IPCC Nilai Ada Perbaikan Kinerja Industri Otomotif pada Awal 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) mencatat kinerja industri otomotif merosot pada 2020 dibandingkan 2017. Hal ini disebabkan pandemi COVID-19 yang mengakibatkan sejumlah pabrik melakukan rasionalisasi.

"Ini kami mengalami penurunan sejak April 2020 di mana waktu itu ada beberapa automaker yang tutup beberapa minggu, mengurangi produksi dan sebagainya,” kata Plt Direktur Utama IPCC, Arif Isnawan dalam Indonesia Investment Education, Selasa (16/3/2021).

Sebagai gambaran, produksi dari produksi kendaraan penumpang pada 2020 tercatat sebanyak 389.266. Kalau produksi kendaraan penumpang tercatat 842.474 pada 2017. Pada 2018, sebanyak 874.660, dan 2019 sebanyak 785.539 produksi.

"Ini terus terang dampaknya sangat berat bagi kami di 2020 karena di bulan April-Mei itu volumenya hanya sekitar 25 persen dari volume normal yang biasa kita tangani,” kata Arif.

Namun, mulai kuartal IV 2020 dinilai sudah ada perbaikan. “Pada dua bulan pertama di 2021, untuk ekspor angkanya sudah melebihi di tahun 2020 pada dua bulan pertama. Secara total ekspor dan impor ini hampir sama dengan dua bulan pertama 2020,” kata dia.

Ada Pertumbuhan Ekspor

Mobil siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah berencana memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema PPnBM, yaitu tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, tapi pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor.  (Liputan6.com/Johan Tallo)
Mobil siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah berencana memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema PPnBM, yaitu tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, tapi pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Adapun ekspor selama dua bulan pertama pada 2021, tercatat sebanyak 51.294 unit, sementara pada dua bulan pertama pada 2020 sebanyak 45.162 unit.

"Kami sangat gembira dengan data-data ini karena rebound atau recovery ini ternyata cepat sekali," ujar dia.

Angka ini, kata Arief sangat menggembirakan lantaran sebelumnya IPCC bertemu dengan pabrik-pabrik otomotif, yang hanya berani memproyeksikan sekitar 80 persen dari kondisi normalnya.

"Tetapi di bulan Februari untuk data ekspor sungguh menggembirakan karena mereka juga cari pasar-pasar negara-negara tujuan ekspor baru di luar negeri,” kata dia.

"Kita berharap mudah-mudahan nanti di bulan-bulan berikutnya angka-angka ini akan menunjukkan semakin baik lagi sehingga rebound atau recovery dari produk ini cepat kita dapat,” ia menambahkan.

Pertimbangan IPCC Absen Tender Pelabuhan Patimban

Pelabuhan Patimban resmi beroperasi dan langsung melayani kegiatan ekspor perdana produk otomotif sebanyak 140 unit kendaraan. (Foto: Kemenhub)
Pelabuhan Patimban resmi beroperasi dan langsung melayani kegiatan ekspor perdana produk otomotif sebanyak 140 unit kendaraan. (Foto: Kemenhub)

PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IKT/IPCC) angkat suara mengenai absen terlibat dalam operasional Pelabuhan Patimban, Subang.

Plt Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC), Arif Isnawan mengatakan, perseroan memiliki beberapa pertimbangan dalam keputusan tersebut

“Kemarin IKT tidak ikut tender karena tender satu paket sama terminal peti kemas. Kemudian harus menyediakan dana sekitar Rp 16 triliun karena porsi terbesarnya ada di terminal peti kemasan,” ujar dia dalam Indonesia Investment Education, Selasa, 16 Maret 2021.

Di saat yang bersamaan, Arif menuturkan, Pelindo II juga sedang mengembangkan New Priok Container Terminal (NPCT) I dan II di Kalibaru. Arif mengaku, pihaknya lebih ingin menjadikan Patimban sebagai komplementer atau pelengkap dari IKT. Hal ini mempertimbangkan sejumlah keunggulan yang dimiliki IKT.

Antara lain dari sisi lokasi. Menurut Arif banyak perusahaan mobil yang sebagian besar berada di Cikarang, lebih dekat dengan Tanjung Priok dibandingkan Patimban.

Dari sisi akses, Patimban sendiri memang belum memiliki jalan tol. Arif mengungkapkan, industri perdagangan mobil ini terbilang cukup unik.

“Industri perdagangan mobil ini sangat unik karena mereka menerapkan standar, mobil keluar dari pabrik sampai dengan tujuannya itu tidak boleh ada cacat sedikitpun. Oleh karena itu risiko itu sangat mereka perhitungkan. Terus terang kami juga sudah sounding kepada beberapa automaker tentang Patimban ini,” ujar Arif.

Kemudian dari sisi laut, kapal yang hendak bersandar harus dijemput oleh pandu pada jarak sekitar 24 mil laut atau 47 kilometer. Menurut Arif, jarak ini sangat jauh dibandingkan dengan Pelabuhan Tanjung Priok.

Dari sisi konsumen, Arif mendapati kebanyakan konsumen barang-barang impor berada di kota-kota besar di Jabodetabek. "Sehingga hampir tidak mungkin mobil impor itu dibongkar di Patimban. Oleh karena itu, IKT masih sangat optimis,” kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini