Investor disarankan perhatikan portofolio saham jelang libur lebaran

·Bacaan 2 menit

Kepala Riset Reliance Sekuritas Alwin Rusli menyarankan investor untuk kembali memerhatikan portofolio sahamnya menjelang libur panjang Lebaran 2022 guna mengatur strategi mendapatkan cuan (keuntungan) atau untuk menghindari kerugian akibat pergerakan saham.

"Strategi ini tergantung dari preferensi masing-masing investor. Namun ada baiknya untuk memperhatikan portofolio yang sudah dimiliki, apabila memiliki saham yang masih memiliki potensi untuk naik di masa lebaran sebaiknya dipertahankan, dan saham-saham yang memiliki kinerja yang kurang baik, dapat dilakukan stoploss sebagian atau seluruhnya," ujar Alwin saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Alwin menyampaikan, selama libur lebaran, kegiatan ekonomi tetap berjalan khususnya untuk sektor pariwisata dan penjualan produk-produk pangan serta sandang.

"Hal ini dapat mendorong kinerja para emiten yang berkaitan dengan produk-produk tersebut yang akhirnya akan meningkatkan kinerja pergerakan saham," kata Alwin.

Menurut Alwin, mayoritas para investor akan melakukan penarikan terhadap dananya untuk kebutuhan lebaran. Oleh sebab itu, kondisi bursa diperkirakan akan mengalami pelemahan menjelang hari libur bursa.

Ia juga mengingatkan kepada investor untuk memerhatikan jarak waktu settlement saham yaitu T+2.

"Bagi para investor yang memiliki outstanding saham setelah T+2 sebelum libur bursa, saya sarankan untuk melunasi berbagai kewajiban yang dimiliki untuk menghindari beban bunga yang akan muncul. Sementara apabila masih dalam jangka waktu T+2, misal melakukan transaksi tanggal 27 April, maka T+2 jatuh di tanggal 9 Mei dan tidak ada beban bunga yang dikenakan," ujar Alwin.

Sementara itu, analis Kanaka Hita Solvera (KHS) Andhika Cipta Labora menyarankan investor untuk mengurangi portofolio di saham jelang libur panjang Idul Fitri 1443 Hijriah.

"Melihat libur lebaran yang cukup panjang, investor dapat mengurangi posisi portofolionya di saham dan memperbanyak cash karena masih memanasnya hubungan geopolitik antara Rusia dan Ukraina, serta adanya rencana The Fed menaikkan suku bunga pada bulan Mei 2022 sebesar 50 basis poin," ujar Andhika.

Selain itu, adanya potensi kenaikan jumlah kasus COVID-19 pasca libur lebaran, dikhawatirkan dapat mengakibatkan kenaikan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) kembali di berbagai daerah di Indonesia.

Baca juga: BEI ajak pelaku UMKM jadi investor saham
Baca juga: PwC: Aspek ESG perlu dipersiapkan dalam perjalanan menuju IPO

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel