Israel Ekspor Sejumlah Produk ke Negara Teluk, Ini Respons Palestina

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Tel Aviv - Sebagai bentuk perjanjian damai dengan sejumlah negara Arab yang ditengahi oleh Amerika Serikat, Israel mulai mengekspor buah-buahan, minyak zaitun dan anggur ke Uni Emirat Arab.

Sebagian produsen Israel itu berbasis di Tepi Barat yang sebut Palestina bagian dari negara Palestina kelak, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Jumat (5/2/2021).

Pemimpin permukiman Yahudi, Israel Ganz, mengawasi perbukitan di Tepi Barat, yang dalam Alkitab disebut Yudea dan Samaria, di mana minuman anggur sudah dibuat selama ribuan tahun.

"Anggur satu-satunya buah di mana kita bisa merasakan lahan (tanah). Di sini di Yudea dan Samaria akar anggur tertanam sangat dalam, kita bisa merasakan akar sejarah, dan menjadikannya anggur terbaik di dunia, dari sejarah, tradisi, tanah, tanah suci," jelas Israel Ganz.

Pabrik minuman anggur Psagot di permukiman Yahudi, letaknya hanya beberapa kilometer dari kota Ramallah, Palestina. Anggur dari sana akan segera diekspor ke Uni Emirat Arab (UEA).

Pro Kontra

Seorang pria membaca salinan surat kabar The National dengan tajuk utama tentang perjanjian UEA-Israel di dekat Burj Khalifa, Dubai. (AFP/Giuseppe Cacace)
Seorang pria membaca salinan surat kabar The National dengan tajuk utama tentang perjanjian UEA-Israel di dekat Burj Khalifa, Dubai. (AFP/Giuseppe Cacace)

Yakov Berg dari pabrik anggur Psagot menyambut baik perjanjian damai dengan UEA, yang disebut Perjanjian Ibrahim atau Abraham Accord. Ia mengatakan, Ibrahim adalah nenek moyang bersama orang Yahudi dan Arab.

"Kita tinggal di... sebut saja, lingkungan yang sama. Ketika tetangga saya datang, yang pertama kali saya berikan adalah anggur saya. Dalam tradisi Yahudi, Ibrahim mencerminkan tenda di tempat terasing, yang terbuka bagi siapa saja, setiap tamu bisa masuk," komentar Yakov.

Ketika anggur Psagot diekspor ke Eropa, Uni Eropa memberinya label "Buatan Tepi Barat".

Tapi di Uni Emirat Arab, produk-produk permukiman Yahudi hanya diberi label "Buatan Israel". Tindakan ini membuat marah warga Palestina.

"Saya menganggap Uni Emirat Arab menyambut apa saja terkait pemerintahan sayap kanan Israel untuk menyenangkan Amerika. Mereka sudah melakukan lompatan pertama dengan perjanjian normalisasi sendiri, dan saya kira begitu itu dilakukan, upaya mereka sudah berlebihan untuk menunjukkan kepada Amerika bahwa mereka tidak segan mendukung sekutu utama Amerika di kawasan ini, Israel," kata Sam Bahour, pengusaha Palestina.

Sejak Perjanjian Ibrahim ditandatangani September lalu, 150 ribu warga Israel telah mengunjungi Uni Emirat Arab. Sejumlah kesepakatan bisnis bernilai jutaan dolar telah ditandatangani.

Eliav Benjamin, kepala biro Timur Tengah, Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan, "Yang kita saksikan dalam pembentukan hubungan-hubungan dengan Uni Emirat Arab ini, contohnya, adalah pada akhirnya pemahaman antar bisnis. Jika ada produk baik dari Israel dan ada pasar yang tertarik, silakan saja."

Pasar Uni Emirat Arab antusias dengan ekspor Israel, termasuk produk-produk dari permukiman di Tepi Barat, bahkan ada pembicaraan untuk membentuk jalur untuk mengirim barang-barang Israel ke Uni Emirat Arab.

Warga Israel yakin perdagangan akan terus meluas meskipun ada kampanye internasional untuk memboikot produk mereka, yang didukung Palestina.

Simak video pilihan di bawah ini: