Iri kepada Vietnam, (Sementara) Bebas COVID-19

Syahdan Nurdin, ali98

VIVA – Liga Vietnam Dimulai, Sekolah Dimulai. Kita tidak bicara benar, salah, bohong atau tidak, tapi kita lihat berdasarkan data dan informasi yang ada. Kami, atau khususnya saya, sangat iri dengan pemberitaan bahwa per 15 Mei 2020, Liga Vietnam resmi akan bergulir. Ho Chi Minh City, bebas dari lockdown.

Pemberitaan ini kita dapatkan dari beberapa laman media nasional dan internasional, bahwa V_league 1 direncanakan segera dimulai. Dengan catatan, pemerintah memberikan lampu hijau.

Beberapa klub diberitakan sudah menjalankan aktivitas latihan. Selain itu, pelonggaran-pelonggaran pembatasan sudah mulai diberlakukan, sekolah sudah dibuka, dan pasar-pasar juga sudah aktif sebagaimana informasi media visual dan youtube juga bisa kita saksikan, bahwa aktivitas UMKM nya mulai hidup, namun dengan tetap menjalankan perilaku dan budaya sehat, seperti pakai masker, menjaga jarak dan menghindari pertemuan dengan banyak orang.

Berdasarkan situs https://www.worldometers.info/coronavirus/, Total cases Vietnam per 26 april 2020, adalah sebanyak 270 kasus, dengan total recover sebanyak 225 jiwa, dan total kematian sebanyak 3 orang, serta total test yang telah dilakukan sebanyak 206.253 jiwa.

Infeksi pertama kali terjadi pada 23 Januari 2020, Pemerintah Vietnam langsung menangguhkan semua penerbangan ke Wuhan dari Hanoi. Setelahnya, pemerintah menutup akses perbatasan sepanjang 870 mil (1400an kilometer) ke China dan menghentikan semua jalur transportasi, kecuali perdagangan yang penting. 

Padahal, saat itu Wuhan baru mengumumkan 27 kasus. Kemudian, Pemerintah Vietnam juga meminta semua orang yang masuk ke negaranya tidak terkecuali untuk melakukan isolasi diri sejak 1 maret 2020, serta diikuti dengan menangguhkan semua orang asing masuk ke negaranya sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut.  

Masih menurut situs berita indepent, Vietnam juga telah menerapkan denda terhadap pengguna medsos yang menyebarkan berita hoaks apabila menyebarkan informasi data-data atau angka palsu terhadap perkembangan pemberitaan dari corona virus di Vietnam.

Perlu diketahui juga bahwa, kebijakan lockdown ketat yang diberlakukan pada tanggal 1 April 2020, adalah juga termasuk melarang pertemuan lebih dari 2 orang, dan termasuk mengkarantina ratusan ribu orang untuk menghentikan penyebaran virus ini di Vietnam.

Tentu saja  menjadi kebahagiaan dari warga Vietnam dan juga Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc ketika mengumumkan hal ini saat  menyampaikan bahwa di negaranya saat ini tidak ada provinsi dengan status “highly prone to the pandemic” pada saat konferensi pers dua hari lalu.

Vietnam tercatat berpenduduk lebih kurang 95,54 juta jiwa (2018) dengan tingkat pertumbuhan penduduk 1,01 % per tahunan, PDB sebesar 245,2 miliar USD (2018). Vietnam mendapatkan attention, mendapatkan pujian, setelah dua hari lalu (24/04/20) situs independent memberitakan bahwa  Pemerintah Vietnam telah mencabut status lockdown, setelah tidak ada  kematian yang dilaporkan.

Hal ini menjadikan Negara ini, berada jauh di depan dari Negara-negara asia tenggara dalam penanganan wabah virus Covid-19.  Awalnya, Singapura dianggap sebagai negara yang bisa dijadikan percontohan, namun saat ini total cases di negara tersebut telah mencapai 12.693 kasus, dan total kematian sebanyak 0 orang serta test yang sudah dilakukan adalah sebanyak 121.774. 

Indonesia sendiri, yang menjadi Negara terbesar di kawasan, saat ini memiliki tingkat kematian terbanyak di Asia setelah China.

Kepiawaian Vietnam, yakni Pemerintahnya, telah dikonfirmasi oleh para ahli di dunia, termasuk para ahli dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS di Vietnam, menyatakan bahwa angka-angka terindikasi Covid-19 itu adalah benar.

Bahkan saat ini, Vietnam telah memainkan perannya menjadi seorang dermawan (menyaingi China), dengan memberikan bantuan-bantuan termasuk peralatan kesehatan ke tetangga di Asia-Tenggara bahkan ke Amerika Serikat.  

Beberapa akhir belakangan, hubungan Negara Vietnam-China sedikit merenggang  sebagaimana dengan merebaknya wabah virus Covid-19 dan kecurigaan Vietnam bahwa skala wabah tersebut lebih tinggi dari apa yang dilaporkan oleh Pemerintah China. Hal ini diikuti dengan massifnya serangan cyber Vietnam ke pemerintah China, dengan upaya membobol email-email pejabat dan manajemen darurat di China, guna mendapatkan informasi lebih banyak mengenai virus ini.

Dampak Virus Corona ke Vietnam

Pada februari 2020, Departemen pariwisata Vietnam memperkirakan bahwa sektor pariwisata menjadi sektor yang terdampak dan mengalami damage cukup besar, sebagaimana kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintah dengan mem-block masuknya wisatawan khususnya yang berasal dari daerah penyebaran virus Covid-19.

Dengan estimasi 3 bulan sejak Januari 2020, Vietnam akan kehilangan penerimaan sebesar USD 3-4 miliar dollar. Tahun 2019, tercatat ada 18 juta wiasatawan asing berkunjung ke Vietnam atau naik sebesar 16,2 % dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan dominasi, 30?alah berasal dari Negara tetangga, China. Pun, di masa wabah ini, China juga telah memberlakukan kebijakan untuk pelarangan warga negaranya ke luar negeri.

Sampai dengan saat ini, pemerintah Vietnam belum melakukan koreksi terhadap target pertumbuhan ekonomi-nya untuk tahun 2020. Sebagaimana dikonfirmasi oleh penasihat pemerintahan Vietnam, Le Dang Doanh, bahwa kecil kemungkinan Vietnam akan terpengaruh dampak dari virus Covid-19 yang mengglobal. Pemerintah masih menjaga capaian target pertumbuhan ekonomi, dalam batas tertentu prediksinya masih diangka 5,9-6,0 %.

 

Pertumbuhan Ekonomi 11 Negara

Pertumbuhan Ekonomi 11 Negara Sumber : Katadata

Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani mengatakan bahwa bahwa negaranya menjadi satu-satunya Negara pertama kali di wilayah kawasan (Asia) yang menerbitkan bond, dengan nilai 4,3 miliar dollar yang tenor terlamanya sekitar 50 tahun.

Ini merupakan penerbitan terbesar, dalam rangka menjaga pembiayaan tetap aman dan menambah cadangan devisa Bank Indonesia, serta diterbitkan secara elektronik tanpa tatap muka.  Sementara, Vietnam, per tahun 2018, tercatat memiliki utang sebesar 112.1 USD (billion/bn) (sumber : https://www.ceicdata.com/id/indicator/vietnam/external-debt).

 

Utang Luar Negeri Vietnam 2018

Utang Luar Negeri Vietnam 2018

 

Kondisi paket stimulus dalam negeri kurang lebih sama, atau mirip-mirip dengan apa  yang dilakukan di Indonesia, seperti pemotongan dan pengurangan pajak, pemotongan belanja public, stabilisasi makro ekonomi termasuk pengendalian inflasi, nilai tukar, dan menyusun scenario manajemen lainnya. Perdana Menteri Vietnam juga telah memerintahkan untuk melakukan pemotongan lebih lanjut terhadap harga-harga bahan kebutuhan pokok, daging babi, dan menjamin pasokan makanan dalam negeri.

Mempelajari Vietnam

Indonesia memiliki banyak pribahasa, mungkin yang terbaik adalah menggunakan kata no comment, sambil kita menarik nafas dan berdoa, semoga Negara Indonesia segera bisa terbebas dari wabah virus Covid-19 yang ditunjukkan dengan tidak adanya pasien positif corona maupun penambahan jumlah kematian akibat corona.

Yang utama memang bagaimana segera dapat diatasi penyakit dan pandemic ini, hal ini sebagaimana kita lihat perjalanan Negara tersebut dalam menerapkan strategi pencegahan-pencegahan Corona sejak dini wabah dimulai, result/hasil dari penerapan kebijakan serta saat ini dalam penentuan babak selanjutnya (stage 2 : wabah corona). Apakah Vietnam akan mengalami fase ke-2 penyebaran pandemic ? ataukah seterusnya bertahan menjadi negara yang dipuji mampu mengatasi pandemic ?

Imbas penerimaan Negara dari lockdown ketat yang diberlakukan, sudah pasti ada. Tidak perlu ada perdebatan terhadap hal tersebut, paling tidak kita juga mengetahui bahwa ketika sebuah kota/Negara/kawasan sudah terbebas dari pengaruh Covid-19 maka fase recovery dimulai, ditandai dengan kembali menjalankan aktifitas UMKM, kegiatan pembelajaran, aktivitas pasar,dll namun tetap memperhatikan kaidah-kaidah kesehatan dalam menjaga dampak-dampak Corona. 

Menjaga wabah ini (karantina ketat, lockdown) berarti meminimalisir dampak, baik dampak ke masyarakat, penerimaan Negara, menjaga ekonomi tetap tumbuh dan terjaga, serta meneruskan program-program pemerintah, termasuk mulai menjalankan aktivitas di sektor pariwisata.

Tidak terbalik-balik menerapkan kebijakan dan stimulus di awal wabah, tidak ada kebingungan dalam situasi critical antara sesama pejabat, dan terutama tidak ada sikap menyepelekan terhadap sebuah kejadian wabah virus. Kebijakan karantina ketat dan pelacakan, larangan penerbangan, pengawasan ketat, retorika perang (dalam menghadapi pandemic), warga yang taat aturan, ancaman denda dan pidana menjadi beberapa langkah yang bisa kita pelajari dari bagaimana Vietnam mengatasi dampak-dampak Corona.

Tidak terdengar juga bahwa Vietnam harus melakukan pinjaman global dengan rekor terbesar dan terlama di tengah wabah sampai dengan hari ini. Sebetulnya Vietnam juga bukan merupakan satu-satunya Negara di kawasan, ada juga Kamboja, dan di dunia masih ada 33 negara lain dengan kasus kematian nol jiwa.   

Yang terpenting saat ini bagi kita, terus ikuti dan dengarkan pesan pemerintah, jaga kesehatan, jaga jarak, banyak berdoa dan bagi yang beragama muslim,  selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Harapan itu akan terus hidup bersama dengan semangat kita ! (Penulis:  Akmal Budi Yulianto, Peneliti Lembaga Golden Institute, Lembaga AnKor USAKTI, dan Wakil Ketua Umum DPP KNPI )