Investor Baru Banjiri Pasar Modal Saat Pandemi COVID-19, Ini Alasannya

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan kondisi pasar modal yang dibanjiri investor baru selama pandemi COVID-19.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso menyebutkan investor ritel tumbuh menjadi sekitar 4 juta di pasar modal, terbanyak sepanjang sejarah.

"Akhir-akhir ini di seluruh dunia banyak masyarakat tertarik untuk investasi di pasar modal karena ruang konsumsinya belum pulih seperti semula. Jadi disposable income-nya bisa dari pasar modal,” ujar Wimboh dalam Konferensi Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (1/2/2021).

Untuk itu, OJK telah meluncurkan securities crowdfunding (SCF), bertepatan dengan perdagangan bursa perdana 2021. Ada SCF ini dimaksudkan untuk memenuhi permintaan dari investor yang terus meningkat.

Sehingga OJK merasa perlu untuk juga menyeimbangkan pasar modal dengan menyediakan instrumen baru. Sekaligus menyasar investor muda dan menjadi alternatif sumber pendanaan bagi UMKM untuk mengembangkan usahanya.

"Kami ingin menjaga agar supply-nya (terkendali). Kita dorong , kita percepat dengan mengeluarkan SCF kepada kaum muda, milenial. Apabila memiliki proyek rekanan pemerintah ini bisa keluarkan surat utang melalui pasar modal secara elektronik,” ujar Wimboh.

Potensi Skema Pembiayaan SFC

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat diskusi FMB 9 bertajuk 'Investasi Unicorn untuk Siapa?', Jakarta (26/2). Potret e-commerce dan start-up Indonesia diyakini akan menjadi saran lompatan besar untuk Indonesia. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat diskusi FMB 9 bertajuk 'Investasi Unicorn untuk Siapa?', Jakarta (26/2). Potret e-commerce dan start-up Indonesia diyakini akan menjadi saran lompatan besar untuk Indonesia. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Dalam perhitungan OJK, skema pembiayaan SFC ini potensinya mencapai Rp 75 triliun. Selain itu, menyikapi maraknya isu di pasar modal beberapa waktu terakhir, OJK menekankan pihaknya akan terus melakukan edukasi kepada masyarakat. Termasuk menjelaskan cara kerja bursa. Sehingga apabila ada resiko seperti koreksi, maka masyarakat tidak kaget.

"Melakukan edukasi agar bisa memahami produk di pasar modal sifatnya bisa volatile. Sehingga analisis fundamental perlu tahu. Jangan terbawa-bawa kepada analisis teknikal yang sewaktu-waktu bisa terkoreksi. Apabila sudah paham, pilihan jatuh pada investor,”

"Jangan sampai nanti apabila terkoreksi, kaget, dan akhirnya menimbulkan permasalahan di masyarakat,” ia menambahkan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini