Ironi, Angka Pengangguran Indonesia Didominasi Sarjana dan Lulusan SMA

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah menyebut tingkat pengangguran di Indonesia sudah kembali turun pasca terjadinya pandemi Covid-19 di awal tahun 2020.

Akibat pandemi, angka pengangguran sempat naik ke level 7,2 persen di tahun 2021. Namun Ida menyebut angka tersebut telah kembali turun ke level 5,82 persen di tahun 2022.

"Alhamdulillah karena sinergitas yang bisa dibangun, angka pengangguran turun jadi 5,82 persen. Turun memang tapi belum bisa mengembalikan sebagaimana sebelum pandemi (5,2 persen)," kata Ida dalam Rakornas Kepala Daerah dan Forkopimda 2023 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/1).

Sayangnya, tingkat pengangguran ini dominasi oleh kelompok usia muda yang telah menyelesaikan pendidikan SMA, SMK, Diploma hingga S1. Artinya angkatan kerja yang terserap ini mereka yang pendidikannya hanya tamatan SMP ke bawah.

"Ironi yang bekerja adalah saudara-saudara kita yang tingkat pendidikannya SMP ke bawah," kata dia.

"Sementara yang nganggur didominasi yang tingkat pendidikannya lebih baik SMA, SMK, Diploma dan S1," sambung Ida.

Di sisi lain, jika dilihat berdasarkan wilayah perkotaan dan pedesaan, terjadi paradoks. Kondisinya tidak linear dengan kondisi kemiskinan di pedesaan.

"Yang nganggur lebih banyak di kota tapi kemiskinan lebih banyak di desa," kata Ida.

Hal ini menunjukkan jumlah orang yang bekerja di desa tidak berbanding lurus dengan pendapatannya. Sehingga angka kemiskinannya di pedesaan tetap masih tinggi.

"Jadi yang bekerja di desa tidak berbanding lurus dengan pendapatannya yang baik sehingga angka kemiskinannya tinggi," pungkasnya. [idr]