Inner Child Tidak Selalu tentang Luka Masa Kecil

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Mengenal inner child juga berarti memahami bahwa istilah ini tidak hanya merujuk pada luka masa kecil. Secara utuh, inner child berarti segala memori yang jadi bagian diri sewaktu kecil, dan ini juga termasuk rentetan kenangan menyenangkan di dalamnya.

"Yang jadi masalah itu wounded inner child," kata Saskhya Aulia Prima, psikolog, sekaligus co-founder Tiga Generasi dalam webinar ke-3 iStyle.id bertajuk "Overcome Inner Fear Like Ko Moon Young in K-Drama It's Okay to Not Be Okay, Jumat (29/10/2021).

Kondisi ini secara umum, kata Saskhya, akan terlihat jika seseorang makin mendewasa dan berelasi sehari-hari. "Luka masa kecil ini sering kali membuat seseorang jadi enggak bisa autentik. Misalnya, padahal ia orangnya hangat dan penyayang, tapi karena belum berdamai dengan masa lalu, orang ini hanya memperlihatkan sisi dinginnya saja pada banyak orang," tuturnya.

Yang harus digarisbawahi, Saskhya menegaskan, seseorang tidak dilahirkan dengan ketakutan tertentu. Alih-alih, ketakutan muncul selama pembelajaran dalam hidup. "Bisa dari situasi lingkungan atau kondisi trauma yang sangat membekas," imbuhnya.

Berdasarkan usia, setiap orang punya rasa takut yang wajar. Kendati dalam situasi yang sama, belum tentu setiap orang punya bentuk ketakutan serupa. "Hasilnya (bentuk ketakutan) bisa sangat berbeda bagi setiap orang," Saskhya menuturkan.

Luka-luka masa kecil pun bisa disembuhkan dengan berbagai metode, tergantung seberapa dalam kondisi itu memengaruhi psikis seseorang. Yang ringan bisa dihilangkan dengan melatih diri untuk tidak overthinking.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Kapan Butuh Bantuan Profesional?

Saskhya Aulia Prima, psikolog dan co-founder Tiga Generasi (kanan) dalam webinar ke-3 iStyle.id
Saskhya Aulia Prima, psikolog dan co-founder Tiga Generasi (kanan) dalam webinar ke-3 iStyle.id

Di samping itu, Saskhya menyarankan untuk berterima kasih setiap hari pada diri sendiri. "Waktu mau tidur, sempatkan untuk berterima kasih pada diri sendiri karena sudah melewati satu hari lagi yang mungkin tidak mudah," ujarnya.

Namun, bila luka masa kecil terus memengaruhi, bahkan mengganggu keseharian, itu merupakan "bendera merah" untuk mencari pertolongan profesional. "Karena dalam kasus ini butuh proses panjang dan konsisten untuk menyembuhkan trauma mendalam," ucap Saskhya.

Dalam mengukur isu mental, ia mengingatkan bahwa tidak ada timbangan yang sama. "Karena itu penting untuk menyadari apakah Anda memiliki luka masa lalu yang mengganggu atau tidak," katanya.

Mengakui Luka Masa Kecil

Ilustrasi kesehatan mental Credit: unsplash.com/Sydney
Ilustrasi kesehatan mental Credit: unsplash.com/Sydney

Setelah sadar bahwa ada luka masa kecil yang masih membayangi, Saskhya mengatakan penting untuk mengakui eksistensi luka tersebut. "Kemudian temukan dampaknya ini ke mana. Memengaruhi kepercayaan diri misalnya," tuturnya.

Ia menegaskan, penting untuk membangun relasi yang sehat dengan diri sendiri sebelum menerapkan perilaku serupa pada orang lain. "Kita tidak bisa maksimal memberi affection pada orang lain bila emosi itu sebenarnya tidak diberikan lebih dulu ke diri sendiri," katanya.

Beberapa wounded inner child, ia menyebut, disembuhkan orang dengan membentuk support system tersendiri. "Misalnya tidak mendapat kasih sayang cukup dari keluarga, seseorang bisa membentuk 'keluarga baru' dengan memiliki teman, sahabat, atau pasangan yang menambal ruang itu," ujar Saskhya.

Infografis Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi COVID-19

Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel