indonesia hanya USD 253,3 miliar. …

INILAH.COM, Jakarta – Pertambangan masih jadi sektor saham favorit 2012. Selain alasan kenaikan harga minyak, juga faktor fundamental emiten. Inilah target harga sahamnya di tahun naga.

Kepala Riset Henan Putihrai Securities Felix Sindhunata mengaku masih menyukai saham-saham di sektor batu bara. Outlook untuk industri ini dinilainya masih menarik di tengah resesi Eropa dan pertumbuhan ekonomi AS yang melambat. 

Menurutnya, kebutuhan global atas fossil fuels menjadi dasar pertimbangan. “Kenaikan harga minyak akibat krisis politik di Timur Tengah dapat menopang harga batu bara,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, baru-baru ini.

Sementara untuk pertambangan metal yang sifatnya lebih cyclical, Felix melihat underlying metal masih cukup tertekan dengan risiko perlambatan ekonomi global pada 2012. Karena itu, saham-saham metal pun dapat status underperform. “Risiko utama dari sektor ini adalah pergerakan harga acuan komoditas global,” timpalnya.

Saham pilihannya di sektor pertambangan di antaranya PT Bukit Asam (PTBA.JK). Dengan target Price Earnings Ratio (PER) 2012 di level 9,5 kali, PTBA ditargetkan Rp23.040; PT Adaro Energy (ADRO.JK), dengan target PER 2012 di level 10,5 kali, target harga sahamnya di level Rp2.560;

Lalu, PT Indo Tambang Raya (ITMG.JK) dengan PER 2012 di level 8,1 kali, target harganya Rp47.832; PT Harum Energy (HRUM.JK) dengan PER tahun depan di level 8,9 kali, ditargetkan Rp10.280; PT Bumi Resources (BUMI.JK) dengan target PER 8,5 kali, target harga Rp2.736 dan PT International Nickel Indonesia (INCO.JK) dengan PER 11,6 kali, ditargetkan Rp3.796.

Sementara itu, Kepala Riset eTrading Securities Betrand Raynaldi hanya memberikan outlook dua emiten di sektor pertambangan yakni PT Harum Energy dan PT International Nickel Indonesia untuk 2012 yang mendapat julukan tahun naga ini.

Menurutnya, melalui anak perusahaan dan mitra usahanya, HRUM memiliki 3 tambang batu bara dengan total 47.000 Ha, yang jadi luas konsesinya. HRUM juga merupakan produsen batubara ke enam (6) terbesar di Indonesia.

Di sisi lain, emiten juga mengalami pertumbuhan produksi yang pesat pada 2007-2010 dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 38%. “Perseroan juga menargetkan untuk melipatgandakan produksi batubara 2010, pada produksi 2012,” ujarnya.

Pada saat yang sama, lanjutnya, operasional emiten juga terintegrasi secara vertikal antara infrastruktur dengan rantai pasokan (supply chain) pada satu tempat. Karena itu, untuk mendukung kegiatan operasionalnya, HRUM memiliki akses sendiri, seperti: jalan pengangkutan, lokasi tambang, fasilitas pemuatan, dan transportasi (tongkang).

Apalagi, HRUM juga memiliki posisi kas yang kuat dengan debt to equity ratio (DER) yang sangat rendah. Betrand mengakui sedang meninjau nilai intrinsik HRUM. Tapi, berdasarkan konsensus Bloomberg, target harga HRUM 2012 di level Rp10.061 per saham yang mencerminkan estimasi price earnings ratio (PER) tahun ini di level 11,5 kali.

Sementara itu, INCO, kata Betrand, merupakan produsen nikel terbesar di dunia dengan total produksi 76 ribu metrik ton pada 2010 dan perseroan berencana untuk menggenjot produksinya hingga 90 ribu metrik ton pada 2015.

Di sisi lain, efisiensi akan menjadi program utama INCO tahun ini untuk terus menekan biaya produksi dalam waktu lima tahun ke depan, mulai dari menggantikan sumber energi bahan bakar minyak menjadi water turbine (Karebbe project).

INCO juga memiliki biaya produksi tanpa memperhitungkan royalti (cash cost) yang paling rendah di industrinya yakni sebesar US$10.100 per metrik ton. “Karena itu, secara fundamental kami menargetkan INCO di level Rp3.950 untuk 2012 yang merefleksikan estimasi PER di level 10,6 kali,” imbuh Betrand. [mdr]

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...