Inpex dan Shell Diminta Tak Sandera Proyek Blok Masela

Merdeka.com - Merdeka.com - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPR RI Komisi VII. Dia meminta kepada Inpex Corporation dan Shell untuk tidak menyandera proyek Abadi Masela.

"Kami terus memaksa Inpex dan Shell untuk tidak menyandera proyek ini (Abadi Masela) karena ini strategi masing-masing korporasi," ujar Dwi dalam RDP DPR RI Komisi VII, Jakarta, Rabu (16/11).

Sebelumnya ketika Shell melepas participating interest (PI) yakni sebanyak 35 persen pada proyek Blok Masela, maka tentu yang mendapatkan PI tersebut yakni Inpex. Namun, negosiasi yang dilakukan Inpex dan Shell gagal.

"Ada waktu itu untuk negosiasi antara Inpex dengan Shell yang kemudian negosiasi ini gagal sehingga Inpex tidak mengambil alih," terang dia.

Ketika negosiasi tersebut gagal, Shell melakukan bidding tender secara terbuka. Dwi pun mengakui pada saat lelang terbuka tersebut ada beberapa yang tertarik untuk masuk ke Blok Masela.

Kendati begitu, pada update data posisi terakhir Inpex sudah mencoba membangun kolaborasi strategi dengan Pertamina sebagaimana yang telah diarahkan oleh pemerintah waktu itu. "Pertamina sudah melakukan data room study dan dijanjikan oleh Pertamina November ini menyampaikan namanya non founding over kepada Shell. Kami sedang menunggu itu," jelas dia.

Di sisi lain, Dwi pun menambahkan bahwa Petronas juga tertarik untuk masuk dan kalau mungkin bisa bekerja sama dengan Pertamina dalam hal pergantian Shell.

Sebagai informasi, Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Fatar Yani Abdurrahman menyampaikan, petronas berminat untuk mengelola proyek migas Blok Masela, di Tanimbar Maluku. Sebelumnya pada tahun 2020, Shell memberitahukan untuk mundur dari proyek pengembangan Blok Masela.

"Ada yang nawarin Petronas dia tertarik, kita masih kaji. Petronas tinggal nunggu komitmen pemerintah, mekanisme masih diomongin lanjut. Cuma menyatakan berminat," ujar Fatar, kepada media, Jakarta, (15/11).

Kemunduran yang dilakukan oleh Shell tersebut membuat SKK Migas merasa kecewa terhadap Shell. Menurut Fatar pemerintah kecolongan karena keputusan yang diambil Shell untuk mundur dari Blok Masela.

"Kita kecolongan ketika Shell, pada waktu itu kita yang pertama kali bikin dan bagus sekali di Indonesia dalam term on condition fiskal-nya, dia gak nerapin sampai produksi," terang Fatar. [azz]