Investor Pasar Modal Sambut Baik Upaya Pemulihan Ekonomi Nasional

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah telah melakukan berbagai upaya mitigasi risiko pandemi covid-19. Dari sisi ekonomi, pemerintah meluncurkan sejumlah kebijakan, seperti restrukturisasi kredit, hingga Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan untuk mendongkrak daya beli masyarakat.

Sejalan dengan melemahnya perekonomian nasional, pasar modal semula diprediksi turut mengalami tekanan hebat. Namun, yang terjadi sebaliknya, pasar modal justru mengalami penguatan.

"Investor menyambut baik berbagai kebijakan BI maupun pemerintah. Itu terlihat dari partisipasi mereka dalam investasi, baik itu di obligasi maupun di saham,” ujar Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan dalam webinar Danamon Wealth Series, Senin, 12 April 2021.

Untuk pasar obligasi, Katarina menjelaskan imbal hasil (yield) obligasi Indonesia naik seiring dengan kenaikan dari yield obligasi Amerika Serikat (AS), maupun di berbagai belahan dunia yang lain. Bahkan kenaikan yield obligasi Indonesia dinilai overshoot.

“Jadi overshoot, terlalu tinggi kenaikan imbal hasilnya ini karena investor asing itu banyak keluar dari Indonesia setelah mengalami kepemilikan obligasi yang maksimum mendekati 40 persen. Kemudian mereka berangsur-angsur turun kepemilikannya di Indonesia,” ujar Katarina.

Namun, di saat yang bersamaan, Katarina menyebutkan terjadi peningkatan kepemilikan dari investor domestik. Hal ini mencerminkan keyakinan investor domestik terhadap fundamental dari obligasi Indonesia.

“Selain partisipasi yang meningkat itu kita juga melihat bahwa likuiditas di pasar kita itu masih sangat terjaga. Karena kita lihat kredit belum tumbuh banyak. Jadi likuiditasnya masih banyak,” kata dia.

Bagaimana dengan Saham?

Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Sejak pagi IHSG terjebak di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Sejak pagi IHSG terjebak di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pasar saham Indonesia tidak luput dari volatilitas yang terjadi di pasar global dan regional. Namun, penurunan yang terjadi membuat valuasi IHSG turun ke level yang atraktif.

Rasio PE IHSG turun ke level 14,33, di bawah rata-rata 5 tahun pada level 15,03.“Koreksinya ada baru-baru ini menyebabkan valuasi dari saham kita itu menjadi sangat menarik. Sekarang kondisi PER ada di rata-rata 5 tahun yang lalu. Jadi sudah kembali ke 15 kali, jauh lebih rendah dibanding dengan pasar di negara lain,” ungkap Katarina.

Di sisi lain, Katarina mengatakan pasar kondisi pasar saham erat kaitannya dengan pertumbuhan pertumbuhan laba koperasi. Sebagai gambaran, jika laba korporasi naik, maka pasar saham juga akan mengalami kenaikan. Sebaliknya, jika laba korporasi anjlok, pasar saham juga mengikuti.

“Konsesus memperkirakan tahun ini akan ada lonjakan pertumbuhan laba, setelah laba korporasi turun tajam tahun lalu. Jadi dengan adanya lonjakan pertumbuhan laba diperkirakan pasar saham kita akan turut didukung dengan kenaikan pertumbuhan laba korporasi tahun ini,” pungkas Katarina.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini