Ironi Warga Desa Sumurgeneng Tuban yang Viral Borong Mobil

Dedy Priatmojo
·Bacaan 2 menit

VIVA – Fenomena warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang bikin heboh jagat maya gara-gara memborong ratusan mobil menyisakan banyak cerita. Ada gembirannya, tapi ada juga kesedihannya.

Cerita gembiranya tentu betapa bahagianya warga desa itu mendapat ganti rugi atas lahan senilai miliaran Rupiah, lalu dan memborong mobil-mobil mewah seharga ratusan juta. Disisi lain, ada juga cerita miris tentang kehidupan sosial warganya setelah tak lagi punya lahan untuk berladang.

Ya, warga Desa Sumurgeneng sebagian besarnya berprofesi sebagai petani. Tentunya lahan persawahan menjadi tumpuan perekonomian warga Sumurgeneng. Tapi setelah lahannya dijual untuk proyek pembangunan kilang minyak Pertamina, praktis akan banting stir.

Ali Sutrisno, warga Sumurgeneng yang sehari-harinya berprofesi sebagai petani ini mengakui telah mendapat ganti rugi atas lahan persawahan yang dimilikinya untuk dijadikan proyek kilang minyak Pertamina.

Ia mendapat ganti rugi lahan yang merupakan warisan orang tuanya sebesar Rp15,8 miliar. Dari jumlah itu Ia bagi dua dengan adiknya. Perasaan Ali campur aduk ketika menjual lahan warisan orang tuanya dan mendapat duit miliaran.

"Perasaannya ya kadang gembira, kadang sedih. Sedihnya karena lahan kami habis, senangnya ya karena punya uang," kata Ali dalam perbincangan di tvOne, Rabu, 17 Februari 2021.

Seperti kebanyakan warga Desa Sumurgeneng, Ali juga menggunakan uang tersebut untuk membeli dua unit mobil, membeli rumah baru serta ongkos naik haji. Sebagiannya juga ditabung dan diinvestasikan dengan membeli lahan di daerah lain, sebagai ganti dari lahan yang sudah dia jual.

"Sementara baru dapat tanah di desa lain Rp3 miliar dengan luas 8.000 meter," ujarnya.

Ali mengaku belum punya rencana apa-apa setelah lahan persawahannya dijual. Sementara ini, Ia banyak menghabiskan waktunya untuk bersantai menikmati hasil menjual lahan.

"Sebelumnya saya ini petani dan punya usaha penggilingan padi. Rencana ya mau dompleng-dompleng di Pertamina, kerja kecil-kecil gitu," ungkapnya.

Lain halnya Siti Nurul, warga Desa Sumurgeneng lainnya ini langsung memborong 4 unit mobil dari uang hasil ganti rugi lahan proyek kilang minyak Pertamina.

"Saya beli 2 mobil untuk penumpang dan 2 mobil untuk kerja, L300 dan Grand Max. Yang satu untuk ditaruh di pabrik dan satu untuk keseharian," kata Siti Nurul.

Tak hanya memborong kendaraan, Nurul juga menggunakan uang ganti rugi lahan itu untuk modal usaha dan investasi. "Dari situlah kehidupan sehari-hari saya, alhamdulillah agak membaik. Dan bisa juga membangun TPA disana, alhamdulillah juga, dan bisa mendaftarkan ibu ke rumah Allah (haji)," ungkapnya.

Sementara Solikhah mengaku mendapat ganti rugi lahan sebesar Rp4,5 miliar. Bedanya, Ia gunakan uang hasil jual lahan itu untuk investasi, reksadana dan obligasi. "Ada selebihnya itu untuk modal usaha mebel. Ada sebagian untuk pendidikan anak. Jadi kita manfaatkan itu sebaik-baiknya," ujar Solikhah.

Seperti diketahui, proyek kilang minyak milik Pertamina di Kecamatan Jenu, Tuban, akan berdiri di atas lahan seluas kira-kira 900 hektare. Pembangunan kilang menghabiskan dana USD15 miliar-USD16 miliar atau setara Rp225 triliun. Dari luas lahan itu, sebanyak 529 lahan milik warga di tiga desa di kecamatan Jenu, Tuban terdampak proyek, yaitu di Desa Wadung, Kaliuntu, dan Desa Sumurgeneng.