Isra Miraj, Perintah Salat dan Gambaran Sidratul Muntaha

Dedy Priatmojo
·Bacaan 4 menit

VIVA‘Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,’ (QS. Al-Isra’ ayat 1)

Kutipan Surat Al-Isra' ayat 1 ini menggambarkan tentang sebuah peristiwa penting ketika Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhiwasallam (SAW) didatangi Malaikat Jibril untuk melakukan perjalanan suci menerima perintah agung, salat lima waktu. Peristiwa itu dikenal dengan Isra Miraj.

Peristiwa Isra dan Miraj terjadi di tengah periode dakwah Rasulullah di Kota Mekah. Pada masa-masa Rasulullah mengalami banyak tantangan, kecaman, cacian hingga ancaman pembunuhan dalam menyerukan agama Tauhid.

Masa-masa sulit itu semakin pedih ketika Rasulullah ditinggal wafat dua orang yang sangat dicintai Nabi, yang selalu mendukung dan membela dakwah Rasul, yakni wafatnya paman beliau Abu Thalib dan istri beliau Khadijah.

Tidak ada pendapat yang bisa memastikan kapan tanggal pastinya Isra Miraj terjadi. Namun, mayoritas ulama berpendapat Isra Miraj terjadi sebelum hijrah ke Madinah. Al-Allamah al-Manshurfuri dikutip dari Kitab Ar-Rahiq al-Makhtum (Al-Mubarakfuri) berpendapat Isra Miraj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian.

Pendapat al-Manshurfuri yang menyebut Isra Miraj terjadi pada malam 27 Rajab ini paling populer, walaupun Al- Mubarakfuri menolak pendapat tersebut karena Khadijah meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab, dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu.

Ada enam pendapat ulama yang disampaikan al-Mubarakfuri tentang waktu kejadian Isra Miraj, namun tidak ada satupun yang bisa memastikan tanggal persisnya peristiwa Isra Miraj.

Meskipun ada perbedaan pendapat soal kapan persisnya peristiwa Isra Miraj, tapi para ulama seluruhnya sepakat bahwa perintah salat lima waktu diwajibkan pada malam Isra Miraj.

Isra, secara bahasa berarti diperjalankan atau diberangkatkan. Merujuk Surat Al-Isra’ ayat 1, Rasullullah diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram (Mekah) menuju Masjid al-Aqsha (Baitulmaqdis) di Yerussalem, Palestina.

Sedangkan Miraj berarti naik menuju ke atas. Rosulullah dinaikkan Allah ke langit dunia, bahkan hingga tembus langit ketujuh, Rasulullah naik lagi ke Sidratul Muntaha, lalu dibawa naik ke Baitul Ma'mur hingga berjumpa Allah.

Ibnul Qoyyim mengatakan menurut riwayat hadist sahih dari Anas bin Malik, Rasulullah di-Isra-kan dengan jasadnya dari Masjidil Haram menuju Masjid al-Aqsha dengan mengendarai Buraq, ditemani Malaikat Jibril. Rasul singgah di al-Aqsha dan menjadi imam salat bagi para Nabi.

Rasulullah lalu dinaikkan Allah ke langit dunia. Langit pertama bertemu Nabi Adam AS dan memberi salam kepadanya. Langit kedua bertemu Nabi Yahya bin Zakaria dan Nabi Isa putra Maryam, dan memberi salam kepada mereka. Langit ketiga bertemu Nabi Yusuf dan memberi salam kepadanya.

Langit keempat bertemu Nabi Idris dan memberi salam kepadanya. Langit kelima bertemu Nabi Harun dan memberi salam kepadanya. Langit keenam bertemu Nabi Musa dan memberi salam kepadanya, dan langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim sedang menyandar di Baitulmakmur dan memberi salam kepadanya.

Kemudian Rasulullah dinaikkan lagi ke Sidratul Muntaha. Rosul naik untuk menerima perintah salat lima waktu dari Allah. Begitu istimewanya ibadah salat karena perintahnya langsung dari Allah seperti yang dikisahkan dalam peristiwa Isra dan Miraj.

Gambaran Sidratul Muntaha

Sidratul Muntaha berasal dari kata Sidrah dan Muntaha. Sidrah artinya pohon Sidr, pohon rindang sejenis Bidara (beda hakikatnya). Sedangkan Muntaha berarti tempat terakhir. Karena keindahannya, Rasulullah tidak menoleh pandangan kesana-kemari ketika berada di Sidratul Muntaha.

Diriwayatkan Ibnu Abbas, dinamakan Sidratul Muntaha karena pengetahuan malaikat puncaknya sampai di sini. Tidak ada yang bisa melewatinya, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ibnu Mas'ud diriwayatkan, dinamakan Sidratul Muntaha karena semua ketetapan Allah yang turun, pangkalnya dari tempat itu dan semua yang naik, ujungnya ada di situ.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda "Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar seperti telinga gajah dan ternyata buahnya sebesar tempayan." Dia bersabda: "Ketika dia menaikinya dengan perintah Allah, maka Sidrah Muntaha berubah. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya karena indahnya," (Sahih Muslim Nomor Hadits 234).

Dalam surat An-Najm ayat 15 disebutkan didekat Sidratul Muntaha terdapat Jannah Ma’wa, sebuah tingkatan surga yang sangat indah tiada tara yang disediakan bagi hamba Allah SWT yang bertakwa.

Redaksi lain dari Anas bin Malik, Rasulullah ketika berada Sidratul Muntaha bertanya kepada Malaikat Jibril tentang empat sungai di surga. Dua sungai yang tampak, dua lagi tersembunyi. Jibril menjawab 'Adapun dua yang tersembunyi itu ada di surga sedangkan dua yang di luar itu adalah Nil dan Eufrat' (HR Bukhori 3207).

Di Sidratul Muntaha juga Nabi Muhammad SAW melihat wujud Jibril dalam bentuk aslinya. Nabi pernah dua kali melihat rupa asli Jibril, pertama saat menerima wahyu pertama di Gua Hira dan di Sidratul Muntaha.

Adapun soal apakah Rasulullah saat menerima perintah salat itu melihat Allah SWT? Hingga kini pun masih menjadi perdebatan. Sebab, di kalangan sahabat pun berselisih soal ini. Ibnu Abbas menginyakan Nabi melihat Allah, sedangkan Ummul Mukminin Aisyah RA, Ibnu Mas'ud, Abu Hurairah menolaknya.

Bantahan soal Nabi melihat Allah SWT saat Miraj merujuk pada hadis yang diriwatkan Abu Dzar "Wahai Rasulullah apakah engkau melihat Rabbmu?" Beliau menjawab "Cahaya, bahwa aku melihat cahaya itu," (HR Baihaqi). Dalam riwayat lain , "Aku melihat cahaya" (HR Muslim).

Wallahu'alam...