Investor Menanti Hasil Penyelesaian Pembayaran Utang Evergrande

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - China Evergrande Group hadapi tenggat waktu membayar bunga obligasi dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis, 23 September 2021. Momen ini sangat penting bagi investor global. Seiring lesunya perusahaan itu dapat menyebar ke luar sektor properti China.

Pasal global bereaksi sedikit mendapat udara segar. People’s Bank of China menyuntikkan CNY 90 miliar atau USD 13,9 miliar. Jumlah ini setara Rp197,9 triliun (estimasi kurs Rp14.244 per dolar AS) ke sistem perbankan pada Rabu, 22 September 2021.

Unit Evergrande mengatakan telah menyelesaikan pembayaran kupon pada obligasi atau surat utang dalam negeri. Pengembang China masih menanggung beban berat pembayaran bunga obligasi sekitar USD 83,5 juta atau sekitar Rp 1,18 triliun. Pada Kamis, 23 September 2021 merupakan waktu jatuh tempo. Jumlah yang harus dibayar atas obligasi luar negeri senilai USD 2 miliar (sebanding Rp28,4 triliun).

Evergrande pun harus mengeluarkan dana untuk pembayaran bunga obligasi senilai USD 47,5 juta atau setara Rp676,5 miliar pada pekan depan. Pengembang properti terbesar China ini mengalami masalah selama beberapa bulan terakhir. Penyebabnya Beijing memperketat peraturan di sektor propertinya untuk menahan utang dan spekulasi tidak terlalu banyak.

Utang sejumlah USD 305 miliar setara Rp 4.344,4 triliun membuat Evergrande kesulitan memenuhi kewajibannya. Investor khawatir “penyakit” Evergrande menyebar ke krediturtermasuk bank di China maupun luar negeri. Beberapa analis mengatakan perlu waktu berminggu-minggu bagi para investor memperoleh kejelasan tentang bagaimana akhir dari situasi ini.

“Perusahaan dapat merestrukturisasi utangnya tetapi terus beroperasi atau dapat dilikuidasi. Dalam dua kasus itu, investor instrument keuangan mungkin akan menderita kerugian,” ujar Head of Global Market Strategy Wells Fargo Investment Institute, Paul Christopher.

"Jika terjadi likuidasi, investor China dan global dapat menyimpulkan bahwa penularandapat menyebar ke seluruh China,” ia menambahkan, dilansir dari laman ChannelNewsAsia, Kamis, (23/9/2021).

Baru-baru ini, kelompok pemegang obligasi Evergrande memilih bank investasi Moelis &Co serta firma hukum Kirkland &Ellis sebagai penasihat potensial restukturisasi tahap obligasi. Pernyataan itu dikeluarkan oleh orang terdekat masalah terkait. Saran berfokus pada sekitar USD 20 miliar obligasi luar negeri yang beredar jika terjadi non-pembayaran.

Analis telah meremehkan risiko ancaman keruntuhan momen Lehman serta krisis likuiditas yang dapat membekukan sistem keungan dan menyebar luas secara global.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tanggapan Ketua The Fed Jerome Powell

Gubernur BI Perry Warjiyo berdiskusi dengan Ketua Dewan Pengurus Bank Sentral AS (Chairman of the Federal Reserve), Jerome Powell, di sela-sela pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia, di Bali (13/10/2018). (Ilyas/Liputan6.com)
Gubernur BI Perry Warjiyo berdiskusi dengan Ketua Dewan Pengurus Bank Sentral AS (Chairman of the Federal Reserve), Jerome Powell, di sela-sela pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia, di Bali (13/10/2018). (Ilyas/Liputan6.com)

Ketua Federal Reserve AS (The Fed) Jerome Powell mengungkapkan masalah Evergrande tampaknya khusus untuk China. Dia tidak melihat paralel dengan sektor korporasi AS.

"Bagi kami dalam hal implikasinya tidak banyak eksposur langsung ke Amerika Serikat. Bank-bank besar China tidak terlalu terekspos, tetapi Anda (investor) akan khawatir itu (krisis Evergrande) akan mempengaruhi kondisi keuangan global melalui saluran kepercayaan global dan hal semacam itu," imbuh Powell kepada wartawan setelah rapat FMOC.

Reporter: Ayesha Puri

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel