Investor Khawatir Kenaikan Kasus COVID-19, Wall Street Merosot

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan saham Selasa, 20 April 2021. Kinerja pendapatan perusahaan yang kuat gagal mendorong wall street yang sudah dekati rekor tertinggi.

Di sisi lain, kenaikan kasus COVID-19 secara global mengkhawatirkan sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang pemulihan ekonomi.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham Dow Jones melemah 256,33 poin atau 0,8 persen ke posisi 33.821,30. Saham Boeing dan Nike turun lebih dari empat persen.

Indeks saham S&P 500 susut 0,7 persen ke posisi 4.134,94. Indeks saham Nasdaq melemah 0,9 persen menjadi 13.786,27.

Saham maskapai dan jalur pelayaran melemah pada perdagangan Selasa, 20 April 2021. Saham United Airlines melemah 8,5 persen setelah maskapai melaporkan kerugian kuartalan lima kali berturut-turut.

Perseroan juga menyatakan kalau pemulihan perjalanan bisnis dan internasional masih jauh. Saham American Airlines merosot 5,5 persen. Sementara itu, saham Carnival dan Norwegian Cruise Line susut lebih dari 4 persen. Demikian dilansir dari CNBC, Rabu (21/4/2021).

Aksi jual terjadi di saham-saham yang berkaitan dengan pembukaan kembali ekonomi. Hal ini seiring Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan infeksi kasus COVID-19 global mendekati level tertinggi saat pandemi COVID-19.

Di AS, negara tersebut mempertahankan kecepatan 3 juta program vaksinasi COVID-19 yang dilaporkan per hari. Namun, sekitar 67.100 infeksi baru kasus COVID-19 setiap hari masih terjadi.

Musim Laporan Laba Belum Mampu Angkat Wall Street

Steven Kaplan (tengah) saat bekerja dengan sesama pialang di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)
Steven Kaplan (tengah) saat bekerja dengan sesama pialang di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Di sisi lain, musim laporan laba yang kuat tidak banyak mengangkat pasar. Banyak pihak di wall street percaya berita kinerja keuangan telah dihargai di pasar yang telah naik mencapai rekor.

Indeks saham Dow Jones dan S&P 500 ditutup ke rekor tertinggi ada Jumat, 16 April 2021. Indeks saham Dow Jones menyentuh di atas level 34.000 untuk pertama kali pada pekan lalu.

Saham Procter and Gamble naik 0,8 persen setelah raksasa konsumen itu melaporkan pendapatan kuartalan yang mengalahkan harapan. Hal tersebut didukung perawatan di rumah akan meningkat karena pandemi COVID-19 yang masih terjadi.

“Sekarang, kita semua terbiasa dengan perusahaan yang mengalahkan perkiraan analis. Kuncinya keberlanjutan peningkatan pendapatan ini. Sebagian besar faktor yang menghasilkan laba besar ini biasanya dianggap hanya satu kali,” tutur dia.

Kinerja Keuangan Perusahaan Melampaui Harapan

Ekspresi spesialis David Haubner (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)
Ekspresi spesialis David Haubner (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Musim laporan kuartal I 2021 dimulai dengan awal yang baik. Sekitar 90 persen dari perusahaan di S&P 500 sejauh ini telah melaporkan kinerja keuangan melampaui rata-rata harapan lebih dari 20 persen.

Saham Johnson&Johnson naik 2,3 persen seiring pendapatan lebih baik dari perkiraan. Perseroan juga melaporkan penjualan USD 100 juta untuk vaksin COVID-19 pada kuartal I 2021. Sebelumnya pemakaian vaksin COVID-19 Johnson and Johnson ditangguhkan regulator AS karena masalah pembekuan darah yang langka dan hal itu masih diselidiki.

Di sisi lain saham Travelers Companies naik 0,9 persen setelah menyampaikan hasil kuartalan yang melampaui perkiraan wall street. Perusahaan juga menaikkan dividen tunai kuartalan dan menyetujui tambahan USD 5 miliar untuk pembelian kembali saham.

"Pasar sedikit tegang pada titik ini, jadi kita mungkin melihat saham mengambil langkah kecil. Itu normal, dan kami berharap penurunan apa pun dapat dibeli dengan cepat,” ujar Senior Investment Strategist Ally Invest Callie Cox.

Saham Tesla naik sedikit setelah turun lebih dari tiga persen pada sesi sebelumnya. Hal ini seiring bitcoin yang membentuk sebagian neraca Tesla merosot pada akhir pekan lalu.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini