Investor Ritel Saham Bertambah Saat Pandemi COVID-19

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Investor ritel kini menjadi sorotan. Di Amerika Serikat (AS), investor ritel menjadi perhatian setelah bersatu menantang hedge funds atau pengelola dana investasi sehingga mendorong harga saham GameStop, perusahaan ritel video game melonjak.

Lonjakan saham GameStop tersebut dinilai tanpa fundamental perusahaan. Banyak orang menilai apa yang terjadi dengan saham GameStop tidak masuk akal. Saham GameStop sempat sentuh level tertinggi USD 413,98 pada Jumat, 29 Januari 2021.

"Model untuk membeli game di toko fisik tidak layak karena dunia telah berputar ke unduhan game yang lebiih baru. Jadi seharusnya masuk akal secara intuisi. Jika mereka tidak menyesuaikan model bisnis, masa depan tampak suram,” ujar Head of Equity Trading Wedbush Securities, Sahak Manuelian, seperti dilansir dari ABC.

Bicara soal investor ritel, di Indonesia ada pertumbuhan investor ritel. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah investor baru yang tercipta sepanjang 2020 tumbuh 53,47 persen dari total jumlah investor pada 2019.

Jumlah investor saham telah mencapai 1.695.268 single investor identification (SID) pada akhir 2020. Terdapat pertumbuhan sebanyak 590.658 SID jika dibandingkan dengan total jumlah investor saham pada akhir 2019 yang mencapai 1.104.610 SID.

Investor baru tersebut pun didominasi oleh generasi milenial dengan rentang usia 18-30 tahun yang mencapai 411.480 SID atau 70 persen dari total investor baru 2020.

Pengamat pasar modal Budi Frensidy menuturkan, ada sejumlah faktor mendorong pertumbuhan investor ritel di Indonesia.

Pertama, Budi mengatakan, saham menjadi salah satu alternatif investasi di tengah bunga deposito rendah. Kedua, Budi melihat saat ini, sektor riil juga lesu karena prospek belum pasti di tengah kondisi pandemi COVID-19. Oleh karena itu, investasi saham menjadi alternatif.

Ketiga, Budi menuturkan, ada influencer saham juga menjadi daya tarik sehingga menarik investor pemula. Selain itu, Budi mengatakan, sosialisasi dan edukasi yang dilakukan regulator mengenai pasar modal juga menuaikan hasil sehingga turut menambah jumlah investor di pasar saham.

"Saat ini juga mudah transaksi saham bisa melalui online dengan HP dan laptop,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu, (30/1/2021).

Pasar Saham Turun Turut Berkontribusi

Pekerja melintas di depan layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2020).  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,34% ke level 5.014,08 pada pembukaan perdagangan sesi I, Senin (8/6). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja melintas di depan layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,34% ke level 5.014,08 pada pembukaan perdagangan sesi I, Senin (8/6). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, Budi mengatakan, ketika harga saham merosot pada Maret dan April 2021 juga turut mendorong pertumbuhan investor.

Mengingat investor pemula mendapatkan saham dengan harga murah karena pasar saham turun dan mendapatkan keuntungan atau cuan ketika kondisi pasar mulai membaik. Menurut Budi, hal itu menarik orang lain untuk masuk ke pasar saham karena melihat mudah dapat keuntungan di saham. Akan tetapi, Budi mengingatkan investasi saham berbeda dengan tabungan di bank.

Hal ini seiring ada profil risiko, semakin besar untung didapatkan maka profil risiko juga besar. Selain itu, seseorang juga harus belajar mengenai laporan keuangan perusahaan, profil perusahan, dan lainnya untuk investasi saham.

"Ini ada terdorong beli saham di harga bawah ketika pasar saham turun pada Maret dan April, kemudian saham naik sehingga dijual. Tapi sekarang harga sahamnya sudah naik, agresif beli, dan ketika sahamnya turun dan kena auto reject bawah jadi ini bisa bikin investor ritel kapok karena ikut-ikutan dan bisa buat investor ritel berkurang,” ujar dia.

Investasi Saham Bukan Hanya Sekadar Ikut-Ikutan

Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meski demikian, Budi menuturkan, pertumbuhan investor saham patut disyukuri. Hal ini membuat masyarakat semakin mengenal pasar modal terutama saham. Selain itu, pasar saham juga digerakkan oleh investor ritel dan bukan hanya institusi saja.

Akan tetapi, Budi mengingatkan agar regulator juga menekankan mengenai profil risiko investasi. Sosialisasi dan edukasi, menurut Budi perlu ditingkatkan agar masyarakat dan investor pemula memahami baik soal investasi terutama di pasar saham.

"Otoritas dan regulator harus ingatkan risiko investasi di saham. Bukan hanya soal return saja menarik, tetapi juga ingatkan risiko saham karena bisa saja dari satu hingga 10 saham yang dimiliki ada kerugian,” ujar dia.

Selain itu, Budi mengingatkan masyarakat dan investor pemula tidak hanya sekadar ikut-ikutan investasi. Seseorang dan investor pemula harus punya tujuan investasi dan memiliki dana dingin.

"Jangan ikut-ikutan sehingga pakai dana pendidikan anak, dana pinjaman online dan kalau sudah nyangkut complain. Saham itu ada unsur prediksi, spekulasi kemungkinan salah. Investor yang sudah belajar, baca laporan keuangan dan fundamental perusahaan bisa salah, apalagi yang hanya ikut-ikutan bisa menyangkut,” kata dia.

Budi juga mengingatkan masyarakat dan investor pemula untuk hati-hati memilih mentor. Hal ini seiring maraknya video di aplikasi video dan influencer yang mengumbar soal rekomendasi saham.

"Hati-hati memilih mentor dan ikuti rekomendasi. Saat ini ramai video di youtube seperti memprovokasi dan tidak bersifat edukasi untuk merekomendasikan saham. Orang-orang ini merekomendasikan saham tanpa alasan yang jelas. Padahal orang ini bisa saja punya kepentingan karena sudah beli saham itu, dan mengajak orang lain beli saham sehingga ketika harga sahamnya sudah naik dijual," ujar dia.

Oleh karena itu, Budi mengingatkan pihak yang memberikan rekomendasi saham juga harus memberitahukan apakah sudah membeli saham tersebut dan harga pembelian saham. “Ini agar tidak ada conflict interest,” tutur dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini