Iran Makin Gatal Ingin Habisi Bahrain dan UEA

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Normalisasi hubungan dengan Israel yang disepakati oleh dua negara kerajaan Islam, Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA), mengundang reaksi keras dari sejumlah negara. Salah satunya Republik Islam Iran, yang kembali mengancam akan memberikan respons keras terhadap kedua negara Jazirah Arab tersebut.

VIVA Militer melaporkan dalam berita, Rabu 16 September 2020, kesepatakan perdamaian yang dijalin oleh Bahrain dan UEA menimbulkan kecaman keras dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Tak segan, IRGC menyebut Bahrain dan UEA sebagai pengkhianat dan telah melakukan tindakan bodoh.

"Kesepakatan itu adalah kebodohan historis dan jelas merupakan sebuah pengkhianatan. Itu akan mempercepat pemusnahan Israel," bunyi pernyataan Korps Garda Revolusi Iran dikutip VIVA Militer dari Middle East Eye.

Penandatanganan Perjanjian Damai UEA dan Bahrain dengan Israel di Gedung Putih
Penandatanganan Perjanjian Damai UEA dan Bahrain dengan Israel di Gedung Putih

Berakhirnya sanksi embargo Iran pada 18 Oktober 2020, berarti membuat Negeri Mullah semakin leluasa untuk membuat perhitungan dengan musuh-musuhnya. Seperti yang dikatakan oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Iran, Hassan Abdel Lahian, Iran akan memberikan tanggapan keras terhadap seluruh entitas Zionisme, termasuk UEA.

"Setiap aktivitas yang jelas atau rahasia yang dilaukan dinas intelijen Israel atau agen mereka di Republik Islam, tanggapan akan diarahkan hanya kepada entitas Zionis. Dan, UEA akan menjadi bagian daru tanggapan tersebut," ujar Lahian dikutip VIVA Militer dari The Algemeiner.

VIVA militer: Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC), Mayor Jenderal Hossein Salami
VIVA militer: Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC), Mayor Jenderal Hossein Salami

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran kembali memperingatkan Bahrain agar waspada akan aksi pembalasan. Pasalnya, Bahrain telah memilih untuk bersekutu dengan Israel yang notabene adalah musuh negara-negara Islam, khususnya Palestina.

"Penguasa algojo Bahrain harus menunggu pembalasan dendam yang keras dari para Mujahidin (pejuang jihadis) yang bertujuan untuk membebaskan Quds (Jerusalem) dan negara Muslim yang bangga di negara ini," bunyi pernyataan Korps Garda Revolusi Revolusi Islam Iran.

Panglima Angkatan Bersenjata Iran (Artesh), Mayor Jenderal Mohammed Bagheri, memperingatkan UEA bahwa pendekatan Iran akan berubah pasca keputusan berdamai dengan Israel. Bagheri mengancam akan menyerang UEA jika keamanan nasional Iran terancam akibat perjanjian damai itu.

Baca juga: Kabar Baik dari Letjen Prabowo Usai Datangi Pentagon