Insiden Penerbangan Hantui Maskapai Indonesia, Apa Sebabnya?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Pengamat Penerbangan Gatot Raharjo menyoroti frekuensi terjadinya insiden pesawat terbang pada industri penerbangan di Indonesia sepanjang 2021. Dalam 3 bulan saja, banyak insiden penerbangan terjadi dan membuat bertanya-tanya, apa akar masalah dari kejadian tersebut?

Menurut Gatot, wajar jika di tahun 2020, penerbangan global dan nasional mendapat dampak yang serius, mulai dari berhenti beroperasi bahkan bangkrut. Hal ini karena adanya dampak dari Covid-19.

"Namun menjadi aneh kalau hal tersebut sudah terjadi sejak tahun 2015, di mana seharusnya kondisi penerbangan normal. Apakah maskapai kekurangan dana untuk membiayai pemenuhan rekomendasi keselamatan KNKT?" kata Gatot, seperti dikutip dari tulisannya, Minggu (4/4/2021).

Menurutnya, memang terdapat indikasi 'sakitnya' keuangan maskapai di Indonesia bahkan sebelum pandemi melanda. Hal ini terbukti dari laporan keuangan maskapai yang sudah melantai di bursa saham seperti Garuda Group dan Indonesia AirAsia.

Berdasarkan catatan Gatot, Garuda Group tahun 2014 mengalami kerugian hingga Rp 4,87 triliun. Tahun 2015, perusahaan untung Rp 1,07 triliun tapi karena penyusutan beban usaha dan bukan karena pendapatan usaha yang justru turun.

Kemudian pada 2016 untung Rp 124 miliar, tahun 2017 rugi Rp 2,98 triliun, tahun 2018 rugi Rp 2,45 triliun dan tahun 2019 untung Rp 97,72 miliar karena menaikkan harga tiket dan mengurangi frekuensi terbang.

Menurutnya, jumlah keuntungan itu tidak sebanding dengan jumlah kerugian yang diderita.maskapai penerbangan.

Seperti pada Indonesia AirAsia group, pada tahun 2018 melaporkan kerugian Rp 907 miliar dan tahun 2019 rugi Rp 157,4 miliar (kurs Rp 14.000).

"Sriwijaya Group, pada Oktober 2018, menyatakan berhutang Rp 2,46 triliun kepada Garuda Indonesia Group, PT. Pertamina, Angkasa Pura I dan II serta Airnav Indonesia," bebernya

Bahaya Kesulitan Keuangan Maskapai Penerbangan

Calon penumpang menunggu penerbangan di Terminal 3 Bandara-Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (22/12/2019). Manajemen Bandara Soekarno-Hatta menyiapkan 478 pesawat ekstra untuk mengantisipasi lonjakan penumpang saat mudik libur Natal dan Tahun Baru. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Calon penumpang menunggu penerbangan di Terminal 3 Bandara-Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (22/12/2019). Manajemen Bandara Soekarno-Hatta menyiapkan 478 pesawat ekstra untuk mengantisipasi lonjakan penumpang saat mudik libur Natal dan Tahun Baru. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lion Group seperti juga Sriwijaya bukan perusahaan terbuka sehingga laporan keuangannya tidak bisa diakses publik.

"Namun pada tahun 2020, terdengan isu Lion Group akan mengecilkan kapasitas bisnisnya dengan membentuk maskapai baru. Apakah ini menandakan mereka juga kesulitan keuangan?" tanyanya.

Menurutnya, di tengah situasi pandemi, jika hanya satu maskapai yang kesulitan keuangan, tentu masih wajar.

Namun, menjadi tidak wajar dan berbahaya jika hampir semua maskapai kesulitan keuangan karena bisa jadi akan berdampak pada keselamatan penerbangan dan pertumbuhan perekonomian nasional.

"Biaya pemenuhan keselamatan yang besar dan wajib dipenuhi maskapai, dalam kondisi keuangan yang cukup parah, bisa saja menimbulkan upaya-upaya untuk tidak memenuhi atau menunda pemenuhan keselamatan," katanya.

Atau, lanjutnya, jika terpaksa memenuhi biaya keselamatan, bisa saja kelangsungan hidup maskapai tidak akan lama dan bisa bangkrut atau paling tidak mengecilkan skala bisnisnya.

"Hal ini dapat berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian nasional karena ketiadaan transportasi udara di Indonesia yang wilayah geografisnya kepulauan," katanya.

Saksikan Video Ini