Intip Dampak Mahalnya Harga Pertamax ke Bisnis Pertashop

Merdeka.com - Merdeka.com - Bisnis pertashop badan usaha milik desa (BUMDes) di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel) masih berusaha bertahan meski daya beli berkurang. Ini terjadi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax.

"Jelas berdampak kemungkinan permintaan berkurang," ujar Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Tapin, Iwan Satriansyah dikutip dari Antara, Rabu (7/9).

Desa yang berbisnis pertashop ini di Kalsel cuma ada di Tapin. Di kabupaten itu terdapat enam titik pertashop. Dampaknya kenaikan harga pertamax dari Rp12.750 (per April) ke Rp14.850 (September) kini dirasakan pertashop Bumdes Mitra Usaha Kecamatan Salam Babaris, daya beli masyarakat berkurang.

"Ya ada penurunan. Cuma karena di gunung tidak ada pilihan, pilihannya cuma eceran saja. Alhamdulillah penjualan sampai 850 liter perhari," ujar Manager Keuangan Pertashop Bumdes Mitra Usaha Kecamatan Salam Babaris Zainal Arifin.

Di hitung, pada H plus 1 kenaikan harga pertamax ini penjualan per hari 1.100 liter, hari berikutnya 850 liter dan hari ketiga 820 liter.

Penjualan Sebelum Harga Pertamax Naik

Sebelumnya, saat pertamax di harga Rp9.200 penjualan per hari bisa mencapai 2.000 liter per hari. Namun, daya beli berkurang sejak harga naik ke Rp12.750 penjualan rata-rata hanya 600-700 liter per hari.

Namun demikian, dengan harga per April itu masih menguntungkan bagi BUMdes dan masih mampu menyumbang PADes sebesar Rp5 juta per bulan.

Dengan tingkatan kenaikan sekarang ini, dampaknya dipastikan akan membebani konsumen dan akhirnya mempengaruhi daya beli masyarakat. [idr]