Investor Kehilangan Tabungan Rp 401 Juta Usai Pencipta Kripto Squid Game Kabur

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bernard mendengar terkait token yang dinamai dari serial populer Netflix Korea Selatan “Squid Game,” K-drama ini menceritakan kehidupan seseorang yang dililit utang sehingga memaksanya bergabung dengan permainan ini. Lantaran Squid Game menawarkan hadiah dengan nominal besar.

Bernard kemudian melakukan pemindaian cepat di Google untuk melihat apakah koin itu sah atau ilegal. Setelah menjadi perbincangan utama, banyak yang memperingatkan bahaya atas indikasi yang terlihat proyek tersebut.

Ia pun memutuskan investasi seluruh tabungan sebesar USD 28 ribu atau Rp 401,2 juta ke SQUID. Aset kripto yang mengklaim sebagai sebagai "play-to-earn". Menurut CoinMarketCap mencatat token mencapai level tertinggi lebih dari USD 2.860 setara Rp 40,9 juta sebelum jatuh ke hampir nol pada Senin, 1 November 2021.

"Ketergesaan saya untuk membeli SQUID karena satu ide yang masuk ke otak. Menurut saya Squid Game sangat-sangat populer sekarang. Maka tokennya harus populer sekarang. Ini sebuah tragedi. Saya tidak tahu bagaimana memulihkan kehilangan saya,” ujar Bernard, korban token SQUID yang tinggal di Shanghai. Bernard bukanlah nama sebenarnya hal ini demi keamanan narasumber.

Bernard mengungkapkan saat ini berupaya mendukung keluarganya untuk membayar tagihannya. Catatan transaksi dari BscScan tampaknya menunjukkan pencipta token mengumpulkan setidaknya USD 3,4 juta atau setara Rp 48,68 miliar dari dana investor. Ekosistem kripto dipenuhi dengan skema "tarik karpet”.

Jadi pendiri token tiba-tiba meninggalkan proyek mereka dan membawa kabur dana investor kemudian menguangkannya.

"Squid Game Dev tidak ingin melanjutkan proyek karena kami tertekan dari scammers dan diliputi stres,” pembelaan dari pengembang Squid dalam unggahan Senin, 1 November 2021 di lini masa di Telegram.

Saat ini jumlah anggota lebih dari 89.000 anggota. Buku putih dan situs web token telah menghilang, meskipun salinan arsip dari halaman arahan dan kertas putih resminya masih online.

Twitter untuk sementara membatasi akunnya karena "aktivitas yang mencurigakan” Pencipta tidak menanggapi beberapa email yang dikirim CNBC ke alamat yang tercantum di situs web.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

FOMO

Pengunjung mengambil foto dekat boneka 'Younghee' yang menjadi maskot dalam serial Netflix asal Korea, Squid Game, di Olympic park, Seoul, Selasa (26/10/2021). Boneka setinggi empat meter atau 13 kaki itu, akan dipamerkan di taman tersebut selama tiga bulan. (AP Photo/Lee Jin-man)
Pengunjung mengambil foto dekat boneka 'Younghee' yang menjadi maskot dalam serial Netflix asal Korea, Squid Game, di Olympic park, Seoul, Selasa (26/10/2021). Boneka setinggi empat meter atau 13 kaki itu, akan dipamerkan di taman tersebut selama tiga bulan. (AP Photo/Lee Jin-man)

Bernard mengatakan dia telah menghubungi FBI dan SEC terkait dana investasinya yang hilang. Dia juga telah menghubungi tim di belakang token, serta CoinMarketCap milik Binance yang mencantumkan koin di situs webnya Mirisnya kedua institusi tersebut tidak bertanggung jawab atas kehilangannya.

Bernard memiliki banyak pengalaman dalam kripto dan komputer. Namun, untuk masalah ini, Bernard menyalahkan media atas investasinya di SQUID. Dia tidak sendirian, sebagian di antaranya sudah digaungkan di Twitter. Para korban mengungkapkan merekalah yang membuat koin meme ini menjadi populer. Pengguna Twitter juga memberikan dukungan secara implisit kepada para korban.

“Di ruang perdagangan ini, semua orang akan terburu-buru. Terkadang Anda merasakan FOMO,” ujar

Bernard. Perasaan FOMO atau rasa takut ketinggalan adalah sentimen umum di antara pedagang kripto yang berinvestasi di altcoin. Utamanya bagi para pemula yang ingin sekali mendapat peluang pengembalian besar dan cepat atas investasi mereka.

Rasa Fomo dalam Diri Investor

Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay
Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay

Saurabh Dubey tertarik dengan aset kripto sejak 2016. Saat ini, dia bekerja untuk sebuah firma akuntansi di AS. Hobi bermain aset kripto pun tidak ditinggalkan. Secara konsisten di waktu luang dia memainkan altcoin baru.

Lewat tengah malam setiap hari, Dubey melihat koin baru yang terdaftar di CoinMarketCap dan CoinGecko. Dia mencoba mengidentifikasi tren berdasarkan grafik. Dia biasanya memasang taruhan sekitar USD 100 atau setara Rp 1,4 juta pada koin yang menurut dia menjanjikan dalam pergerakan harga awal.

"Beberapa memiliki kesempatan untuk menjadi gila," kata dia.

Dubey menururkan baru-baru ini dari hasil taruhan dia pergunakan untuk berinvestasi ke token SQUID senilai USD 250 atau setara Rp 3,5 juta.

"Saya pikir saya akan bermain dengan uang rumah,” kata Dubey.

Di awal kemunculan, token SQUID diperdagangkan sekitar 4 sen, jauh sebelum semua populer di media. Alasan Dubey berinvestasi di SQUID karena menempati token peringkat kedua pada daftar koin terbaru yang terdaftar di CoinMarketCap.

"Saya mengambilnya karena sudah memiliki sejumlah volume dan sudah memiliki sejumlah keuntungan, dan jika Anda melihat grafik, Anda akan melihat bahwa grafik meniru awal bagaimana SafeMoon dimulai," kata Dubey, mengacu pada altcoin yang diluncurkan pada Maret yang dihargai dengan cepat dan masih diperdagangkan.

Dia mencatat, investasinya adalah gerakan lebih dari apa pun. "Itu tidak ilmiah".

Kejanggalan Token SQUID

Ilustrasi aset kripto, mata uang kripto, Bitcoin, Ethereum, Ripple. Kredit:  WorldSpectrum via Pixabay
Ilustrasi aset kripto, mata uang kripto, Bitcoin, Ethereum, Ripple. Kredit: WorldSpectrum via Pixabay

Namun, kemudian Dubey mulai memperhatikan semua tanda bahaya, banyak di antaranya yang dia harap bukan masalah besar.

"Bendera terbesar adalah tidak pernah turun, Setiap koin harus memiliki penurunan. Tidak mungkin sebuah koin naik terus menerus selama lima hari. Satu-satunya hal yang terlihat seperti penurunan adalah ketika koin itu tetap pada level yang sama,” ujar Dubey.

Dia menambahkan tingkat apresiasi harga menjadi perhatian besar lainnya. Ketika mencapai nilai USD 1, dia berpikir ini masih masuk akal.

"Itu bisa terjadi namun saat nilainya mencapai USD 10, dari situ saya mulai berpikir ada sesuatu yang tidak beres. Sebagian besar koin yang sebenarnya memiliki produk di belakangnya hampir tidak dapat mencapai titik itu,” lanjutnya.

Peringatan yang Dubey temukan lainnya adalah tidak ada pendiri token yang dapat ditemukan di LinkedIn. Apalagi situs web dan kertas putihnya dipenuhi dengan kesalahan tata bahasa dan ejaan. Pada akhirnya, Dubey tidak lagi berekspektasi tinggi terhadap token ini.

Tak Dapat Berbuat Banyak

Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay
Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay

Investor seperti Bernard yang mempertaruhkan semua tabungan mereka pada koin ini ingin pencipta di balik proyek tersebut bertanggung jawab.

Bernard, yang telah proaktif dalam menjangkau pihak berwenang AS, mengatakan tidak ada cara lain yang bisa dia lakukan untu memperjuangkan asetnya. Sebab dia tidak dapat mengajukan laporan ke polisi.

"Di China, tidak legal untuk memperdagangkan cryptocurrency," ungkap Bernard.

Reporter: Ayesha Puri

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel