Insentif Hulu Migas Disebut Jadi Jalan Genjot Produksi Nasional

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah diminta turut memberi perhatian kepada sektor hulu migas. Hal ini mengingat peran strategis sektor hulu ini sebagai sumber energi transisi di tengah dorongan global untuk beralih kepada energi baru terbarukan (EBT).

Industri hulu migas, perlu mendapatkan perhatian lebih demi menggaet investasi lebih besar. Dengan demikian, cita-cita peningkatan produksi migas untuk menutup kebutuhan energi Indonesia di masa depan, juga dapat direalisasikan.

"Secara ekonomi, sektor ini pun masih menjadi salah satu sumber penerimaan negara yang utama sekaligus komponen utama penggerak perekonomian nasional," kata Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro melansir Antara di Jakarta, Senin (22/11/2021).

Peningkatan investasi hulu migas dibutuhkan untuk mendongkrak produksi. Pemerintah juga diminta mewaspadai laju penurunan kinerja sumur-sumur migas di tanah air.

"Kinerja sumur berdampak langsung pada produksi migas nasional. Hal yang paling krusial adalah untuk mengantisipasi produksi migas yang menurun. Padahal konsumsi kita naik terus," kata Komaidi dalam keterangan tertulisnya.

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Usaha Hulu Migas (SKK Migas), lifting migas nasional mencapai 1,64 juta barel setara minyak per hari (MBOEPD) per kuartal III 2021.

Rinciannya, lifting minyak sebesar 661 ribu barel minyak per hari (BOPD), atau 93,8 persen dari target APBN yang ditetapkan 2021 sebesar 705 ribu BOPD.

Sedangkan lifting gas sebesar 5.481 MMSCFD (standar kaki kubik per hari) dari target APBN sebesar 5.638 MMSCFD atau tercapai 97,2 persen.

Cadangan minyak terbukti Indonesia saat ini sekitar 3,8 miliar barel (BBO) dan cadangan terbukti gas sekitar 77 triliun kaki kubik (TCF).

Cadangan gas yang jauh lebih besar dibanding minyak, menjadi modal Indonesia untuk sukses mengawal transisi energi, karena gas yang dianggap sebagai sumber energi bersih telah ditetapkan sebagai substitusi utama energi transisi.

Dilihat dari kontribusi hulu migas tersebut, Komaidi menilai sektor ini masih realistis untuk terus dijaga dan dikembangkan. Salah satu cara yang harus dikedepankan adalah pemberian insentif.

Menurut dia, pemerintah sebenarnya sudah mulai terbuka terhadap insentif sering diusulkan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Inisiatif dari SKK Migas agar blok Mahakam mendapatkan insentif dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) patut untuk diduplikasi.

"Insentif ke blok Mahakam saya kira positif, upaya-upaya seperti blok Mahakam saya kira yang perlu diduplikasi," ujar Komaidi.

Berbagai paket insentif tersebut memang diperlukan guna menggenjot investasi. Beberapa KKKS mengaku sudah memiliki program pengembangan blok migas yang bisa meningkatkan produksi namun proyek tersebut perlu insentif agar menjadi ekonomis.

Ketika proyek bisa dijalankan diharapkan bisa turut mengerek kinerja produksi sehingga bisa ikut membantu dalam pencapaian target produksi migas tahun 2030 dari SKK Migas yakni satu juta barel minyak per hari dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (bscfd).

Wadah

Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Tenaga Ahli Kepala SKK Migas, Luky Agung Yusgiantoro, mengatakan secara konsisten lembaganya mengusahakan pencapaian target tersebut dan memonitor pencapaian dari usaha-usaha yang dilakukannya.

Salah satu wadah melalui gelaran The 2nd International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas 2021 yang akan berlangsung dari 29 November hingga 1 Desember 2021.

"Melalui konvensi ini, kami berharap kolaborasi antar stakeholder yang sudah terbangun sejak tahun lalu, dapat semakin ditingkatkan, sehingga usaha peningkatan investasi dan produksi, dapat dilakukan semakin massif. Seperti penyelenggaraan konvensi sebelumnya, konvensi virtual ini juga terbuka untuk umum secara gratis, silahkan mendaftar di www.iogconvention.com," ujarnya.

Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto menyatakan peningkatan produksi migas harus terus diupayakan.

Hal itu selain untuk menjawab kebutuhan akan energi fosil yang tidak bisa dengan singkat menurun begitu saja namun juga bisa ada pengalihan penggunaan migas untuk sektor industri petrokimia.

"Industri petrokimia bisa menjadi peluang, sebagai produk turunan dari migas. Selain itu, demand migas untuk sektor industri manufaktur masih dimungkinkan sampai tahun 2060," kata Mulyanto.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel