Iran vs AS: Standar Ganda Washington soal Pembunuhan Soleimani

Rosa Folia

Jakarta, IDN Times - Tak sedikit politisi Amerika Serikat menjustifikasikan pembunuhan Qassem Soleimani, dengan alasan bahwa jenderal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) itu punya "darah di tangannya". Darah itu adalah milik warga Amerika Serikat yang tak berdosa di Timur Tengah.

Sejumlah komentator politik di Fox News (stasiun TV yang dianggap sebagai kepanjangan tangan barisan sayap kanan Amerika Serikat) juga menggaungkan narasi sama, bahwa Soleimani pantas dihabisi, di antaranya untuk mencegah terjadinya serangan membahayakan.

1. Donald Trump dituduh kebablasan, tapi mereka menilai Soleimani memang berbahaya jika dibiarkan

Iran vs AS: Standar Ganda Washington soal Pembunuhan Soleimani

Columbia Journalism Review (CJR) mengamati, ada sikap kontradiktif yang ditunjukkan para politisi Partai Demokrat seperti Cory Booker dan Pete Buttigieg. Keduanya merupakan kandidat calon presiden yang berkompetisi untuk mendapatkan tiket partai pada Pemilu 2020.

Di satu sisi, mereka mengaku khawatir pembunuhan Soleimani merepresentasikan tindakan melampaui batas dari wewenang Presiden Donald Trump untuk mendeklarasikan perang.

Keduanya cemas ini akan semakin mengganggu stabilitas Timur Tengah. Di sisi lain, mereka menyebut dunia jadi lebih baik tanpa Soleimani, sebab "darah warga Amerika Serikat di tangannya".

2. Media massa juga mengulangi "klise politis" bahwa Soleimani bertanggung jawab atas nyawa warga Amerika Serikat

Iran vs AS: Standar Ganda Washington soal Pembunuhan Soleimani

Bukan hanya politisi yang terjebak pada narasi serupa, CJR melihat media massa pun melakukannya. Contohnya adalah Foreign Policy yang mempublikasikan artikel berjudul "Publik Amerika Serikat Tak Mau Perang dengan Iran" atau Washington Monthly dengan artikel berjudul "Kita Tak Mampu Berperang dengan Iran".

Meski begitu, tetap saja mereka mengulangi ada "darah di tangan" Soleimani, sehingga pembunuhan itu bisa diterima. Sedangkan, James Stavridis, mantan petinggi Angkatan Laut Amerika Serikat, menulis kolom di Time bahwa pembunuhan Soleimani adalah keberhasilan taktis, tapi ada kesalahan kalkulasi strategis.

Stavridis menilai frasa "darah di tangannya" sudah "tidak berarti" karena tak "mendeskripsikan level kematian dan kehancuran yang ia tinggalkan saat masih hidup di Timur Tengah". Dengan kata lain, antara Soleimani dan Amerika Serikat, pihak paling mengancam keamanan dan kestabilan adalah laki-laki 62 tahun tersebut.

3. Narasi yang diulang-ulang itu menegasikan peran Amerika Serikat dalam merongrong Iran

Iran vs AS: Standar Ganda Washington soal Pembunuhan Soleimani

Satu elemen signifikan yang hilang dari diskursus tentang pembunuhan Soleimani, menurut CJR, adalah peran Amerika Serikat dalam merongrong Iran sebagai suatu negara berdaulat. Permusuhan antara dua negara sudah terjadi sejak lama, terutama karena ulah Amerika sendiri.

CJR bahkan menyebut media Amerika Serikat punya "bias dan amnesia" akan tingkah negaranya sendiri di Timur Tengah. "Membunuh, dan secara metafor, terkena darah di tangan mereka, adalah apa yang para tentara dedikasikan dalam kehidupan profesional mereka," tulis CJR, menegaskan bahwa mustahil bagi anggota pasukan bersenjata lari dari kenyataan ini.

Soleimani dikenal sebagai salah satu otak Iran dalam politik regional. Ia berada di balik berbagai operasi rahasia yang menghilangkan banyak nyawa. Soleimani juga menjadi tokoh yang disebut-sebut membantu kesuksesan Irak dan Amerika Serikat dalam memerangi Al Qaeda dan ISIS.

