Inovatif Sabun Cuci dari Minyak Jelantah dan Bonggol Jagung

Dian Lestari Ningsih, awwalunisaak-283
·Bacaan 1 menit

VIVA – Konsumsi minyak goreng banyak digunakan sebagai media menggoreng bahan pangan, menambah cita rasa dan membentuk tekstur pada pembuatan roti. Tingginya penggunaan terhadap minyak goreng berbanding lurus dengan limbah yang dihasilkan. Limbah yang dihasilkan biasa disebut minyak jelantah.

Inovasi ini dibuat oleh mahasiswa Jurusan Kimia UIN Walisongo Semarang. Berdasarkan pendidikan yang saat ini ditempuh dan keresahan terhadap lingkungan sekitarlah yang menjadi landasan kenapa ide tersebut muncul.

“Masa pandemik ini saya harus mendorong masyarakat supaya produktif, dan menghilangkan sikap komsumtif dimulai pada lingkungan sekitar,”ujar mahasiswa berusia 20 tahun itu.

Proses pembuatan sabun, melingkupi 4 tahap pada minyak jelantah:

1.Proses desciping: dimana minyak jelantah dibersihkan dari sisa-sisa bumbu dengan cara dicampurkan dengan air dan didihkan sampai volumenya menjadi setengah
2.Proses pemurnian: dimana dicampurkan dengan KOH dan minyak sudah mulai mengental
3.Proses netralisasi: tahap ini melingkupi arang tongkol jagung ditambahkan pada didihan adonan dan warna minyak menjadi pucat (putih)
4.Proses saponikasi: proses penyabunan, dimana asam lemak di dalam kondisi basa akan mengasilkan gliserol dan sabun.

Pembuatan yang relatif sederhana dan tidak membutuhkan banyak biaya membuat peserta pelatihan tertarik untuk membuat sendiri. “Aplikatif untuk ibu rumah tangga” respon tersebut disampaikan peserta PNS berumur 50 tahun. “Jadi pingin buat sendiri,” respon lain yang disampaikan oleh ibu rumah tangga berusia 40 tahun.

Berdasarkan kuesioner yang diberikan kepada peserta respon positif terhadap pelatihan dan menambah pengetahuan bagi masyarakat tentang pemanfaatan limbah tidak terpakai. Harapan besar kedepan dengan dukungan pemerintah inovasi dari mahasiswa UIN Walisongo ini dapat diterapkan.