Israel serang sasaran Jihad Islam di Jalur Gaza kendati ada gencatan senjata

Kota Gaza (AFP) - Israel melancarkan serangan baru terhadap sasaran Jihad Islam di Jalur Gaza, kata militer pada Jumat, sehingga membuat lemah gencatan senjata yang diberlakukan setelah pertempuran pekan ini menewaskan 34 orang Palestina.

Gencatan senjata itu dimulai Kamis pagi (14/11), setelah dua hari kerusuhan mematikan di Jalur Gaza, yang dipicu oleh serangan Israel terhadap seorang komandan Jihad Islam.

Tapi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan di dalam satu pesan WhatsApp kepada wartawan bahwa serangan baru pada malam hari dilancarkan terhadap Jihad Islam, kelompok gerilyawan Palestina paling tangguh kedua di Jalur Gaza setelah HAMAS.

"IDF saat ini menyerang sasaran ... Jihad Islam di Jalur Gaza," katanya.

Serangan tersebut dilancarkan setelah lima roket ditembakkan ke Israel dari Jalur Gaza --juga setelah gencatan senjata diberlakukan-- dan dua di antaranya dicegat oleh pertahanan udara, kata militer.

Sepanjang hari Kamis, kehidupan normal telah berlanjut dengan tenang di wilayah Israel di dekat perbatasan Jalur Gaza, sementara di Jalur Gaza, warga juga telah kembali ke kondisi yang relatif tenang.

"Kami menghadapkan perdamaian, kami tak ingin perang," kata Mahmoud Jarda, seorang warga daerah kantung tersebut.

Gencatan senjata yang diperantarai oleh para pejabat Mesir dan PBB, penengah biasa antara Jalur Gaza dan Israel, disepakati saat peningkatan konflik menaikkan kekhawatiran mengenai konflik baru habis-habisan di wilayah itu.

Peningkatan konflik meletus pada Selasa pagi (12/11), saat Israel melancarkan pembunuhan terarah seorang komandan Jihad Islam, Baha Abu Al-Ata --yang dituduhnya berada di belakang serangan roket dan serangan lain.

Kerusuhan itu terjadi saat sensitif secara politik buat Israel, sementara tak ada pemerintah yang berfungsi sejak pemilihan September berakhir dalam kebuntuan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Abu Al-Ata "tewas bersama puluhan" gerilyawan setelah serangan terhadap rumahnya. Ia menambahkan, "Musuh kita menerima pesan: Kita dapat menjangkau siapa saja, bahkan di ranjang mereka."

Serangan tersebut memicu serangan roket pembalasan yang nyaris seketika dari Jihad Islam ke Israel, sehingga sirene peringatan serangan udara berkumandang dan mengirim orang Israel bergegas ke tempat perlindungan bom di wilayah tengah dan selatan negeri itu.

Militer Israel telah mengatakan sebanyak 450 roket telah ditembakkan ke wilayahnya sejak Selasa pagi dan pertahanan udara telah mencegat puluhan di antaranya sehingga menciptakan bola api di angkasa.

Tak ada orang Israel yang tewas, kendati satu roket nyaris mengenai mobil yang sedang melaju di satu jalan raya sibuk. Petugas medis Israel mengatakan mereka hingga Rabu (13/11) telah merawat 63 orang yang menderita luka sedang dan stress.

Israel membalas dengan serangan udara, dan menyatakan militer membidik lokasi gerilyawan Jihad Islam dan skuadron peluncur rudal dan roket.

Jihad Islam telah mengatakan beberapa anggotanya lagi termasuk di antara orang yang tewas dalam perang pekan ini.

Para pejabat Palestina mengatakan delapan anggota keluarga yang sama, termasuk lima anak kecil, tewas dalam satu serangan Israel di Deir Al Balah di bagian tengah Jalur Gaza.

Militer Israel mengatakan pria tersebut, yang menjadi sasaran dan tewas dalam serangan, adalah komandan unit roket Jihad Islam.

"Dia, seperti banyak orang lain, memiliki taktik menyembunyikan amunisi dan prasarana militer di kediaman mereka sendiri," kata Juru Bicara militer Jonathan Conricus.

"Tentu saja kami selalu berusaha mengurangi jumlah korban tewas atau cedera di pihak orang yang bukan petempur."

Tapi keluarga, tetangga dan seorang juru bicara Jihad Islam membantah bahwa ia anggota milisi tersebut, dan sebagian mengatakan ia sebelumnya telah bekerja sebagai perwira polisi militer di Pemerintah Otonomi Palestina (PA).

Pegawai PA tidak bekerja di Jalur Gaza sejak HAMAS mengambil-alih pada 2007 tapi terus menerima gaji.

"Ini adalah kejahatan," kata tetangganya, Adan Abu Abdallah. "Kali membunuh anak-anak yang tak bersalah, yang sedang tidur di dalam rumah."

Tidak biasanya, Israel telah menyebut nama Jihad Islam dan bukan menganggap --kelompok yang menguasai Jalur Gaza-- bertanggung-jawab aas kerusuhan tersebut.

Banyak pengulas Israel mengatakan itu adalah tanda jelas bahwa militer Israel berusaha menghindari konflik yang lebih luas di Jalur Gaza, tempat Israel dan Palestina telah terlibat tiga pertempuran sejak 2008.

HAMAS telah berulangkali mengatakan kelompok tersebut takkan meninggalkan sekutunya, tapi keputusannya untuk tidak bergabung dalam pertempuran itu membantu memelihara gencatan rapuh yang telah menyaksikan jutaan dolar dalam bantuan Qatar mengalir ke daeran kantung miskin Jalur Gaza sejak tahun lalu.

Seorang pejabat Mesir mengatakan gencatan senjata tersebut telah mencakup satu kesepakatan bahwa kelompok gerilyawan Palestina bekerja untuk mencegah kerusuhan oleh demonstran selama protes mingguan di dekat pagar perbatasan.

Israel tidak mengomentari klaim itu.

Netanyahu tidak mengomentari secara terbuka gencatan senjata tersebut, tapi telah memperingatkan sehari sebelumnya bahwa Jihad Islam harus menghentikan serangan roketnya atau "menerima pukulan demi pukulan".

Ia menambahkan bahwa Israel tidak menginginkan peningkatan lebih jauh tapi, jika perlu, siap menanggapi "tanpa belas kasihan".