Investor Disentil karena Cuma Guyur Duit di Startup Teknologi

Lazuardhi Utama
·Bacaan 2 menit

VIVA – Turki didapuk sebagai negara dengan belanja modest fashion terbesar di dunia yang saat ini totalnya mencapai US$29 miliar (Rp421 triliun). Diikuti Uni Emirat Arab (UEA) dengan US$23 miliar (Rp334 triliun) dan Indonesia yang mencapai US$21 miliar (Rp305 triliun).

Sementara untuk ekspor, China berada di urutan pertama dengan US$10,6 miliar (Rp154 triliun), India US$3,1 miliar (Rp45 triliun), dan Turki US$2,3 miliar (Rp33 triliun). Pada 2024, belanja Moslem and Clothing Apparel diperkirakan tumbuh sebesar 6 persen atau mencapai US$402 miliar (Rp6.096 triliun).

Baca: Rapihin Gigi dengan Kecerdasan Buatan

"Saat ini pencarian Google dengan keyword 'moslem fashion' muncul nama Indonesia dengan 77 persen. Diikuti Malaysia 15 persen dan sisanya Inggris serta negara lain," kata Pembina Industri Kreatif dan Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Amy Atmanto, Sabtu, 24 April 2021.

Dengan demikian, potensi ekspor yang besar ke Arab Saudi, Pakistan, UAE, serta Eropa Selatan, Eropa Timur dan Asia Selatan terbuka lebar dan tak pelak membutuhkan dukungan investor, pemerintah, serta perbankan.

Amy berharap, pelaku modest fashion Indonesia terus berinovasi sehingga mampu menarik minat para investor supaya tidak hanya berinvestasi ke startup bidang aplikasi teknologi saja. ”Kita berharap prospek industri modest fashion di Indonesia dapat direalisasikan sampai munculnya unicorn modest fashion moslem Indonesia," tegas dia.

Sementara itu, Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), Sri Mulyani, menyampaikan peranan perempuan yang menjadi wirausaha meningkatkan potensi kontribusi terhadap PDB yang sangat besar.

"Contoh nyata adalah sektor UMKM, di mana sebesar 53,76 persennya dimiliki oleh perempuan dengan 97 persen karyawan adalah perempuan yang kontribusi terhadap perekonomian cukup besar, yakni 61 persen," tuturnya.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menambahkan pasar keuangan syariah di Indonesia terus berkembang. Tidak hanya perbankan syariah, tetapi juga pasar modal hingga fintech syariah.

Inklusivitas pada EKSyar (cetak biru sistem pembayaran ekonomi dan keuangan syariah) menjadi nilai tambah, sehingga mampu menjadi jembatan untuk mengurangi ketimpangan antara orang kaya dan miskin. "Sebab, saat ini masih ada 130 juta penduduk Indonesia yang belum terjangkau akses perbankan," papar dia.