Iran Pasang Ranjau di Selat Hormuz, AS Geram

REPUBLIKA.CO.ID, BAHRAIN - Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) akan menghentikan segala bentuk perlawanan Iran mempertahankan Selat Hormuz atau Teluk Persia. Seperti pemasangan jebakan-jebakan berupa ranjau dan bom yang berpotensi membunuh tentara-tentara AS.

"Iran memiliki ribuan ranjau yang disebar di sepanjang Selat Hormuz," kata Komandan Armada AL AS Mark Fox dalam konferensi persnya hari ini di Bahrain, Senin (13/2).

Hal itu dapat menganggu kegiatan pengapalan minyak melalui Selat Hormuz. Akibatnya, mendatangkan bencana di pasar minyak dunia.

Fox menilai peletakan ranjau di perairan internasional merupakan sinyal perang. AS merasa harus mencegah hal itu terjadi. Sebab, menempatkan ranjau di selat akan berhadapan dengan respon militer AS. Aksi militer AS dapat berupa penyerangan atas fasilitas nuklir milik Iran.

Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Rahimi mengatakan sejak 27 Desember 2011 negaranya berencana menutup Selat Hormuz. Khususnya penutupan sepanjang jalur pelayaran yang mengangkut seperlima bagian minyak global yang diperdagangkan.

Hal itu diberlakukan jika AS dan sekutunya menjatuhkan sanksi ekonomi ketat dalam upaya menghentikan penelitian nuklir di Iran. "Program nuklir di Iran itu untuk kepentingan sipil," kata Rahimi. Dalam beberapa hari ke depan, kata Rahimi, pemerintah Iran akan menyajikan bukti-bukti bahwa program nuklir di Iran fungsinya digunakan untuk sipil.

Menteri Luar Negeri Iran Ali Akbar Salehi mengatakan negaranya tak akan pernah menyerah pada tekanan internasional. Sebab, Iran memiliki hak yang sama untuk beroperasi di perairan internasional.

Dalam mengoperasikan tambang minyak di Selat Hormuz, AS memiliki empat kapal (Avenger class mine sweeping ships). Di antaranya USS Ardent, USS Dextrous, USS Gladiator, dan USS Scout. Sedangkan AL Inggris juga memiliki empat kapal (vessels), yaitu HMS Pembroke, HMS Middleton, HMS Quorn, dan HMS Ramsey.

Pejabat AS dari Komando Sentral AS memperkirakan pada 2008 Irak memiliki 5.000 ranjau di sepanjang Selat Hormuz. Jumlah tersebut meningkat dibanding 1980 yang hanya berjumlah sekitar 1.000 ranjau.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.