Investor Pilih Mobil Murah Ketimbang 'Low Emission'

OTOSIA.COM - Dua proyek yang tengah digulirkan Pemerintah Indonesia di sektor otomotif ternyata belum menunjukkan respon maksimal. Proyek mobil murah/Low Cost Green Car (LCGC) ternyata lebih diminati oleh para investor, dibandingkan perakitan mobil rendah emisi atau ramah lingkungan/Low Emission Carbon Project (LECP).

Tercatat lima prinsipal otomotif Jepang telah memastikan untuk ikut 'bermain' sejak LCGC didengungkan dua tahun lalu, walau regulasinya tak kunjung terbit. Dana yang berhasil dihimpun dari kelima investor tersebut, yakni Toyota, Daihatsu, Suzuki, Nissan dan Honda, pun tak main-main jumlahnya, yakni sebesar US$ 2,1 miliar (Rp. 20,2 triliun).

Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi, di Bogor, Rabu (21/11), mengatakan bahwa sebenarnya banyak prinsipal yang menyatakan tertarik, tapi belum ada komitmen lebih lanjut. Bahkan, beberapa dari mereka mengklaim telah memiliki kendaraan berteknologi hemat bahan bakar.

"Hampir semua merek sebenarnya sudah punya. Hanya, biaya produksinya masih tinggi. Ini yang coba kita tarik ke Indonesia," papar Budi.

Melalui LECP, pemerintah berusaha mendorong prinsipal melokalisasi teknologi kendaraan hemat bahan bakar yang memanfaatkan turbo, hibrida sampai listrik murni. Insentif yang disiapkan juga cukup menarik, yaitu pengurangan Pajak Penambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM) hingga dihapuskan sama sekali jika memenuhi standar konsumsi bahan bakar yang ditetapkan pemerintah.

Adapun pemilihan patokan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) karena belum memungkinkannya kualitas BBM untuk memenuhi standar emisi karbon. Setidaknya untuk penggunaan batasan emisi, minimal standar Euro 3 atau 4, Indonesia masih di level Euro 2.

Lantas kapankah regulasi tersebut akan diluncurkan?

"Targetnya akhir tahun ini. Masih ada satu bulan (Desember). Bentuknya nanti PP (Peraturan Pemerintah), kemudian setiap proyek LCGC, hibrida dan listrik menggunakan peraturan menteri," pungkas Budi.(kpl/bun)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.