Iran Akhirnya Buka Suara Soal Penikaman Salman Rushdie

Merdeka.com - Merdeka.com - Iran akhirnya angkat bicara terkait penikaman terhadap penulis asal India, Salman Rushdie. Rushdie diserang saat menjadi pembicara di New York pada Jumat.

Salah satu novel Rushdie, Ayat-Ayat Setan dianggap menistakan agama Islam. Pada 1988, pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Khomeini mengeluarkan fatwa bahwa Rushdie halal darahnya untuk dibunuh dan menjanjikan hadiah puluhan ribu dolar bagi siapa saya yang berhasil membunuh Rusdhie.

Kementeria Luar Negeri Iran menyampaikan, tidak seorang pun berhak mengajukan tuduhan terhadap Iran atas serangan terhadap Rushdie dan yang harus disalahkan adalah Rushdie sendiri dan para pendukungnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani mengatakan kebebasan berbicara tidak bisa menjadi pembenaran atas penghinaan Rushdie terhadap Islam.

"Selama serangan terhadap Salman Rushdie, kami tidak menganggap siapa pun selain dirinya sendiri dan para pendukungnya yang layak untuk disalahkan, dicela, dan dikecam," jelasnya dikutip dari Reuters, Senin (15/8).

"Tidak ada yang berhak menuduh Iran dalam hal ini," lanjutnya.

Kanaani mengatakan Rushdie sendiri yang membuat dirinya terpapar kemarahan masyarakat karena menghina kesucian Islam dan menyinggung 1,5 miliar warga Muslim. Dia juga menyebut Teheran tidak memiliki informasi lain terkait pelaku penyerangan.

Para penulis dan politikus di seluruh dunia mengecam serangan tersebut. Kini Rushdie sedang dalam masa pemulihan di rumah sakit.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Antony Blinken mengatakan pada Minggu, lembaga negara Iran menghasut serangan terhadap Rushdie selama bertahun-tahun dan juga didukung media pemerintah.

Pada 1998, pemerintah Iran mengatakan fatwa untuk membunuh Rushdie tidak lagi berlaku. Tapi pada 2019, Twitter memblokir akun pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei yang menyebut fatwa tersebut "kuat dan tidak dapat ditarik".

Pelaku penyerangan, Hadi Matar mengaku tidak bersalah atas dakwaan percobaan pembunuhan dan penyerangan yang disampaikan saat hadir di pengadilan pada Sabtu, menurut tim pembela umum, Nathaniel Barone.

Hasil pemeriksaan awal penegak hukum terhadap akun media sosial Matar menunjukkan pria asal New Jersey itu mendukung kelompok Syiah ekstrem dan Garda Revolusi Iran.

Matar adalah putra dari seorang pria asal Yaroun, Lebanon selatan. Wali Kota Yaroun, Ali Tehfe menyampaikan, orang tua Matar bermigrasi ke AS di mana dia lahir dan besar. Tehfe menambahkan dia tidak punya informasi terkait pandangan politik pemuda tersebut. [pan]