IPB Beri Gelar Doktor Kehormatan kepada Doni Monardo

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Institut Pertanian Bogor (IPB) University memberikan gelar doktor kehormatan kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo. Penganugerahan galar doktor kehormatan dilakukan pada hari ini, Sabtu (27/3/2021).

Penganugerahan dibacakan oleh Sekretaris Senat Akademik IPB University, Muhamad Syukur. Menurutnya pemberian gelar doktor kehormatan itu dikukuhkan lewat Keputusan Senat Akademik IPB Nomor 21/IT3.SA/PP/2020 tentang Persetujuan Pemberian Gelar Doktor Kehormatan kepada Letjen TNI Doni Monardo.

"Menyetujui pemberian gelar doktor kehormatan kepada Letjen TNI Doni Monardo dalam bidang Ilmu Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan, ditetapkan di Bogor pada tanggal 10 November 2020, " kata Muhamad Syukur dalam pengukuhan gelar doktor kehormatan kepada Doni Monardo pada Sabtu (27/3/2021).

Usulan pemberian gelar doktor kehormatan kepada Doni Monardo diajukan oleh rektor IPB pada 12 September 2020. Kemudian pada 20 Oktober 2020, Senat Akademi mengadakan Sidang Pleno untuk menyetujui usulan pemberian gelar doktor kehormatan kepada Doni Monardo.

Doni Monardo dianggap mempunyai kontribusi nyata bagi lingkungan.

Dalam orasinya pada Sidang Terbuka Senat Akademik IPB University, Doni mengaku sudah sejak lama berkomitmen untuk menghijaukan suatu lahan.

Dimulai dengan menanam pohon di Asrama Brigif Para Raider III/Tri Budi Sakti Kostrad yang dianggap tandus, di Kariango, Sulawesi Selatan, yang merupakan sumbangan dari pimpinan Panin Peduli Makassar, Andi Tendri Onigapa kala itu. Dilanjutkan dengan pembibitan Trembesi, serta menanamnya di banyak tempat di Sulawesi Selatan termasuk di Lapangan Karebosi dan Bandara Sultan Hasanuddin.

"Berkomitmen untuk melanjutkan program ini dengan mencanangkan slogan yang terpampang di kebun Bibit Brigif Para Raider III/Tri Budi Sakti Kostrad Kariango pada tahun 2008 “Dari Kariango Ikut Hijaukan Indonesia” kata Doni.

Setelah pindah ke Paspampres di Jakarta, komitmen itu Doni buktikan dengan membuat kebun bibit Trembesi di Cikeas pada akhir November 2008. Dan pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2009, bibit Trembesi dibagikan di Istana Merdeka.

Kembangkan Kebun Bibit

Selanjutnya, tahun 2010 Doni mengembangkan kebun bibit di Rancamaya. 100.000 bibit Trembesi ditanam di wilayah Bogor, Cianjur dan Sukabumi, dan DKI Jakarta termasuk di sepanjang Kota Kudus, Jawa Tengah.

Kemudian 100 ribu bibit Sengon dibagikan secara gratis kepada masyarakat termasuk warga terdampak erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Setahun kemudian, Doni mendirikan Paguyuban Budiasi di Sentul di lahan pinjaman milik Ketut Masagung.

"Budiasi kependekan dari Budidaya Trembesi, nama pemberian Bapak SBY, Presiden Republik Indonesia saat itu. Sampai hari ini Paguyuban Budiasi telah memproduksi lebih dari 20 juta pohon, terdiri dari 150 jenis pohon termasuk tanaman langka, yang dibagikan ke berbagai daerah termasuk Timor Leste," katanya.

Doni menjelaskan kegemarannya menanama pohon Trembesi. Menurutnya sejak awal bertugas di Paspampres mulai 2001 dirinya mengaku banyak berkunjung ke berbagai daerah. Ia mengamati, di sekitar bangunan pemerintah peninggalan Belanda, setidaknya ada tiga jenis pohon yaitu: Trembesi, Asam, dan Beringin.

"Diperkuat dengan hasil penelitian Dr. Endes N. Dahlan, Dosen Fakultas Kehutanan IPB, yang mengatakan bahwa pohon Trembesi adalah penyerap polutan terbaik. Satu pohon Trembesi yang lebar kanopinya telah mencapai 15 m, mampu menyerap polutan atau gas karbon dioksida sebanyak 28,5 ton per tahun,"

"Pohon ini termasuk jenis tanaman “die hard”. Dapat tumbuh di tempat yang tandus dan di tempat yang lembab atau basah, di daerah tropis yang tumbuh hingga ketinggian 600 meter diatas permukaan laut. Oleh sebab itu sangat cocok untuk penghijauan kota," sambungnya.

Menurut Doni berkat pengetahuannya tentang tanaman, ia banyak terbantu ketika ditugaskan sebagai Kepala BNPB. Untuk mitigasi daerah longsor dengan kemiringan lereng di atas 30 derajat, bisa menanam beberapa jenis pohon berakar kuat seperti Sukun, Aren, Alpukat, dan Kopi. Untuk lahan rawan longsor dengan kemiringan yang lebih curam, bisa ditanam Vetiver atau akar wangi.

Untuk menghindari kerusakan akibat kebakaran hutan dan lahan, bisa menanam pohon Laban, Sagu, dan Aren. Untuk mereduksi dampak tsunami, bisa menanam pohon Palaka, Beringin, Butun, Nyamplung, Bakau, Waru, Jabon, Ketapang dan Cemara Udang yang memiliki akar kuat.

"Artinya, ada banyak jenis vegetasi di tanah air, bila dimanfaatkan secara maksimal, dapat mengurangi risiko timbulnya korban jiwa ketika terjadi bencana. Mitigasi berbasis ekosistem harus menjadi strategi utama kita dalam menghadapi potensi bencana, mengingat Bank Dunia menyebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu dari 35 negara dengan tingkat risiko ancaman bencana tertinggi di dunia," papar dia.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: