Intip Peluang Bisnis di Masa Pandemi, Wajib Dicoba

Dian Lestari Ningsih, skalan
·Bacaan 3 menit

VIVA – Dalam beberapa bulan ini, virus corona sedang mewabah tak hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia. Kondisi tersebut memaksa semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri agar terhindar dari virus.

Dengan adanya hal tersebut membuat aktivitas menjadi terhambat. Terutama aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan saat ini pun sudah diterapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa daerah yang termasuk kategori zona merah.

Dengan begitu banyak lembaga besar melepaskan karyawan yang berbakat dan berkualitas. Beberapa mungkin berpendapat, bahwa krisis dapat berdampak negatif terhadap perusahaan maupun kewirausahaan, yang lain mungkin menyarankan bahwa perubahan yang kita amati saat ini dapat mengubah persepsi kewirausahaan menjadi lebih baik.

Namun, apa yang kita saksikan hari ini sesungguhnya adalah potensi untuk mendemokrasikan kewirausahaan dan menciptakan model peran kewirausahaan baru yang lebih mudah dikenali oleh orang.

Perubahan ini pada akhirnya dapat memicu lebih banyak orang untuk memulai bisnis mereka sendiri, mungkin krisis ini dan dampak setelahnya akan mendorong lebih banyak orang untuk mengambil risiko yang terkait dengan kewirausahaan.

Pebisnis, perusahaan orang-orang, dan perusahaan telah menyusun ide-ide baru untuk menanggapi kebutuhan yang ada atau yang pemenuhan kebutuhan yang tidak cukup ditangani oleh pemerintah dan lembaga yang berkuasa. Gambaran tentang bagaimana wirausahawan dan sistem mereka terpengaruh oleh pandemi jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan, satu hal yang pasti adalah bagaimana dampak hari ini akan memiliki efek jangka panjang.

Ironinya, pandemi justru telah meningkatan kreativitas sejumlah orang dalam berbisnis. Dengan demikian, untuk mengambil keuntungan dari potensi wirausaha, pemerintah dan lembaga pendukung lainnya harus mengembangkan langkah-langkah yang tepat untuk mendukung kewirausahaan semacam ini.

“Peluang Adalah EMAS”, istilah itu memang bukan mengada-ngada, peluang memang di ibaratkan sebagai emas yang bernilai yang sayang jika harus dilewatkan. Apakah yang dimaksud dengan peluang usaha?

Peluang usaha merupakan suatu kesempatan atau waktu yang seharusnya diambil atau dimanfaatkan bagi seorang wirausahawan agar mereka mendapatkan keuntungan. Peluang usaha yang telah diambil tentu akan terdapat konsekuensi oleh pengambil keputusan itu.

Namun jika berhasil dapat dikatakan mendapat keuntungan, dan jika gagal maka itu adalah bagian dari risiko yang harus dihadapi. Meskipun demikian, hal itu dapat dijadikan pengalaman yang berharga bagi seorang wirausahawan agar dapat bekerja lebih baik sehingga mendapatkan keuntungan dari hasil kerja dan peluang yang telah ia manfaatkan tersebut.

Peluang berarti juga pasar. Jika seseorang ingin berhasil, apalagi berhasil sebagai entrepreneur, dia harus bisa secara cerdik menangkap dan memanfaatkan peluang, kemudian mengambil keputusan yang tepat agar memenangkan persaingan di pasar.

Dengan kreativitas berarti seseorang bisa secara bersama-sama menciptakan atau menangkap peluang dan memaksimalkan resources lain yang bisa mendukung agar peluang-peluang dan kreativitas itu menjadi berhasil.

Dan agar peluang-peluang dan kreativitas itu berhasil dibutuhkan komunikasi yang baik.Bagi seorang entrepreneur, keterampilan berkomunikasi itu sangat penting. Segala ide dan kreativitas yang ada pada diri seorang entrepreneur harus bisa dikomunikasikan dengan baik ke pasar.

Seperti melakukan riset pasar, mempersiapkan dan menyusun rencana, patuh terhadap aturan, strategi pemasaran yang tepat sasaran. Jika ke empat poin dasar sudah dilakukan, maka hal yang paling penting adalah mempraktikannya.

Hanifah yang berjiwa entrepreneurship melihat itu semua dan mulai memperaktikannya. Bisnis masker berbahan kain yang menjadi alternatif di tengah kelangkaan masker macam Sensi atau N95 ini cukup menjanjikan.

Di banyak akun media sosial dan marketplace sudah banyak yang sudah menjual masker kain baik yang terbuat dari kain Oxford atau katun minyak dan bahan kain lainnya.

Di beberapa sentra konveksi pun sudah banyak produsen beralih memproduksi masker kain karena permintaan yang cukup besar. Masker sudah jadi komoditas yang langka di tengah pandemi corona. Kalaupun ada, harganya melambung tinggi beberapa kali lipat.

Tidak heran di setiap apotek dan toko-toko kesehatan, masker dibatasi untuk mencegah masyarakat memborong dan dijual kembali dengan harga tinggi. Di tengah kelangkaan masker medis yang memiliki filter pencegah virus, beberapa ahli menyarankan agar masyarakat mencari masker alternatif yang terbuat dari bahan kain.

Peluang ini bukan hanya milik produsen, tetapi cukup prospektif juga bagi supplier, pengecer hingga dropshipper sampai kepenjahit pun bisa. Pandemi ini menuntut orang untuk beradaptasi secara cepat dengan pola kerja baru.