Israel Tembak Mati Tujuh Anak Palestina, Orangtua Minta Keadilan

Ezra Sihite, ABC Indonesia
·Bacaan 4 menit

Spanduk-spanduk bergambar Ali Abu Alia dipasang di atas rumah yang sedang berduka.

Kursi plastik berwarna putih di bawah pohon zaitun berada di halaman rumah bagi para tamu yang datang untuk mengucapkan duka atas kematian remaja pria berusia 15 tahun tersebut.

Ali ditembak dan meninggal di sebuah desa kecil di Tepi Barat, hanya sekitar 200 meter dari rumahnya, tanggal 4 Desember lalu.

Ali adalah remaja kelima yang ditembak mati oleh tentara Israel dalam tiga pekan dan orang kedua dari desanya, yakni Al Mughayyir, yang meninggal dalam dua tahun terakhir.

Ali ditembak di bagian perutnya ketika terjadi konfrontasi antara tentara dan warga desa Palestina.

A little boy in jeans and a t-shirt with his arms crossed over his chest
A little boy in jeans and a t-shirt with his arms crossed over his chest

Ali Abu Alia meninggal 4 Desember lalu bertepatan di ulang tahunnya yang ke-15.

Koleksi pribadi

Bentrokan telah menjadi pemandangan yang umum sejak pemukim Yahudi mendirikan sebuah bangunan di perbukitan di dekat desa itu

Warga desa melemparkan batu dan membakar ban mobil dan tentara Israel membalas dengan tembakan gas air mata dan peluru karet.

Ali datang untuk mengundang teman-temannya merayakan ulang tahun

Ayah Ali, Ayman Suleiman, mengatakan anaknya berjalan ke arah kumpulan pengunjuk rasa untuk melihat apa yang terjadi sambil mengundang teman-temannya untuk menikmati kue ulang tahunnya di rumah.

"Ali hanya melihat para tentara itu, dia bukan ancaman bagi mereka," kata Suleiman.

"Ali ditembak dengan senjata berperedam suara, senjata yang dilarang penggunaannya secara internasional.

"Dia jatuh tersungkur dan teman-temannya tidak tahu apa yang terjadi padanya, namun dia mengalami pendarahan dalam."

A white star of David statue sits on open land with a city in the background.
A white star of David statue sits on open land with a city in the background.

Ali merupakan remaja kedua yang tewas di tangan militer Israel di desa Al Mughayyir.

ABC News: Eric Tlozek

Militer Israel (IDF) mengatakan mereka menghadapi "kerusuhan dengan kekerasan" di desa tersebut dan mengakui telah menggunakan peluru tajam.

"Belasan perusuh melemparkan batu ke arah IDF dan polisi perbatasan, serta berusaha menggulingkan batu besar dan membakar ban mobil dari perbukitan ke arah jalan Alon, sehingga membahayakan pengguna jalan," demikian pernyataan tertulis IDF kepada ABC.

"Polisi militer sudah melakukan penyelidikan mengenai insiden tersebut. Temuannya akan diserahkan kepada Advokat Militer."

Tujuh remaja tewas ditembak Israel di tahun 2020

Menurut kelompok hak asasi manusia, Israel B"Tselem, Ali Abu Alia adalah remaja Palestina ketujuh yang tewas di tangan militer Israel di tahun 2020.

A woman in a pink headscarf grips her chest and sobs at a funeral
A woman in a pink headscarf grips her chest and sobs at a funeral

Sanak keluarga meratapi kematian Ali Abu Alia di desa al-Mughayyir di dekat Ramallah di Tepi Barat bulan Desember 2020.

Reuters: Mohamad Torokman

"Selama bertahun-tahun, Israel telah menerapkan kebijakan tembakan terbuka yang melanggar hukum dan ceroboh di Tepi Barat," kata lembaga tersebut.

