Integritas porter stasiun kereta api

Siang itu suasana di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat tampak ramai dari biasanya, hilir mudik orang-orang berlalu lalang tampak memadati setiap sudut ruang di stasiun paling bersih di Jakarta.

Selain pengguna kereta yang tampak mondar mandir, di area kedatangan maupun keberangkatan, juga para pengantar yang ikut memeriahkan suasana di musim mudik dan arus balik Lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah/2022 pada Kamis (5/5) lalu.

Petugas keamanan dalam (PKD) dan petugas PT KAI juga berseliwiran di area stasiun, setiap beberapa menit suara pengumuman bergema, menginformasikan jadwal keberangkatan kereta, serta pesan pencegahan Covid-19.

Suasana di stasiun tampak semakin ramai dengan adanya pria-pria berbaju seragam warna biru celana hitam, mereka hilir mudik kian kemarin, dapat dijumpai di setiap sudut bangunan tersebut, di luar gedung, di dalam gedung, di parkiran.

Seorang pemuda datang menghampiri Rohim (40) yang sedang menyantap roti sobeknya di parkiran dekat restoran cepat saji Stasiun Gambir. “Apa ada yang bisa bawakan barang?”, tanya pemuda itu kepada Rohim.

Seketika Rohim menghentikan jam istirahatnya, langsung menaruh potongan roti sobeknya di samping temannya Tarmudji (45) dan menyanggupi permintaan si pemuda dan ikut berlalu bersamanya ke arah sebuah mobil yang parkir sementara di pintu masuk keberangkatan stasiun.

Dengan cekatan, Rohim mengambil sejumlah barang milik pemuda itu yang hendak kembali ke Jawa dengan pasangannya. Kemudian dia mengarahkan pasangan itu ke ruang tunggu, sambil membawakan barang-barangnya dengan ramah.

Hari itu pukul 16.30 WIB, Rohim baru melepaskan penat setelah sejak pukul 05.00 WIB memulai pekerjaannya sebagai porter. Profesi ini sudah 11 tahun digelutinya, hingga kini ia menjabat sebagai pengurus perhimpunan porter di Stasiun Gambir.

Total ada 230 porter yang bekerja dengan sistem shift sehari masuk sehari libur. Porter di Stasiun Gambir terbagi dalam dua kelompok, satu kelompok beranggotakan 115 orang, mereka disebut kelompok merah dan kelompok biru sesuai seragam yang dikenakan. Sehingga dalam sebulan mereka bekerja selama 15 hari.

Setiap porter memiliki nomor urut yang tertera di lengan baju dan punggung atas seragamnya. Rohim memiliki nomor urut 114, sedangkan rekannya Tarmudji memiliki nomor urut 96.

Seorang porter membantu membawakan barang bawaan milik pengguna kereta api jarak jauh di Stasiun Gambir, Kamis (5/5/2022). ANTARA/Laily Rahmawaty
Seorang porter membantu membawakan barang bawaan milik pengguna kereta api jarak jauh di Stasiun Gambir, Kamis (5/5/2022). ANTARA/Laily Rahmawaty

Bayaran seikhlasnya

Sebelum melayani penumpang kereta, Rohim sempat berbagi cerita, kalau porter di stasiun kereta berbeda dengan porter yang ada di bandara. Bedanya, mereka tidak digaji pengelola, tetapi dibayar seikhlasnya oleh pengguna.

Bayaran itu beragam, mulai dari Rp10.000 paling kecil, hingga Rp50.000 kalau itu artis atau pesohor yang naik kereta. Atau bisa mendapatkan bayaran lebih dari nominal itu, ketika mereka diminta untuk menjadi porter pejabat negara yang sedang melakukan perjalanan dinas menggunakan kereta. Namun, kesempatan ini digilir oleh asosiasi yang memilih porter yang bertugas.

Tak selamanya mereka menerima bayaran seikhlasnya, kadang-kadang porter juga melayani pengguna dengan ikhlas tanpa bayaran. Seperti pengalaman Rohim bertemu seorang pemuka agama dari kampung halamannya di Jember, Jawa Timur.

“Pas bulan puasa waktu itu, saya ketemu Gus Reza, pengurus pondok pesantren di Jember, saya kenal beliau. Saya langsung bantu bawain barangnya ke kereta, saya sempat dikasih uang, tapi saya ikhlas membantu kyai, kejar barokah,” kenang Rohim sembari memperlihatkan foto selfie bersama ulama itu.

Meski dibayar seikhlasnya, bekerja dari pagi hingga stasiun tutup, cukup buat Rohim menghidupi keluarganya di kampung halaman. Ditambah kerjanya hanya 15 hari dalam sebulan. Walau tak menyebutkan secara langsung berapa nominal pendapatannya dalam sehari, pria beranak dua itu mengaku bisa menabung dan mengirim biaya buat keluarganya termasuk membayar uang kontrakan selama bekerja di Jakarta.

Bahkan, beberapa porter ada yang sanggup menyekolahkan anaknya sampai menjadi dokter, TNI, hingga polisi. Beberapa porter juga berinvestasi di kampung halaman, memiliki usaha seperti usaha pertanian atau memiliki warung.

Tetapi, pendapatan para porter sempat menurun saat pandemi Covid-19 melanda, terlebih adanya larangan mudik Lebaran. Beberapa porter bahkan memilih pulang ke kampung halaman sementara waktu karena tidak memiliki penghasilan. Hingga pandemi melandai, dan mudik diperbolehkan, porter kembali mengais rezeki untuk anak dan istri.

“(Pendapatan) sempat turun 50 persen, tapi sekarang Alhamdulillah sudah berangsur pulih,” kata Tarmudji, rekan Rohim.

Petugas porter menunjukkan pesan grup barang temua yang diserahkan seorang petugas kebersihan stasiun kepada anggota Polsuska di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (5/5/2022). ANTARA/Laily Rahmawaty <br>
Petugas porter menunjukkan pesan grup barang temua yang diserahkan seorang petugas kebersihan stasiun kepada anggota Polsuska di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (5/5/2022). ANTARA/Laily Rahmawaty

Integritas
Bekerja sebagai porter di Stasiun Gambir tidak hanya bertugas membawa barang pengguna kereta lalu dibayar. Para porter memiliki tanggungjawab menjaga kebersihan lingkungan di stasiun terbersih di wilayah Jabodetabek itu.

Para porter memulai kegiatan dari pukul 05.00 WIB, sebelum penumpang berdatangan, mereka bertugas menyisir sampah-sampah di lingkungan luar stasiun. Kebersihan di area dalam stasiun menjadi tugas kebersihan yang dikelola oleh PT KAI, tetapi di luar stasiun, porter mengambil tanggungjawab untuk menjaga stasiun tetap bersih.

Pekerjaan membersihkan sampah di area luar stasiun dilakukan dua kali sehari, yakni pagi hari dan malam hari setelah aktivitas stasiun berhenti.

Menurut pria yang memiliki nomor urut 114 itu, kegiatan membersihkan lingkungan stasiun bagian dari tanggungjawab para porter menjaga lingkungan kerja mereka tetap bersih dan nyaman bagi pengguna kereta. Seperti yang diyakininya bahwa kebersihan sebagian dari iman.

Kadang di sela-sela tanggungjawab membersihkan lingkungan, para porter kerap menemukan barang-barang pengguna kereta yang ketinggalan. Barang-barang itu, mulai dari barang yang tidak punya nilai uang, sampai barang berharga seperti ponsel pintar keluaran Apple.

Rohim salah satu porter yang pernah menemukan ponsel pintar seharga lebih Rp10 juta di tempat wudhu stasiun. Ponsel itu kemudian diserahkan kepada petugas Polsuska atau Polisi khusus kereta api yang ada di stasiun. Dan kejadian menemukan ponsel bukan pula yang pertama, boleh dibilang sering.

Oleh Polsuska barang temuan tersebut akan diumumkan lewat pengeras suara, pengguna yang kelupaan dapat mengambil barang-barang miliknya di kantor Polsuska yang ada di kereta. Atau sekiranya pengguna kereta sudah terlanjur berangkat meninggalkan stasiun, informasi barang temuan tersebut disebar lewat pesan grup instan Whastapp barang temuan para porter yang ada di setiap stasiun kereta jarak jauh.

Pengguna kereta yang masih yakin akan barangnya kembali dapat menanyakan ke Polsuska yang ada di setiap stasiun kereta. Selama barang itu ditemukan oleh porter, Rohim memastikan barang itu akan kembali kepada pemiliknya.

“Itu sudah menjadi komitmen kami para porter, kalau bukan milik kami, bukan hak kami, jangan diambil,” tegas Rohim.

Pada hari itu, Rohim memperlihatkan seorang petugas toilet menyerahkan temuan mukena kepada Polsuska di Stasiun Senen yang informasinya disebar di pesan grup instan barang temuan.

Informasi itu disebar dengan tujuan semakin memperkuat integritas atau kejujuran para porter di stasiun kareta sekaligus sebagai reward atas kejujurannya telah menemukan dan mengembalikan barang pengguna kereta yang tertinggal.

Tidak semua barang yang hilang bisa ditemukan, selama barang tersebut ditemukan oleh petugas porter, maka dipastikan barang tersebut kembali. Akan berbeda jika barang lebih dulu ditemukan selain oleh porter atau petugas kereta api.

Menurut dia, kebanyakan para pengguna kereta ceroboh dan lalai dengan barang bawaannya, di ruang tunggu selalu saja ada barang yang tertinggal, baik itu tas, atau dus bawaan. Para porter siap sedia mengamankan barang tersebut dan menyerahkannya kepada Polsuska.

Dengan kejujuran sebagai bagian dari integritas itu, kata Rohim, kadang para porter mendapat rezeki, seperti ketika dirinya menemukan ponsel mahal tersebut, pemilik ponsel lantas memberinya imbalan, namun beberapa ada yang menerima bahkan menolak, dengan alasan mereka ikhlas menolong.

Rohim berpendapat, ada hal yang lebih berharga dari sekedar uang. Yakni kepercayaan dan silaturahim, di mana kepercayaan itu akan membawa dampak positif bagi porter di stasiun, sehingga banyak yang menggunakan jasanya.

Para porter di Stasiun Gambir juga memiliki ritual penting yang dilakukan setiap kereta api akan berangkat, sejumlah porter akan berdiri berjejer di pinggir peran sembari memberikan penghormatan kepada pengguna kereta yang hendak berangkat, dengan tangan disilang ke dada, sambil setengah membungkuk menghadap kereta yang hendak berjalan.

Ritual ini pun sudah dijalankan para porter Stasiun Gambir selama 4 tahun, setiap porter diwajibkan memberikan penghormatan saat kereta akan berangkat.

“Ini ritual penghormatan, mendoakan penumpang selamat, berterima kasih kepada penumpang karena telah memakai jasa porter,” ucap Rohim.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel