Investor Perlu Perhatikan Ini saat Musim Pembagian Dividen

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Musim pembagian dividen merupakan momentum yang dinantikan investor. Biasanya harga saham perusahaan yang membagikan dividen berpeluang naik hingga tanggal cum date, sejalan dengan nilai dividend yield pada harga saham saat itu.

Adapun pembagian dividen dilakukan setelah mendapat persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). RUPS ini biasanya dilakukan pada akhir kuartal pertama hingga kuartal kedua tiap tahun.

Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada mengatakan pelaku pasar umumnya akan mengincar tanggal cum saat musim pembagian dividen.

"Strategi sebenarnya kurang lebih sama. Biasanya pelaku pasar incar tanggal cum untuk ambil saham karena dianggap tanggal tersebut tanggal dimana pelaku pasar masih berhak mendapatkan dividen,” kata Reza kepada Liputan6.com, ditulis Minggu, (30/5/2021).

Sebagai gambaran, investor perlu memperhatikan tanggal-tanggal penting saat pembagian dividen. Antara lain cum date, ex date, recording date, dan payment date. Cum date, yakni tanggal terakhir bagi investor yang ingin membeli saham tertentu dan ingin mencatatkan diri sebagai pemegang hak untuk mendapatkan dividen dari emiten tersebut.

Ex date, yaitu tanggal setelah cum date. Bila investor melakukan pembelian saham pada tanggal ini, investor tidak akan mendapatkan hak dividen dari emiten tersebut. Recording date, adalah tanggal pencatatan bagi pemilik saham yang berhak mendapatkan dividen. Payment date merupakan tanggal pembayaran dividen.

“Ketika jauh-jauh hari saham cenderung melemah, maka kondisi tersebut bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap hingga tanggal cum,” kata Reza.

Musim Pembagian Dividen Masih Berlangsung, Simak Rekomendasi Analis

Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, musim pembagian dividen dari tahun buku 2020 masih berlanjut. Teranyar, ada PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengumumkan akan membagi dividen Rp 16,64 triliun, setara 80 persen dari laba bersih 2020. Dividen itu setara Rp 168,01 per saham.

Hal itu disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Perseroan yang diselenggarakan Jumat, 28 Mei 2021. Adapun pemegang saham yang berhak menerima dividen adalah yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham per 10 Juni 2021.

Selain TLKM, ada PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang juga menggelar RUPS dan menyetujui pembagian dividen final Rp 100 per saham untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2020. Total nilai dividen yang dibagikan berjumlah Rp 3,81 triliun.

Dividen itu akan dibagikan kepada pemegang atau pemilik 38.150.000.000 saham perseroan yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada 9 Juni 2021. Keputusan pembagian dividen Unilever Indonesia telah ditetapkan pada Kamis, 27 Mei 2021.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan, secara umum, saham dengan yield dividen di atas bunga deposito menarik untuk investasi. Dengan catatan, emiten tersebut dapat menghasilkan laba dan punya potensi pertumbuhan yang berkelanjutan.

"Pilihan saham yang menghasilkan dividen tinggi, paling tidak di atas rate deposito. Tapi tetap perhatikan fundamentalnya juga,” kata dia kepada Liputan6.com, ditulis Minggu, (30/5/2021).

Sukarno menjelaskan, biasanya setelah cumulative date, harga bakal turun sesuai potensi yield didapatkan. Sehingga jika fundamentalnya kuat, meskipun turun harga ada potensi kembali menguat setelahnya.

"Jadi tidak turun lebih dalam lagi,” ujar dia.

Saat ini, Sukarno menyebutkan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT) bisa dilirik. Selain dividend yield-nya besar, secara fundamental juga menarik.

“Tapi secara pergerakan hariannya sedikit kurang menarik dan kurang likuid. Itu kekurangannya,” imbuh Sukarno.

Sebagai gambaran, emiten pertambangan batu bara, itu menyetujui pembagian dividen tunai USD 300 juta atau setara USD 0,09 per saham.

Dengan estimasi kurs Rp 14.300 per dolar AS, nilai dividen yang disalurkan BYAN setara dengan Rp 4,29 triliun atau Rp 1.287 per saham. Sementara EPMT menyetujui pembagian dividen sebesar Rp 541,73 miliar atau setara Rp 200 per saham.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel