Islamic State Klaim Serangan Ganda di Baghdad, Sel Tidur Hidup Lagi

Mohammad Arief Hidayat, DW Indonesia
·Bacaan 2 menit

Islamic State mengaku bertanggung jawab atas dua serangan bom bunuh diri di pusat kota Baghdad, Irak. Ledakan ganda di sebuah pasar yang sesak itu menewaskan 32 orang dan melukai 110 lainnya. Serangan ini adalah yang paling mematikan sejak tiga tahun lalu, ketika Islamic State melancarkan aksi teror di lokasi yang sama.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Irak, pelaku sempat berteriak kesakitan di tengah keramaian, yang mengundang orang berkumpul, sebelum meledakkan diri. Pelaku kedua memicu detonasi, ketika sesudahnya warga bergegas ke lokasi untuk menolong korban ledakan.

Pasar Bab al-Sharqi di Bundaran Tayaran itu sedang ramai pengunjung, menyusul berakhirnya pembatasan sosial selama hampit satu tahun menyusul wabah corona. Seorang fotografer kantor berita AFP menuturkan, darah membasuhi trotoar dan baju-baju bekas yang dijual berserakan di atas jalan.

Kementerian Kesehatan mengatakan kebanyakan korban luka saat ini sudah dipulangkan. Klaim oleh Islamic State diunggah di kanal propagandanya sendiri pada Kamis (21/1) lepas tengah malam.

Sejak takluk dalam operasi gabungan militer Irak, AS dan Kurdi pada 2017 silam, Islamic State jarang melancarkan serangan teror di Irak. Ledakan bom di Baghdad menjadi sedemikian langka, pemerintah mulai membongkar tembok antiledakan dan pos pemeriksaan di ibu kota.

Sel tidur hidup kembali

Sementara itu Presiden Barham Saleh berjanji pemerintah akan "berdiri tegak melawan upaya keji mengacaukan negara," kata dia. Paus Fransiskus, yang dijadwalkan berkunjung ke Irak Maret depan, menyebut serangan tersebut sebagai "aksi brutal." Kecaman juga datang dari AS, PBB dan Uni Eropa.

Iran juga mengecam serangan ISIS dan berjanji akan membantu pemerintah Irak "dalam pergulatan melawan terorisme dan ekstremisme," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Saeed Khatibzadeh. Menurutnya aksi teror di Baghdad diniatkan "untuk mengganggu stabilitas dan perdamaian di Irak, dan menciptakan situasi bagi kekuatan asing untuk mempertahankan keberadaannya di sana."

Bom bunuh diri berganda di Baghdad terjadi ketika Irak sedang mempersiapkan pemilihan umum. Musim kampanye biasanya menandai babak paling berdarah dalam politik Irak, dengan lonjakan kasus pemboman atau pembunuhan berencana. Serangan sebelumnya, pada 2018, juga terjadi menjelang pemilihan legislatif.

Perdana Menteri Mustafa al-Kadhimi sedianya menjadwalkan pemilu pada Juni, setahun lebih dini. Langkah itu diambil menyusul aksi protes massal yang menggoyang Irak pada 2019. Saat ini pemerintah sedang berembuk untuk menggeser jadwal pemilu ke bulan Oktober.

Militer Irak meyakini, sel tidur Islamic State kembali aktif di bagian utara, terutama di kawasan gurun atau pegunungan. Biasanya mereka membidik aparat keamanan atau infrastruktur negara. Kebangkitan IS dikhawatirkan akan makin membuat situasi politik di Irak menjadi kian tidak stabil. Saat ini Amerika Serikat hanya memiliki 2.500 pasukan di Irak yang aktif untuk pendidikan atau spionase anti-teror.
rzn/hp (rtr, ap)