Insight Story Risdianto: Tahun 1974, Sang Legenda Tinggalkan Persija demi Klub Hong Kong

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Nama legenda Persija Jakarta dan Timnas Indonesia, Risdianto mulai mencuat ketika bergabung dengan Pardedetex, klub amatir asal Medan yang dikenal doyan merekrut pemain bertalenta di Tanah Air.

Sosok asli Pasuruan ini kemudian menjulang setelah pindah ke UMS, klub amatir yang berkiprah di kompetisi internal Persija. Dari UMS, ia kemudian memperkuat Persija Jakarta, McKinnons FC (Hong Kong) dan Warna Agung.

Kiprah apiknya di level klub membuat nama Risdianto secara reguler masuk dalam daftar panggil skuad Timnas Indonesia pada berbagai turnamen.

Memperkuat sejumlah klub dan timnas Indonesia tentu jadi pengalaman dan mendatangkan kenangan tersendiri buat Risdianto. Baik pengalaman pahit, manis bahkan lucu dan unik.

Dalam channel Omah Balbalan, Risdianto mengungkap berbagai cerita seputar pengalamannya itu, di antaranya keputusan meninggalkan Persija untuk kali pertama dengan memilih tawaran klub Liga Hongkong, McKinnons FC pada 1974.

"Saat itu, saya ada sedikit masalah dengan pengurus timnas. Daripada kesulitan di timnas, saya putuskan ke Hong Kong," kenang Risdianto.

Semusim di McKinnons

Legenda Timnas Indonesia, Risdianto, saat berbincang dengan YouTube Omahbalbalan. (Bola.com/YouTube Omah Balbalan)
Legenda Timnas Indonesia, Risdianto, saat berbincang dengan YouTube Omahbalbalan. (Bola.com/YouTube Omah Balbalan)

Selain Risdianto, manejemen McKinnons FC juga kepincut mendatangkan Abdul Kadir. Keduanya terpantau ketika memperkuat Pardedetex saat tur di Hong Kong.

Tapi, karena Kadir memilih bermain di timnas, Risdianto pun ke Hong Kong Gunawan dan Surya Lesmana, rekannya sesama eks Pardedetex. Tapi, Gunawan dan Surya hanya setengah musim di McKinnons.

"Pada putaran kedua, Kadir datang bersama Hartono," ungkap Risdianto.

Risdianto hanya satu musim bersama McKinnons. Meski ada tawaran dari Seiko, klub juara Liga Hong Kong, Risdianto memutuskan kembali ke Indonesia. Kebetulan tim nasional sedang melakukan persiapan jangka panjang menghadapi kualifikasi Olimpidea Montreal 1976.

Risdianto bersama puluhan pemain dari berbagai daerah berkumpul dan berlatih di Salatiga dibawah asuhan Wiel Coerver (Belanda).

Seperti diketahui, Timnas Indonesia gagal meraih tiket ke Olimpiade Montreal setelah takluk dari Korea Utara via drama adu penalti laga terakhir kualifikasi di Stadion Gelora Bung Karno, 26 Januari 1976. Selepas itu, Risdianto kembali memperkuat Persija Jakarta dan tim DKI Jakarta yang meraih emas pada PON 1977.

Alasan Tinggalkan Persija

Legenda Timnas Indonesia, Risdianto, saat berbincang dengan YouTube Omahbalbalan. (Bola.com/YouTube Omah Balbalan)
Legenda Timnas Indonesia, Risdianto, saat berbincang dengan YouTube Omahbalbalan. (Bola.com/YouTube Omah Balbalan)

Pada kesempatan itu, Risdianto juga menceritakan alasan dirinya mundur dari Persija saat kompetisi musim 1978/1979 tengah berjalan.

Saat itu, ia tak setuju dengan keputusan pelatih Persija, Marek Janota (Polandia) yang memainkannya sebagai gelandang. Marek lebih memilih Taufik Yunus sebagai striker. Risdianto dan Marek pun berselisih.

Manajer Persija, Bob Hippy yang juga eks timnas Indonesia pun memanggil Risdianto dan memintanya mengikuti keinginan Marek demi kesolidan tim.

"Saya bilang ke Bob, sebagai mantan pemain, pasti merasakan hal yang sama dengan saya kalau dipaksa bermain di bukan posisi kesukaannya. Saya bilang daripada ribut, lebih baik saya mundur dan tidak usah dipublikasikan," kata Risdianto.

Seperti diketahui, Persija akhirnya meraih trofi juara Peserikatan.Selepas dari Persija, Risdianto gabung ke Warna Agung yang tengah bersiap menghadapi kompetisi Galatama 1979/1980.

Warna Agung dilatih Endang Witarsa, pelatih timnas Indonesia yang pernah menanganinya di UMS. Bersama Warna Agung, Risdianto akhirnya meraih trofi Galatama edisi perdana.

Sahabat Ronny Pattinasarani dan Iswadi Idris

Kartu merah Iswadi Idris di final perserikatan 1975 memicu keributan antara pemain Persija dengan PSMS (Bola.com/Repro Merdeka)
Kartu merah Iswadi Idris di final perserikatan 1975 memicu keributan antara pemain Persija dengan PSMS (Bola.com/Repro Merdeka)

Sepak bola Indonesia pernah diwarnai persaingan dalam dan luar lapangan dua bintang timnas Indonesia, Ronny Pattisarani dan Iswadi Idris. Yang menarik keduanya adalah sahabat kental Risdianto.

"Sebenarnya perseteruan mereka adalah hal yang normal dalam sepak bola. Apalagi, keduanya sama-sama ingin memberi kontribusi besar buat tim yang dibelanya," kenang Risdianto.

Risdianto mengaku mendapat 'keuntungan' dari perteruan mereka. Khususnya saat ketiganya sama-sama memperkuat timnas.

"Kalau Ronny atau Iswadi memegang bola, saya tinggal mencari ruang yang tepat untuk menerima umpan. Karena mereka pasti mengarahkan bola ke saya."

Risdianto juga tak lupa ketika ia mencairkan hubungan Iswadi dengan Nobon, bintang PSMS. Pada final Perserikatan 1975, kedua pemain timnas itu terlibat perkelahian yang berujung keputusan Persija dan PSMS menjadi juara bersama. Saat menjalani TC timnas di Salatiga, Risdianto memanggil Nobon dan mengajaknya bertemu dengan Iswadi.

"Saat bertemu keduanya langsung berpelukan. Begitulah sepak bola, drama dan tensi tinggi hanya terjadi di lapangan," pungkas Risdianto.

Video