Investasi Lebih Mudah dengan Buka Investasi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Bukalapak.com melalui anak perusahaannya, PT Buka Investasi Bersama (BIB) menghadirkan layanan investasi yang bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat. Dalam hal ini BIB berlaku sebagai penyelenggara teknologi finansial dan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD).

Langkah ini guna memperluas kesetaraan akses terhadap investasi yang bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat. Berdiri sejak 2019, BIB percaya setiap orang punya hak untuk menciptakan hidup yang lebih baik untuk diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya melalui perencanaan keuangan yang baik dan benar.

CEO PT Buka Investasi Bersama, Teddy Oetomo menilai, masyarakat Indonesia mulanya belum terlalu melek investasi. Namun, baru-baru ini pasar modal dalam negeri mulai menunjukkan lonjakan hingga empat kali lipat.

Sepanjang 2020, jumlah investor di Pasar Modal Indonesia yang terdiri atas investor saham, obligasi, maupun reksa dana, meningkat 56 persen mencapai 3,87 juta Single Investor Identification (SID) hingga 29 Desember 2020.

Sejalan dengan peningkatan ini, Teddy menilai pasar modal memerlukan sebuah teknologi yang dapat memfasilitasi investasi dari berbagai lapisan masyarakat.

"Yang kita mau ini adalah sebuah teknologi di mana siapapun tidak harus orang-orang tertentu, bahkan semua, mereka akan mampu berinvestasi secara langsung. Artinya, teknologinya harus sangat mudah untuk digunakan,” kata dia dalam Bincang Investasi Virtual: Bullish Year, Is It For Everyone?, Kamis (18/3/2021).

Selain itu, juga harus memberikan nilai tambah bagi pengguna. Selanjutnya, modal awal berinvestasi harus bisa dijangkau oleh masyarakat luas. Teddy mengatakan, jangkauan dari BIB saat ini sudah cukup baik.

"Saya rasa kombinasi ini harus dijalankan supaya kita bisa membantu penetrasi dari tidak hanya inklusi keuangan. Tapi juga inklusi terhadap semua masyarakat untuk bisa berinvestasi sehingga ke depannya semua bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik,” tandasnya.

Hingga Februari 2021, Investor Pasar Modal RI Tembus 4,5 Juta

Layar sekuritas menunjukkan data-data saat kompetisi Trading Challenge 2017 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (7/12). Kompetisi Trading Challenge 2017 ini sebagai sarana untuk menciptakan investor pasar modal berkualitas. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Layar sekuritas menunjukkan data-data saat kompetisi Trading Challenge 2017 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (7/12). Kompetisi Trading Challenge 2017 ini sebagai sarana untuk menciptakan investor pasar modal berkualitas. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, investor pasar modal di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih melanjutkan tren peningkatan. Hingga Februari 2021, BEI mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 4,5 juta.

"Sampai dengan Februari 2021, jumlah investor Pasar Modal Indonesia telah mencapai 4.515.103 investor,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen dalam video konferensi, Jumat (12/3/2021).

Angka ini naik 16,35 persen, atau bertambah 634 ribu investor baru dari posisi akhir tahun 2020. Kendati begitu, Hoesen mengatakan, tingkat literasi dan inklusi di pasar modal masih jauh dari harapan. Yakni sekitar 4,9 persen untuk tingkat literasi dan 1,55 persen untuk tingkat inklusi di sektor ke pasar modal.

Sehubungan dengan itu, BEI berasama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya, yakni PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) meluncurkan Inovasi Edukasi Digital untuk Pasar Modal Indonesia.

"Semoga kegiatan kita pada pagi hari ini dapat mendorong peningkatan literasi inklusi pasar modal di seluruh Indonesia,” kata dia.

Dalam inovasi tersebut, BEI mencanangkan empat terobosan baru. Yakni, IDX Virtual Tour 360, Halaman Edukasi Investasi di Website BEI dan Modul Sekolah Pasar Modal Digital, Kompetisi Galeri Investasi BEI: IDX GI-a-thon, serta konsep Galeri Investasi Edukasi BEI dan Galeri Investasi Digital BEI.

Di sisi lain, terobosan baru ini sejalan dengan upaya SRO dan OJK dalam menyediakan sarana edukasi kepada masyarakat, terutama yang berbasis digital, untuk meningkatkan pertumbuhan investor dari kalangan akademisi dan stakeholders di tengah dampak pandemi COVID-19.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini