Investasi Data Center Meningkat, Schneider Electric Kecipratan Untung

Merdeka.com - Merdeka.com - Meningkatnya investasi data center di Indonesia, membuat Schneider Electric kecipratan berkahnya. Perusahaan asal Perancis itu menyebutkan terjadi pertumbuhan permintaan manajemen energi hingga alat untuk suplai listrik data center.

"50 persen lebih pertumbuhan permintaan kami untuk handle manajemen energi dan alat lowvoltage data center," kata Plant Director Schneider Electric, Joko Sutopo kepada Merdeka.com, Jumat (29/7).

Peningkatan ini, kata Joko, terjadi saat awal pandemi yakni 2020. Sejak itu pertumbuhan permintaan untuk mengelola kelistrikan data center dan alatnya meningkat sampai saat ini. Diakui Joko, tidak ada target khusus yang dicanangkan perusahaan untuk data center.

"Natural aja. Karena memang kebutuhan juga ya pada saat awal pandemi. Semua perusahaan berlomba-lomba meningkatkan kapasitas data centernya. Di sisi lain, waktu itu juga, perusahaan oil & gas lagi lesu, tapi sekarang kembali bergairah," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan laporan dari Mordor Intelligence, pada 2026 mendatang, bisnis data center diproyeksikan bisa bernilai hingga USD 3,07 miliar. Nilai tersebut meningkat dua kali lipat bila dibandingkan dengan nilai pasar data center di Indonesia pada 2020 yakni USD 1,53 miliar.

Hal itu lantaran didorong oleh adopsi teknologi yang semakin kencang. Mengutip laporan Google, Temasek, dan Bain & Company 2021, nilai ekonomi digital di Indonesia mencapai USD70 miliar (GMV).

Pertumbuhannya itu didorong dengan meningkatnya sektor e-commerce. Data tersebut menyebut sektor perdagangan online ini tumbuh mencapai 52 persen year on year (yoy). Angka itu setidaknya menjadi pendorong utama nilai ekonomi digital negeri ini. [faz]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel