Iran masih jual minyak di tengah sanksi AS

DUBAI (Reuters) - Iran masih menjual minyaknya di tengah sanksi AS atas ekspor Teheran, kata Wakil Presiden negara itu Eshaq Jahangiri seperti dikutip pada Senin oleh TV negara. Ia menambahkan bahwa "tekanan maksimum" Washington terhadap Teheran gagal.

"Meskipun tekanan Amerika ... dan pengenaan sanksinya terhadap ekspor minyak kami, kami masih terus menjual minyak kami dengan menggunakan cara lain ... ketika bahkan negara-negara sahabat menghentikan pembelian minyak mentah kami karena khawatir dengan hukuman Amerika," kata Jahangiri.

Hubungan antara dua seteru itu mencapai titik kritis pada tahun lalu setelah Presiden AS Donald Trump meninggalkan perjanjian 2015 antara Iran dan negara adidaya itu di mana di bawah perjanjian itu Teheran menerima pengekangan program nuklirnya sebagai imbalan untuk pencabutan sanksi.

Berbicara di satu kegiatan di Kentucky pada Senin, Menlu AS Mike Pompeo mengatakan sanksi terhadap Teheran itu efektif, menghasilkan penurunan kekayaan Iran dan mengurangi kemampuan berdagang dengan negara-negara lain di dunia.

"Berita bagusnya adalah, meskipun apa yang dunia katakan kepada Presiden Trump - bahwa sanksi Amerika tidak akan berhasil - dunia salah. Sanksi tersebut sangat efektif," kata Pompeo.

Washington menerapkan kembali sanksi yang bertujuan menghentikan seluruh ekspor minyak Iran, seraya mengatakan pihaknya mengupayakan memaksa Iran untuk berunding guna mencapai kesepakatan yang lebih luas. Namun kekuatan dunia lain yang menandatangani perjanjian nuklir 2015 belum memulihkan kembali sanksi mereka sendiri.

Teheran menolak pembicaraan jika Washington tidak kembali pada perjanjian nuklir dan mencabut seluruh sanksi.

"Mereka telah gagal membuat ekspor minyak kami menjadi nol seperti direncanakan," kata Jahangin.