Investasi Grab di LinkAja Jadi Sinyal Positif untuk Fintech Lokal

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Investrasi Grab di LinkAja pada akhir tahun lalu dinilai jadi sinyal positif terhadap perusahaan rintisan (startup), khususnya di bidang teknologi finansial (financial technology/fintech).

Pengamat Ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, mengatakan keputusan Grab layak diapresiasi, karena selain membuktikan kiprahnya sebagai salah satu pionir teknologi digital yang berperan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan nasional, mereka juga memberi perhatian pada pelaku fintech lokal lewat investasi.

"Aksi korporasi Grab akan menjadi sinyal bagi investor lainnya, baik domestik maupun asing, agar lebih percaya diri untuk berekspansi ke dalam ekosistem digital dan fintech Indonesia yang semakin membaik," kata Ronny melalui keterangannya, Selasa (26/1/2021).

Dari sisi pertimbangan bisnis ke depan, Ronny menambahkan, langkah Grab sangat rasional karena Grab akan mendapat peluang captive market prospektif yang sudah ada dalam jangkauan LinkAja.

LinkAja sendiri berada dalam ekosistem BUMN, yang berarti penerapan tata kelola yang baik (good corporate governance) sudah menjadi keharusan.

LinkAja saat ini memiliki lebih dari 58 juta pengguna terdaftar, dengan lebih dari 80 persen penggunanya berasal dari kota-kota tier 2 dan 3 di Indonesia.

"Grab akan berperan besar dalam mendorong digitalisasi, literasi, dan inklusi keuangan di lingkungan BUMN hingga pemerintahan. Ini potensi yang tidak dimiliki oleh pemain investor fintech lain," papar Ronny.

Untuk diketahui, pada November 2010, Telkomsel bersama BRI Ventura, Mandiri Capital Indonesia, yang dipimpin Grab menanamkan modal baru sebesar USD 100 juta atau sekitar Rp 14 triliun ke LinkAja.

Sinergi dan Kolaborasi

Adapun investasi strategis dari Grab ini akan meliputi berbagai sinergi dan potensi kolaborasi untuk kedua pihak. Harapannya, sinergi dan kolaborasi yang dilakukan akan mempercepat sekaligus meningkatkan inklusi keuangan masyarakat Indonesia.

"Kami memilih berinvestasi di LinkAja karena secara bersama kami dapat mengakselerasi tujuan dalam mempercepat inklusi finansial di Indonesia," tutur Managing Director of Grab Indonesia, Neneng Goenadi.

Di sisi lain, keputusan penggalangan dana untuk layanan dompet digital ini tidak lepas dari sejumlah keunggulan yang dimiliki perusahaan tersebtu. Salah satunya adalah layanan ini didukung oleh basis pemegang saham kuat yang merupakan jajaran BUMN terkemuka di Indonesia.

Selain itu, layanan dompet digital ini dikenal sebagai produk inovatid dengan merek kuat yang cepat berkembang menjadi platform fintech (financial technology) lokal ikonik.

Bahkan, di tengah tantangan ekonomi pandemi Covid-19, LinkAja mampu meningkatkan Nilai Transaksi Bruto (GTV) dan jumlah transaksi di kuartal ketiga 2020 sebesar tiga kali lipat, dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

"Kami yakin kerja sama strategis yang didukung oleh investasi dan kekuatan teknologi Grab ini akan memperkuat layanan dalam menghadirkan solusi yang efektif untuk memberikan akses ke keuangan dan ekonomi bagi masyarakat Indonesia," tutur Direktur Utama LinkAja, Haryati Lawidjaja.

Potensi Literasi Keuangan Indonesia

Ronny memaparkan, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat indeks literasi keuangan Indonesia pada tahun 2019 sudah mencapai 38,03 persen, meningkat dibandingkan dengan hasil survei yang sama pada tahun 2016, yakni 29,7 persen.

Indonesia juga mencatat kenaikan indeks inklusi keuangan dari 67,8 persen pada 2016, menjadi 76,19 persen pada tahun 2020.

"Ini potensi besar yang harus dilihat oleh investor," ujar Ronny menegaskan. Selain itu, lanjut Ronny, keputusan Grab Indonesia ini juga akan memberi kepercayaan diri kepada Indonesia sendiri untuk terus memperbaiki diri dan mengembangkan ekosistem digital dan teknologi finansial nasional agar terus bisa bersaing dengan negara-negara tetangga.

"Karena sampai hari ini, Indonesia masih tertinggal dibanding beberapa negara ASEAN lainya dari sisi indeks inklusi keuangan. Meski demikian, Indonesia masih tertinggal dibanding Singapura yang telah mencapai 98 persen dalam inklusi keuangan, Malaysia 85 persen, dan Thailand 82 persen," ungkap Ronny.

(Isk/Why)