Iran Ubah Taktik Tendang Tentara AS dari Irak Usai Soleimani Tewas

Radhitya Andriansyah

VIVA – Pasca tewasnya mantan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC), Jenderal Qassem Soleimani, Iran dipercaya telah mengubah strategi dalam perlawanannya terhadap Amerika Serikat (AS). Yang paling signifikan, Iran melakukan hubungan diplomatik dengan tetangganya, Irak, untuk mempercepat proses pemulangan ribuan tentara AS.

Menurut laporan Reuters yang dikutip VIVA Militer, Iran tengah berencana untuk mengakhiri kebuntuan diplomatik dengan Irak. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pemulangan personel militer AS dari Baghdad.

Seorang pejabat senior Iran yang tak disebutkan namanya, mengonfirmasi pendekatan hubungan diplomatik dengan Irak. Ia juga membenarkan bahwa komunikasi ini akan dimanfaatkan untuk meminta Iran mengakhiri pendudukan sekitar 5.000 tetara AS yang masih berada di Irak.

"Terkadang Anda harus mengambil langkah mundur, memantau, dan merencanakan sesuatu berdasarkan fakta di lapangan," ujar pejabat senior Iran.

"Kami ingin Amerika meninggalkan daerah itu. (Sebab), jika ada kekacauan di Irak, Amerika akan menggunakannya sebagai alasan untuk memperpanjang masa tinggal mereka," katanya.

Pejabat senior itu juga menjelaskan bahwa pemerintah Iran sudah melakukan komunikasi intensif pasca tewasnya Soleimani. Kontak ditujukan langsung kepada Presiden Barham Saleh, untuk membangun kembali kepercayaan dari Irak.

Pada Maret lalu, Sekretaris Dewan Keamanan Iran, Ali Shamkhani, melakukan kunjungan resmi ke Baghdad dan bertemu langsung dengan Saleh di Istana Presiden Irak.

Seorang pejabat Iran lain yang juga tak disebutkan namanya, menyebut bahwa pertemuan itu berakhir dengan positif. Irak disebut menerima niat Iran untuk kembali membangun kepercayaan. Pejabat ini juga menyebut bahwa Iran siap bekerja sama dan menghormati kedaulatan Irak.

"Setelah kunjungan Shamkhani, segalanya berjalan lancar. Iran telah menunjukkan kesiapan untuk melakukan kerja sama dengan menghormati kedaulatan Irak, dan siap untuk membiarkan Irak memilih pemerintahnya," ucap pejabat Iran.