IPW Kutip Pengacara Keluarga Brigadir J soal Brigjen Hendra Gunakan Private Jet

Merdeka.com - Merdeka.com - Indonesia Police Watch (IPW) memberi penjelasan terkait tudingan mereka mengenai dugaan keterlibatan dua pengusaha berinisial RBT dan YS dalam konsorsium judi online. Mereka juga memaparkan asal informasi penggunaan private jet yang digunakan Brigjen Hendra Kurniawan ketika terbang ke Jambi untuk mengurus kasus kematian Brigadir J.

Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso menjelaskan, pihaknya mengutip pernyataan Kamaruddin Simanjuntak selaku pengacara keluarga Brigadir J terkait private jet itu. Sementara untuk RBT yang diduga sebagai bos judi online pernah disebut pihaknya di tahun 2020.

"Iya kan kalau itu dulu bandar judi yang dua tahun lalu disebut oleh ketua IPW 2020. Jadi itu juga disebut Kamaruddin," kata Sugeng saat dikonfirmasi, Selasa (20/9).

"Saya mengutip Kamaruddin (soal private jet), kalau dalam rilis kita, rilis kita sebutkan itu pesawat tersebut tidak pernah kita sebut miliknya RBT," lanjut Sugeng.

Oleh karena itu, Sugeng menjelaskan bahwa pihaknya tidak pernah menyebut RBT memiliki private jet. Menurutnya, pendapat soal private jet hanya untuk mendorong Polri agar menyelidiki dugaan-dugaan yang dimaksudnya.

"Ya iya saya juga kan nggak bilang punya private jet, coba dibaca. Kan kalau bukti itu kan kita hanya buka di kepolisian, kan petugas IPW itu mendorong Polri untuk terus menyelidiki, gitu lho," katanya.

Lantas ketika disinggung terkait bukti, Sugeng mengatakan bahwa pihaknya tak memiliki bukti untuk keterlibatan RBT baik dalam dugaan private jet maupun konsorsium 303. Adapun bukti yang dimiliki berkaitan dengan data oknum -oknum polisi yang menerima aliran dana dari mafia judi online.

"Nggak ada lah (bukti), kita punya bukti aliran dana kepada oknum-oknum polisi untuk pembelian-pembelian cerutu, pembelian kamera, kemudian juga support untuk dana siber, ke Amerika, data kita tuh lengkap. Iya ada (data aliran dana dari judi online), kan kita ngomong nggak sembarangan," terangnya.

"Iya itu kita buka nanti di sana, saya juga nggak nyebut siapa penerimanya kan. Saya juga nggak bilang Pak Robert ngirim uang loh ya," tambah dia.

Meski hanya mengutip pernyataan Kamaruddin, Sugeng menjelaskan tanpa mengaitkan dengan RBT, bila private jet tersebut terdaftar di San Marino milik operator PT Acam.

"Kalau terkait Jet Tenggo-Seven/7 itu yaitu kita sudah dapat informasi, itu registernya di San Marino bukan PK, San Marino itu di Cali. Kemudian operatornya itu PT ACAM. Jenisnya Bomber 900 XV," ujarnya.

Direspons Robert Bonosusatya

Pernyataan IPW itu sebelumnya direspons pengusaha Robert Bonosusatya. Dia menyatakan belum akan menindaklanjuti secara hukum atas beredarnya informasi terkait dirinya yang menjadi penyedia jet pribadi untuk Brigjen Hendra Kurniawan.

"Belum terpikir (ambil upaya hukum), apa ada gunanya," ucap Robert saat dihubungi, Selasa (20/9).

Karena belum mengambil langkah upaya hukum, Robert pun mengatakan bakal membiarkan lebih dulu atas adanya informasi tersebut sembari menyusun rencana lebih lanjut bersama tim kuasa hukumnya.

"Biar saja dulu. Kita lagi pikir," singkatnya.

Di sisi lain, Robert pun telah membantah jika dirinya memiliki jet pribadi yang dipakai Brigjen Hendra Kurniawan. Menurutnya, selama ini dia tidak memiliki fasilitas jet pribadi sebagaimana informasi yang beredar.

"Maaf itu tidak benar. Tidak ada (punya jet pribadi)," sebutnya.

Meski demikian ketika disinggung apakah mengenal sosok Brigjen Hendra Kurniawan, Robert tak menampik jika dirinya telah mengenal sosok Karopaminal Polri itu sejak tujuh tahun lalu.

"Kenal sudah lama sebagai teman saja, sudah tujuh tahun lalu," ujarnya.

Tudingan IPW

Sebelumnya, Kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J atau Nopriansyah Yosua Hutabarat yang diduga dilakukan atasannya, Irjen Ferdy Sambo, masih menjadi perhatian Indonesia Police Watch (IPW).

Lembaga ini menyoroti penggunaan pesawat jet pribadi saat Brigjen Hendra Kurniawan dan anggotanya terbang ke Jambi untuk menemui orang tua korban, dan menduga ada kaitannya dengan bos judi online.

IPW meminta agar Polri mengusut penggunaan pesawat pribadi itu, termasuk kaitannya dengan temuan PPATK mengenai transaksi Rp155 triliun dari perjudian online. Tim Khusus Polri juga diminta mengungkap keterlibatan sosok RBT dan YS dalam kasus Irjen Ferdy Sambo dan Konsorsium 303, sekaligus membongkar peranan mereka.

Dimana diketahui, Hendra tercatat menggunakan jet pribadi bersama Kombes Agus Nurpatria, Kombes Susanto, AKP Rifazal Samual Bripda Fernanda, Briptu Sigit, Briptu Putu dan Briptu Mika untuk berangkat ke kediaman keluarga Brigadir J di Jambi atas perintah Irjen Ferdy Sambo pada Senin (11/7) lalu.

"Dalam catatan IPW dia adalah Ketua Konsorsium Judi Online Indonesia yang bermarkas di Jalan Gunawarman, Jakarta Selatan, yang hanya berjarak 200 meter dari Mabes Polri," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (19/9).

IPW mengidentifikasi jenis private jet yang digunakan oleh Brigjen Hendra Kurniawan saat terbang ke Jambi, yakni tipe Jet T7-JAB. Pesawat itu disebutnya sering dipakai oleh mantan narapidana kasus korupsi AH dan YS dalam penerbangan bisnis Jakarta-Bali.

"Seperti diketahui AH dan YS adalah pemilik Hotel Pullman Bali. Karenanya, Timsus bentukan Kapolri perlu menelusuri hubungan tali temali antara Kaisar Sambo, dana judi online sebesar Rp155 triliun milik Konsorsium 303, dengan RBT dan YS dalam kaitan pemberian dukungan kepada pencalonan capres tertentu pada 2024 di mana Ferdy Sambo ingin menjadi Kapolrinya," ujar Sugeng.

Sementara itu, nama Robert Priantono Bonosusatya pertama kali mencuat dalam dokumen hasil pemeriksaan Bareskrim Polri pada periode Mei hingga Juni 2010, yang mengusut transaksi ganjil sebesar Rp57 miliar di rekening Komjen Budi Gunawan.

Menurut dokumen yang tersebar saat Budi mengikuti uji kelayakan calon Kepala Polri pada 14 Januari 2015 itu, Robert disebut sebagai penjamin kredit yang dikucurkan untuk putra Budi, Muhammad Herviano Widyatama pada 6 Juli 2005. [yan]