Insiden di All England Ganggu Fokus Indonesia Hadapi Olimpiade Tokyo

Ridho Permana
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menyusul dicoretnya tim bulutangkis Indonesia dari BWF Word Tour Super 1000 All England Open 2021, Komite Olimpiade Indonesia menyesalkan dan sangat kecewa dengan keputusan tersebut.

Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia, Raja Sapta Oktohari mengatakan insiden ini berpotensi mengganggu fokus atlet bulutangkis Indonesia menghadapi Olimpiade Tokyo yang semakin dekat.

“Pada prinsipnya, kami sangat kecewa dengan apa yang terjadi pada atlet-atlet Indonesia di turnamen All England. Walaupun All England tidak memiliki implikasi terhadap kualifikasi Olimpiade Tokyo, tapi dengan fakta bahwa Olimpiade sudah sangat dekat, hal ini sangat mengganggu konsentrasi dan persiapan para atlet,” ujar Okto, Kamis 18 Maret 2021.

Okto menegaskan Komite Olimpiade Indonesia akan bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mempersiapkan langkah-langkah terbaik demi memberikan keadilan bagi para atlet. Serta meminta pertanggungjawaban penyelenggara dan federasi bulutangkis dunia (BWF).

“Bulutangkis sudah seperti ideologi di Indonesia karena penggemarnya sangat banyak. Apa yang terjadi di All England sangat menyakiti hati masyarakat Indonesia. Kami akan menyampaikan protes kepada BWF dan organisasi terkait, serta memfasilitasi dan berkoordinasi dengan PBSI agar semua yang kami lakukan sejalan dengan dengan keputusan mereka,” ujar Okto.

Tim Indonesia dicoret dari turnamen All England Open 2021 setelah diketahui bahwa mereka berada satu pesawat dengan penumpang yang positif COVID-19 dalam perjalanan dari Istanbul menuju Birmingham.

Sebagai bagian dari contact tracing, pihak otoritas Kesehatan Inggris, National Health Service, meminta seluruh anggota tim bulutangkis Indonesia untuk melakukan 10 hari karantina. Buntutnya, tim Indonesia tidak dapat melanjutkan kompetisi di turnamen All England.

Padahal, sebagian atlet Indonesia, seperti ganda putra Marcus Gideon/Kevin Sanjaya, Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan, serta tunggal putra Jonathan Christie sudah melewati babak pertama, yang berlangsung Rabu 17 Maret.

Turnamen ini sendiri mundur satu hari setelah tujuh atlet dari Denmark, Thailand, dan India mendapat hasil positif dalam tes COVID-19 yang berlangsung sebelum turnamen. Setelah tes diulang, ketujuh atlet dan juga pelatihnya dinyatakan negatif dan dapat bermain.