Inovasi Teh Gelas Sekali Pakai, Bisa Tumbuhkan Bibit Usai Digunakan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Gelas sekali pakai jadi andalan banyak kedai minuman, baik kopi atau teh, untuk melayani pelanggan. Imbasnya, sampah gelas menumpuk yang tak jarang tercecer dan sulit diolah.

Sebuah solusi dihadirkan perusahaan rintisan di Polandia, Picup, lewat inovasi gelas yang multifungsi. Dikutip dari laman picup.pl, produk didefinisikan sebagai cangkir kertas yang sepenuhnya dapat terurai secara alami.

Bagian dalam gelas ditutupi bahan tanaman yang tidak dimodifikasi secara genetik yang dikenal sebagai PLA. Di dasar cangkir dilapisi filter untuk mencegah ampas kopi atau teh bergerak ke bagian atas.

"Filter kami seluruhnya terbuat dari bahan nabati alami - pisang, dan lebih khusus lagi campuran abaca - serat tahan lama yang diekstraksi dari pelepah daun pisang Manila," demikian penjelasan dalam situs tersebut.

Filter tersebut sangat tipis sehingga saat air panas dituangkan, konsumen tak bisa melihat lapisannya. Meski begitu, filter itu disebut sangat tahan lama sehingga bisa dipakai beberapa kali.

Picup mengklaim sebagai produsen gelas kertas pertama di Eropa yang bersifat ramah lingkungan. Idenya muncul dari tingginya limbah teh celup setiap tahun di benua biru. Disebutkan bahwa data statistik menyebutkan 77 persen teh yang dikonsumsi adalah teh celup.

Mayoritas material kantong teh celup menggunakan polipropilen yang notabene adalah plastik. Para ilmuwan dari Universitas McGill kemudian meneliti pengaruh mikroplastik dan teh celup. Berdasarkan hasil riset ditemukan bahwa dalam proses menyeduh sekantong teh melepaskan 11,6 miliar mikroplastik dan 3,1 miliar partikel nanoplastik ke dalam air.

Cara Penggunaannya

Bagian dalam gelas kertas sekali pakai. (dok. picup.pl)
Bagian dalam gelas kertas sekali pakai. (dok. picup.pl)

Saat ini, Picup baru menyediakan teh seduh yang terdiri dari empat varian, yakni green tea with lemon and ginger, green tea lemon, green tea classic, dan earl grey black tea. Tiap-tiap varian menawarkan manfaat berbeda, seperti green tea lemon yang dapat menetralisir racun dan menurunkan kolesterol, dan earl grey black tea yang kaya antioksidan untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.

Cara menyeduh teh di gelas ini relatif mudah. Cukup tuangkan air dengan suhu antara 70-90 derajat celcius, kemudian tunggu selama 30 detik. Gelas ini dapat diisi ulang hingga dua atau bahkan tiga kali.

Bila sudah tak digunakan lagi, bunga dan daun teh di dasar bisa dimanfaatkan sebagai kompos. Ditambahkan dengan tanah, Anda bisa menanam bibit tanaman di dalam wadah tersebut. Dengan demikian, usia pakai gelas menjadi lebih panjang.

"Mulai 5 Februari, tersedia di toko online kami," tulis mereka di Instagramnya.

Sejarah Kantung Teh

Ilustrasi Teh Kantung Celup Credit: pexels.com/TeaCora
Ilustrasi Teh Kantung Celup Credit: pexels.com/TeaCora

Dikutip dari laman Picup, sejarah kantong teh bermula dari inovasi yang dihadirkan Thomas Sullivan, seorang importir teh asal New York, pada 1908. Dia menjadi orang pertama yang memasarkan teh dalam kantong dan berkontribusi pada peningkatan yang signifikan dalam popularitas minuman itu di seluruh dunia.

Produsen awalnya menggunakan sutra dan kain kasa sebagai kantong celup. Penggunaan kantong membuat teh semakin populer sejak 1950-an. Saat ini, sekitar 60 miliar cangkir teh dikonsumsi setiap tahun di Inggris saja.

Saat sutra dan kain kasa makin menyusut suplainya dan harganya melambung, produsen pun beralih pada plastik. Polipropilen menjadi bahan kantung teh utama di dunia, jumlahnya mencapai 96 persen dari total teh celup yang diproduksi di dunia. Produsen menyukainya karena sifatnya, kantung lebih rapat dan bentuknya tetap. (Jihan Karina Lasena)

Teh Artisan Lokal

Infografis teh artisan lokal gaet pasar kekinian. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis teh artisan lokal gaet pasar kekinian. (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel