Israel Berhasil Lumpuhkan Iran

Lazuardhi Utama, Editor DW Indonesia, DW Indonesia
·Bacaan 2 menit

Serangan itu dilancarkan pada hari ketika Iran mengaktifkan sentrifuga terbaru di Natanz, yang dirayakan sebagai lompatan jauh dalam upaya memperkaya uranium di dalam negeri. Pada Senin, 12 April 2021, Kementerian Luar Negeri di Teheran menuduh Israel bertanggungjawab atas insiden tersebut.

"Jawaban terhadap Natanz adalah membalas dendam terhadap Israel," kata Juru Bicara Kemenlu, Saeed Khatibzadeh. "Israel akan menerima ganjarannya sendiri nanti," tanpa memberikan rincian.

Iran melaporkan, sistem pengendali pembangkit listrik yang menyuapi laboratorium uranium dan bengkel kerja di Natanz dipadamkan paksa pada Minggu pagi, 11 April 2021. Akibatnya alat pemusing atau sentrifuga IR-1 yang baru dipasang mengalami kerusakan. Khatibzadeh tidak merinci kerusakan yang terjadi atau menampilkan bukti visual.

Dalam kesempatan terpisah, Menlu Iran Mohammad Javad Zarif, memperingatkan Natanz akan dibangun ulang dengan teknologi pemerkaya uranium yang lebih maju. Pernyataan itu dikhawatirkan bakal membahayakan jalannya perundingan untuk menentukan nasib Perjanjian Nuklir Iran di Vienna, Austria.

"Kaum Zionis ingin membalas dendam terhadap bangsa Iran atas keberhasilannya mengupayakan pencabutan sanksi," kutip kantor berita pemerintah, IRNA. "Tapi kami tidak membiarkan dan akan membalas dendam terhadap kaum Zionis atas serangan ini."

Sejauh ini Israel enggan mengonfirmasikan tuduhan tersebut. Namun, media-media Israel ramai melaporkan operasi yang digalang dinas rahasia Mossad itu. Pada hari terjadinya serangan di Natanz, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin. Dia berjanji akan menggunakan semua cara untuk menghentikan perjanjian nuklir.

"Pergulatan melawan Iran dan proksinya, serta upaya Iran mempersenjatai diri adalah misi yang besar," kata dia.

Natanz simbol kemajuan teknologi nuklir Iran

Serangan terhadap Natanz antara lain dikabarkan oleh stasiun televisi Israel, Channel 12, yang mengutip "para pakar" tentang bagaimana serangan itu melumpuhkan salah satu bagian di fasilitas nuklir.

Bukan kali pertama pembangkit nuklir di Natanz mengalami aksi sabotase. Pada 2010, sebuah virus komputer bernama Stuxnet melumpuhkan sentrifuga di Natanz. Serangan itu diyakini merupakan operasi gabungan Israel dan Amerika Serikat. Hingga kini, fasilitas nuklir di provinsi Isfahan itu masih menjadi episentrum kekhawatiran Israel.

Pada Juli 2020, pemerintah Iran melaporkan ledakan misterius pada salah satu sentrifuganya yang sekaligus merusak fasilitas pemerkaya uranium di Natanz. Iran kini membangun fasilitas kedua di perut gunung. Teheran juga menuduh Israel bertanggungjawab membunuh seorang saintis yang mengepalai program nuklir Iran.

"Sulit bagi saya mempercayai bahwa pemadaman paksa di Natanz adalah semata kebetulan," kata Yoel Guzanksy, peneliti di Institut Keamanan Nasional di Tel Aviv. "Jika bukan kebetulan, maka ada yang ingin mengirimkan pesan bahwa 'kami bisa membatasi upaya Iran dan kami menetapkan batasasannya.'"

Serangan itu menurutnya juga memberikan isyarat kuat bahwa situs nuklir paling sensitif di Iran sekalipun "bisa dijebol," imbuhnya.

Di Israel, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin berusaha meyakinkan Netanyahu terkait pentingnya perjanjian nuklir Iran. Presiden AS Joe Biden berniat menghidupkan kembali kesepakatan yang membatasi akses Iran terhadap uranium itu setelah dicabut oleh bekas Presiden Donald Trump.

Pemerintah Israel meyakini perjanjian nuklir yang dibatasi sekalipun tetap mampu menyediakan tameng bagi Iran untuk mengembangkan senjata nuklir secara diam-diam. rzn/ha (ap, rtr)