"Kebijakan ini sepenuhnya didukung oleh pemerintah, militer dan pengadilan, tanpa mempedulikan jika tembakan itu berakibat fatal."

Menurut harian Israel Ha"aretz, 127 remaja terluka akibat peluru karet dan 28 orang karena peluru tajam.

Komisioner Hak Asasi Manusia di PBB mengatakan empat remaja ditembak mati di Tepi Barat dalam waktu dua minggu sebelum kematian Ali, dua di antaranya ditembak dengan peluru tajam.

Dua sedang dirawat di ICU, satu dengan tempurung kepala pecah dan seorang lagi kehilangan salah satu matanya.

IDF membantah menggunakan peluru tajam dalam dua insiden tersebut dan mengatakan bahwa mereka mengetahui laporan seorang remaja cedera dalam insiden lainnya.

Namun kalaupun ada penyelidikan, kelompok HAM mengatakan jarang sekali berujung pada hasil yang memenuhi rasa keadilan.

"Mengapa mereka melakukan kami seperti ini?"

Malek Issa (9 tahun) baru kembali dari sekolah di bulan Februari 2019 ketika ditembak di bagian kepala oleh polisi perbatasan di Yerusalem Timur.

Penembakan terjadi di sebuah ruas jalan yang ramai di depan beberapa saksi mata dan juga kamera CCTV.

Setelah penyelidikan selama 10 bulan, pihak penuntut Israel memutuskan untuk mengenakan tuduhan terhadap petugas yang melepaskan tembakan.

A small boy and a man on a balcony
A small boy and a man on a balcony

Malek (kiri) kehilangan satu matanya dan mengalami luka-luka di kepala ketika ditembak oleh polisi perbatasan Israel di Yerusalem Timur.

ABC News: Eric Tlozek

"Keputusan itu sangat memalukan," kata pengacara Malek Issa, Ilanit Kirschenboin kepada ABC.

"Menurut polisi, tidak ada bukti sama sekali dan kasusnya ditutup."

Polisi Perbatasan Israel tidak menjawab pertanyaan mengenai penembakan Malek atau penggunaan kekerasan terhadap anak-anak.

Malek menderita banyak cedera di bagian kepala dan kehilangan salah satu matanya.

Dia sekarang masih merasa kesakitan dan mengalami masalah psikologis.

"Kadang dia merasa tertekan sampai menangis, kadang dia mengatakan kepada saya "aku mau mati" jadi saya tidak bisa meninggalkannya sendirian," kata ayahnya, Wael Issa.

A boy with dark eyes and hair stares at the camera.
A boy with dark eyes and hair stares at the camera.

Malek menggunakan mata palsu dari kaca setelah ditembak dengan peluru karet pada bulan Februari 2019.

ABC News: Eric Tlozek

Cedera yang dialami Malek mendapat pemberitaan luas di Israel dan banyak orang menyampaikan kecaman mereka.

"Anda tahu berapa banyak warga Israel yang mendatangi Malek di rumah sakit? Warga Arab dan warga Israel. Apa yang terjadi pada Malek adalah hal yang menyedihkan bagi banyak orang," kata Wael Issa.

"Polisi mengatakan kepada saya, itu sebuah kesalahan, tidak seorang pun bermaksud mencederai anak saya. Wali Kota Yerusalem datang dan memeluk saya, dia mengatakan ini tindakan yang tidak disengaja dan dia akan memastikan keadilan ditegakkan."

Keluarga Malek masih bertanya-tanya mengapa polisi penembak itu tidak diadili.

"Ini tidak benar sama sekali," kata Wael.

"Mengapa mereka memperlakukan kami seperti ini. Polisi itu tidak hanya menembak Malek, dia juga telah menghancurkan kehidupan seluruh keluarga kami."

"Polisi tidak bisa mengembalikan mata Malek, namun paling tidak dia bisa bertanggung jawab dan memberi keadilan kepada kami."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dan lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini