Investigasi: Peluru yang Bunuh Jurnalis Al Jazeera Berasal dari Militer Israel

Merdeka.com - Merdeka.com - Para jurnalis itu mengira mereka aman.

Beberapa blok dari sana, baku tembak antara tentara Israel dan sekelompok pria Palestina baru saja berhenti. Berharap bisa mewawancarai saksi mata, sekelompok jurnalis itu menuju jalan di mana tentara Israel melakukan konvoi. Di antara mereka ada Shireen Abu Aqla, jurnalis senior Al Jazeera.

Tiba-tiba, enam peluru beterbangan di atas mereka. Mereka lari untuk berlindung. Shireen meringkuk dekat sebuah pohon carob.

Tujuh tembakan meletus lagi.

"Adakah yang terluka?" teriak seorang pejalan kaki, Sleem Awad, sebelum melihat Shireen tersungkur.

"Shireen! Shireen" teriaknya, setelah mengenali jurnalis ternama itu.

"Astaga, Shireen!" lanjutnya, seperti dikutip dari laman The New York Times, Senin (20/6).

Pejabat Palestina mengatakan Shireen sengaja dibunuh tentara Israel pada 11 Mei di kota Jenin, Tepi Barat yang diduduki. Namun menurut pejabat Israel, seorang tentara kemungkinan tidak sengaja menembak Shireen dan juga menduga Shireen bisa jadi dibunuh pria Palestina bersenjata. Hasil penyelidikan awal Angkatan Darat Israel menyimpulkan "tidak mungkin secara tegas menentukan sumber tembakan."

Investigasi sepanjang satu bulan yang dilakukan The New York Times menemukan, peluru yang membunuh Shireen ditembakkan kira-kira dari lokasi konvoi militer Israel, kemungkinan besar oleh seorang tentara dari unit elit.

Bukti yang dikaji New York Times menunjukkan, tidak ada orang Palestina bersenjata di dekat lokasi Shireen ditembak. Ini bertentangan dengan klaim Israel yang menuding kemungkinan Shireen ditembak pria Palestina bersenjata.

Investigasi New York Times juga menunjukkan ada 16 tembakan dilepaskan dari lokasi konvoi militer Israel. Ini juga bertentangan dengan klaim Israel bahwa tentara menembakkan lima peluru ke arah para jurnalis. New York Times juga tidak menemukan bukti bahwa orang yang menembak itu mengenali Shireen dan menargetkannya secara pribadi. New York Times tidak bisa memastikan apakah penembak itu melihat Shiren dan rekan-rekannya memakai rompi anti peluru yang bertuliskan "PRESS" yang menandakan mereka jurnalis.

Pada 11 Mei tersebut, Shireen datang ke Jenin untuk meliput penggerebekan militer Israel di kota itu. Israel melakukan penggerebekan setelah serangkaian serangan milisi Palestina menewaskan 19 orang Israel dan warga asing di mana pelaku penyerangan berasal dari Jenin. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel