Iran Umumkan Kemajuan Program Nuklir

Teheran (AFP/ANTARA) - Iran mengumumkan langkah baru dalam program nuklirnya pada hari Rabu menantang tekanan AS dan Uni Eropa untuk mengendalikan kegiatan atomnya, dan di tengah tanda-tanda perang rahasia semakin ganas dengan Israel atas masalah ini.


Amerika Serikat menganggap klaim kemajuan itu sebagai mencari "sensasi" dan mengatakan Teheran sebenarnya merasakan akibat dari sanksi internasional dan mendapat tekanan yang meningkat untuk kembali ke meja perundingan.


Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengumumkan di televisi Negara, apa yang digambarkan sebagai bahan bakar pertama Iran yang diproduksi di dalam negeri, bahan bakar yang diperkaya 20 persen nuklir untuk reaktor riset Teheran.


Dia mengatakan lebih 3.000 mesin pemutar telah ditambahkan ke upaya pengayaan uranium negaranya, dan pejabat mengatakan mesin pemutar generasi baru berkapasitas tinggi telah dipasang di fasilitas Natanz Iran.


Dan ia memerintahkan Iran untuk "membangun" empat reaktor penelitian nuklir.


Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Fereydoon Abbasi Davani, juga mengatakan bahwa eksplorasi uranium di Iran telah ditingkatkan dan sebuah pabrik pengolahan yellowcake (campuran oksida uranium murni yang diperoleh dari pengolahan bijih uranium) baru yang "pra-peluncuran"-nya setelah 13 bulan ke depan.


Di Washington, juru bicara Departemen Luar Negeri Victoria Nuland menganggap remeh, dengan mengatakan kepada wartawan bahwa Iran selama berbulan-bulan telah menyombongkan kemajuan tetapi pada kenyataannya "berbulan-bulan mereka tertinggal" dari kalender mereka sendiri.


"Kami, terus terang, tidak melihat banyak hal baru di sini. Ini bukan berita besar. Bahkan, tampaknya hanya sensasi," kata Nuland.


Tetapi perkembangan itu menggarisbawahi tekad Teheran untuk maju dengan kegiatan nuklir meskipun sanksi keras dari Barat -- dan meskipun spekulasi bahwa Israel atau Amerika Serikat bisa meluncurkan serangan militer terhadap Iran.


Iran ingin membuktikan bahwa kemajuan itu hanya sebagai bukti bahwa pengembangan nuklir mereka untuk tujuan damai, di bawah slogan "Energi nuklir untuk semua, senjata nuklir tidak ada."


Tapi langkah-langkah menantang empat set sanksi PBB dan sejumlah sanksi AS dan Uni Eropa sepihak yang dirancang untuk menghentikan program yang dikhawatirkan Barat untuk senjata atom.


Israel-- satu-satunya tapi tak pernah diumumkan memiliki tenaga nuklir di Timur Tengah yang merasa keberadaannya terancam oleh nuklir Iran -- banyak melakukan tindakan tersembunyi melawan musuh lama tersebut.


Tindakan-tindakan itu termasuk pembunuhan empat ilmuwan Iran oleh para penyerang tak dikenal menggunakan sepeda motor dalam dua tahun terakhir dan penyebaran virus komputer yang sangat canggih, Stuxnet, yang merusak banyak mesin pemutar Iran.


Israel tidak membenarkan atau membantah keterlibatannya dalam tindakan-tindakan itu.


Tetapi telah menuduh Iran menargetkan diplomat di India, Georgia dan Thailand pekan ini setelah serangan bom atau plot ditemukan di negara-negara tersebut.


Seorang diplomat Israel di New Delhi terluka parah ketika sebuah bom yang melekat pada mobilnya meledak. Di Bangkok, dua warga Iran yang ditahan, termasuk satu yang kehilangan kedua kakinya akibat bom saat ia mencoba untuk melempari polisi, dan satu lagi ditangkap setelah terbang ke Malaysia.


"Kegiatan teroris Iran telah terbuka kepada semua orang," kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. "Agresi seperti ini, jika tidak dihentikan, akan semakin meluas."


Iran telah membantah terlibat dalam insiden tersebut dan telah berulang kali mengatakan, pihaknya siap untuk melanjutkan pembicaraan dengan kekuatan dunia yang runtuh tahun lalu.


Pada hari Rabu, Iran akhirnya membalas surat yang dikirim hampir empat bulan yang lalu oleh kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton yang mengusulkan pembicaraan kembali.


"Iran menyambut kesiapan kelompok P5 +1 untuk kembali ke perundingan dalam rangka mengambil langkah-langkah fundamental menuju kerjasama lebih lanjut," tulis kepala perundingan nuklir Saeed Jalili dalam surat itu, menurut kantor berita resmi IRNA.


Amerika Serikat dan Inggris mengatakan mereka sedang mempertimbangkan respon Iran.


Sejauh ini, Rusia dan Cina telah berdiri di pihak Iran, mengecam sanksi-sanksi Barat itu sebagai penghalang untuk pembicaraan dan menolak untuk mematuhinya.


Tapi ada indikasi bahwa dukungan bisa melemah, setidaknya di Moskow. (nm/ml)


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.