Insiden Perusakan Tembok Keraton Kartasura, Kejagung Turun Tangan

Merdeka.com - Merdeka.com - Perusakan tembok benteng bekas Keraton Kartasura, Sukoharjo memasuki babak baru. Setelah kepolisian dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), kini giliran Kejaksaan Agung (Kejagung) turun tangan.

Hari ini, Selasa (10/5) tim dari Kejagung meninjau langsung bekas Keraton Kartasura bagian Baluwarti yang dirusak menggunakan alat berat (backhoe).

Direktur Budaya Sosial dan Kemasyarakatan Kejagung, Ricardo Sitinjak dan tim ditemani Kajari Sukoharjo, Hadi Sulanto, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sukoharjo, Siti Laila dan pemerhati cagar budaya juga meninjau bagian utama bekas Keraton Kartasura yang sekarang menjadi makam.

"Kami ingin memantau, mensinergiskan, koordinasi dengan teman-teman di daerah. Itu tugas kita, nanti akan kita laporkan hasilnya, ini apa sih yang terjadi, kan viral," ujar Ricardo Sitinjak.

Ricardo mengatakan, pihaknya akan mengecek kebenaran kasus perusakan tersebut secara teliti. Dalam peninjauan ini diundang juga pemerhati cagar budaya, pemangku wilayah dan warga juga. Mereka diminta memberikan keterangan terkait bangunan yang diduga kuat sebagai cagar budaya tersebut.

"Mereka kita mintai keterangan. Kita sifatnya hanya mewawancarai, nanti kita analisa di atas bagaimana petunjuk pimpinan selanjutnya," terang dia.

Ricardo menjelaskan, sebelumnya memang ada pihak terkait yang sudah meminta keterangan sejumlah saksi serta mengambil langkah-langkah. Sehingga pihaknya hanya membantu dan mensinergiskan.

"Hasil penyelidikan dari BPCB silakan saja, itu kan tugas mereka. Kita hanya melihat kondisi yang ada saat ini, apa betul. Karena tugas kita ketahanan budaya itu," tandasnya.

Mantan Kajari Solo menambahkan, hasil wawancara yang dikumpulkan m, akan dilihat perkembangannya nanti. Pihaknya juga masih menunggu hasil kerja tim penyidik.

"Kita ketahanan budaya, budaya kita ini kan bermacam-macam di 17 ribu pulau di Indonesia. Kalau tidak ada ketahanan budaya, kita tidak bisa mempertahankan budaya, nanti lari dan itu yang kita jaga, itu tupoksi kita," katanya.

Ricardo memastikan, apa yang yang dilakukannya tidak akan menganggu proses penyidikan. Karena tugas penyidik adalah melakukan pengumpulan data dan keterangan tentang hal yang terjadi, apakah terjadi pelanggaran hukum.

"Kalau kita itu bagaimana budaya ini jangan hilang, itu tugas kita. Seharusnya bagaimana, itulah yang kita sarankan, jadi ini bukan ke ranah hukum tapi kelestarian budaya," jelasnya.

Menurut Ricardo, Keraton Kartasura memiliki sejarah yang panjang. Bahkan ini asal muasal sebelum ada Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, tentu ada nilai sejarah yang terpenting.

"Kita mengimbau aparat terkait untuk segera dilestarikan, masuk dalam pencatatan. Pemerintah harus turut melakukan kreativitas atau pembiayaan untuk pengurusan biar tertata rapi dan indah," pungkasnya. [lia]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel