ISIS Klaim Serangan di Burkina Faso, Sedikitnya 14 Tentara Tewas Jadi Korban

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - ISIS pada Sabtu (14/11) mengatakan telah melancarkan sebuah penyerbuan yang menewaskan 14 tentara di Burkina Faso menjelang pemilu bulan ini.

ISIS di Sahara dan sekitarnya mengatakan pihaknya yang melancarkan salah satu penyerbuan terburuk terhadap tentara itu. Klaim itu disampaikan dalam sebuah pesan yang dimuat oleh situs Amaq dan di media sosial. Demikian seperti mengutip VOA Indonesia, Senin (16/11/2020).

Kelompok itu mengatakan telah menewaskan 20 tentara yang melakukan perjalanan dalam iring-iringan kendaraan Rabu (11/11) di Tin-Akoff, di Provinsi Oudalan.

Kelompok rival, Kelompok terorisme untuk Mendukung Islam dan Muslim (GSIM) pada Jumat (13/11) telah mengklaim tanggung jawab lewat media sosial.

Seorang juru bicara pemerintah pada Kamis (12/11) menyebut jumlah korban tewas 14 orang, dan menyalahkan "kelompok teroris bersenjata."

Serangan itu terjadi di wilayah utara negara itu, dekat perbatasan dengan Mali dan Niger, dan terjadi menjelang pemilihan umum presiden dan legislatif yang dijadwalkan pada 22 November.

Serangan Ketiga Sejak Kampanye Pemilu

Kekerasan semakin meluas di Burkina Faso, setelah konflik berkepanjangan selama setahun terakhir (AP Photo)
Kekerasan semakin meluas di Burkina Faso, setelah konflik berkepanjangan selama setahun terakhir (AP Photo)

Melansir Anadolu Agency, serangan itu adalah yang ketiga yang tercatat di Sahel dan Burkina Faso tengah utara sejak dimulainya kampanye pemilu pada 31 Oktober.

"Saya telah memutuskan untuk menghentikan kegiatan kampanye saya selama 48 jam, menyusul serangan teroris di Tin-Akoff yang menyebabkan kematian beberapa tentara [...] Kekuatan dan kehormatan kepada tentara nasional kita yang berkomitmen teguh untuk mempertahankan Tanah Air," tulis Presiden Roch Kabore di Twitter pada Jumat pagi.

Kabore mengimbau warga "untuk berdoa bagi semua korban terorisme, dan khususnya putra-putra pemberani kami yang terlibat di garis depan."

Burkina Faso akan mengadakan pemilihan presiden dan parlemen akhir bulan ini, tetapi kehadiran kelompok militan telah mengganggu pendaftaran pemilih di beberapa bagian negara itu dan dapat mencegah orang memberikan suara pada hari itu.

Sebuah undang-undang baru yang kontroversial yang disahkan oleh parlemen pada Agustus - yang menyatakan bahwa suara akan dihitung terlepas dari kemampuan orang untuk mengakses TPS pada 22 November - juga memicu kekhawatiran pencabutan hak yang meluas di daerah-daerah yang sudah terpinggirkan, menurut The New Humanitarian.