Perdana Menteri Irak Adil Abdul-Mahdi mengatakan kepada anggota parlemennya bahwa Soleimani tiba di Baghdad untuk mengurus proposal de-eskalasi tensi antara Iran dan Amerika Serikat. Proposal itu diusulkan Irak. Ironisnya, sebelum ini terwujud, Trump memerintahkan militernya meluncurkan rudal ke mobil yang ditumpangi Soleimani saat baru keluar dari Bandara Baghdad.

4. Amerika Serikat enggan mengakui pihaknya bertanggung jawab atas permusuhan dengan Iran

Iran vs AS: Standar Ganda Washington soal Pembunuhan Soleimani

CJR mengamati publik Barat kerap berpandangan Iran sebagai negara yang "tak rasional, bergejolak, secara alami menyukai kekerasan" tanpa menyadari bahwa Amerika Serikat bertanggung jawab atas konflik selama 40 tahun dengan Tehran.

Pengulangan narasi bahwa Soleimani merupakan iblis dalam situasi ini adalah cara Amerika Serikat untuk mengesankan bahwa kekerasan oleh militernya punya "posisi moral tinggi". Padahal, selama berdekade-dekade fakta menunjukkan sebaliknya.

Misalnya, Trump sempat mengancam akan menghancurkan 52 situs budaya Iran punya korelasi dengan peristiwa menjelang Revolusi 1979. Kala itu, Iran menyandera 52 diplomat Amerika Serikat dengan mengepung kantor kedutaannya di Tehran selama 444 hari.

Di balik ini, ada sikap simbolik. Bangunan yang sama dipakai oleh CIA sebagai markas operasi untuk menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh pada 1953, setelah ia dipilih secara demokratis. Penggulingan Mossadegh disebabkan rasa tidak terima Amerika Serikat, karena ia menasionalisasi minyak Iran.

Inggris juga terlibat karena menyarankan Amerika Serikat menjalankan operasi itu, dengan alasan takut Iran dikuasai Uni Soviet dengan komunismenya. Sebagai gantinya, pemerintah Barat mempromosikan diktator boneka Shah Reza Pahlavi. Ini melahirkan pemberontakan yang memunculkan Ayatollah Khomeini sebagai pemenang. Sisanya adalah sejarah.

5. Amerika Serikat bertindak sebagai hegemon yang seolah-olah bisa mengatur negara lain

Iran vs AS: Standar Ganda Washington soal Pembunuhan Soleimani

Menurut Washington, Soleimani bersalah atas mengalirnya senjata-senjata peledak kuat yang mampu menembus kendaraan lapis baja, dan saat dipakai milisi anti-Amerika Serikat, membunuh ratusan serta melukai ribuan tentara Negeri Paman Sam.

Di saat bersamaan, CJR menilai, Amerika Serikat lupa soal invasi ke Irak yang juga menewaskan ratusan ribu jiwa dan membuat banyak orang menjadi pengungsi. Kekosongan kekuasaan setelah Saddam Hussein meninggal dunia, tak membuat Irak lebih stabil. Nyatanya, yang terjadi justru sebaliknya.

Namun, tak ada yang menuding Presiden George W Bush bertanggung jawab atas darah-darah yang berceceran itu, sehingga dia layak dihabisi dengan cara brutal. Ayahnya, George HW Bush, pun bisa melenggang bebas meski pada 1988 Amerika Serikat salah menembak pesawat sipil Iran, di mana 290 penumpang tewas. Ia bahkan menolak mengaku bersalah.

Di kalangan neo-konservatif Amerika Serikat, kekerasan terhadap Iran lebih dianjurkan. Salah satu yang dicontohkan CJR adalah mantan penasihat keamanan nasional Trump, John Bolton. Ia terang-terangan berharap ada "pergantian rezim", yang mana ini jelas merupakan dorongan intervensi dalam politik domestik Iran.

Petualangan militer Amerika Serikat di Timur Tengah berperan membuat Iran mengambil keputusan-keputusan ekstrem, dalam konteks kebijakan luar negeri. Mengira bahwa intervensi akan membawa perdamaian di kawasan tersebut, adalah sikap arogan.