Israel Klaim Buka Pabrik Daging Buatan Lab Pertama di Dunia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Rehovot - Teknologi semakin canggih sebagai perwujudan dari inovasi yang terus berdatangan. Kini teknologi pangan pun makin unjuk gigi terhadap hasil eksperimennya. Salah satunya, rekayasa laboratorium di Israel. Pabrik bernama "Future Meat Technologies" berhasil membuat daging sintetis yang mulai berproduksi saat ini.

Melansir New Atlas pada Selasa (29/6/2021), perusahaan lokal di Israel ini diklaim sebagai fasilitas produksi industri pertama di dunia untuk daging budidaya atau hasil olahan laboratorium. Lalu memanfaatkan peluang untuk meningkatkan operasionalnya.

Di samping itu, teknologi daging sintetis saat ini sedang berkembang pesat. Di mana pabrik merintis usaha dari memproduksi daging babi basah dan bertahan sekitar satu dekade lalu. Kemudian beralih ke steak iga potongan tebal pada tahun 2021.

Sebagian besar produk mengikuti salah satu dari dua metodologi, baik menggunakan produk nabati/tanaman sebagai bahan produksi. Lalu seperti daging sapi dan babi dari startup Impossible Foods, sampai membuat sel yang diperoleh dari hewan hidup.

Sel-sel ini dipelihara dengan hati-hati dalam bioreaktor dan diberi nutrisi yang sama seperti hewan hidup. Dengan begitu akan memungkinkan sel untuk tumbuh dan berkembang biak sampai mereka berkembang menjadi potongan daging sintetis yang dapat dimakan.

Solusi untuk Masalah Lingkungan

Starbucks Indonesia menyajikan pilihan menu makanan dan minuman berbahan dasar nabati untuk memulai gaya hidup sehat (Foto: Starbucks Indonesia)
Starbucks Indonesia menyajikan pilihan menu makanan dan minuman berbahan dasar nabati untuk memulai gaya hidup sehat (Foto: Starbucks Indonesia)

Banyak perusahaan rintisan (start up) yang berlomba untuk mengkomersialkan teknologi ini. Akan tetapi, semuanya sedikit berbeda dalam hal pendekatan. Dengan begitu, mereka berharap dapat memberikan solusi untuk masalah lingkungan dan etika yang mengaburkan produksi daging modern.

Future Meat Technologies dapat mengubah sel hewan menjadi bagian yang dapat dimakan menggunakan metode miliknya sendiri. Proses tidak melibatkan modifikasi genetik dan mengurangi limbah secara lebih efisien dan dipercaya menghasilkan 10 kali lebih tinggi dari standar industri.

Proses tersebut menghasilkan 80 persen lebih sedikit emisi gas rumah kaca, menggunakan 99 persen lebih sedikit lahan dan 96 persen lebih sedikit air tawar daripada produksi daging biasa.

Perusahaan akan menguji teknik ini di Kota Rehovot, Israel. Pabrik akan memiliki kapasitas untuk memproduksi 500 kg (1.100 lb) daging sintetis ayam, babi dan domba setiap hari, yang setara dengan sekitar 5.000 burger.

Selain itu mereka akan meluncurkan daging sapi yang masih dalam proses. Saat ini sekitar 4,7 lb (2,1 kg) daging dihasilkan dari setiap ayam di AS, jadi produksi harian fasilitas tersebut setara dengan sekitar 250 ayam.

Burger pertama yang diproduksi di laboratorium menelan biaya lebih dari US$300.000 (Rp 4.360.500.000,-) pada produksi tahun 2013. Perlahan-lahan statistik penjualan pabrik mulai ada peningkatan. Sehingga, Future Meat Technologies menjadi pabrik yang memproduksi dada ayam sintetis dengan harga $3,90 per potongan (Rp 56,686,-).

"Daging sintetis dapat mencapai harga paritas lebih cepat daripada harga pasar," ungkap Yaakov Nahmias, pendiri dan Kepala Ilmiah Future Meat Technologies.

"Tujuan kami adalah membuat daging budidaya terjangkau untuk semua orang, sambil memastikan produk buatan kami menghasilkan makanan lezat yang sehat dan berkelanjutan. Terlbih lagi membantu mengamankan masa depan generasi mendatang," pungkasnya.

Reporter: Bunga Ruth

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel